Friday, April 5, 2019

Berserikat Menangkan Jokowi Amin di NTB


I Gusti Putu Ekadana Bersama Alumni dan Tim Milineal NTB 

Oleh: I Gusti Putu Ekadana

Pemilu 2019 adalah pemilu elektoral yang menguras tenaga dan pikiran untuk menjaga kenusantaraan kita dalam bingkai Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bineka Tunggal Ika terus menjadi sebuah paham yang akan terus hidup dalam manusia-manusia Indonesia.

Sukarno pernah berkata: "dimasa kebangsaan, maka sebenarnya tiap tiap orang harus menjadi guru/ menjadi pemimpin, menjadi pahlawan politik, menjadi guru masa yang mendengarkan pidatonya, pemimpin taktik perjuangannya; jurnalis menjadi gurunya, bedrifabidera menjadi gurunya, pegawai pegawai yang di bawahnya menjadi gurunya, mas lurah menjadi gurunya, tukang kopi menjadi gurunya, semua orang menjadi gurunya semua orang.

Ajaran sukarno ini tampaknya sudah asing dalam jiwa jiwa anak bangsa karna selama 32 tahun terus di hancurkan melalui dokma dokma  yang di susup imprialisme lewat inlinder (centreng) nya di dalam negri.

Puji sukur kehadirat Tuhan yang maha kuasa, tuhan telah mengirim seorang Jokowi sebagai anak idioliginya Sukarno yang tegar dan terus berjuang menghidupkan kembali akar sejarah kita sebagai bangsa yang punya karakter, menghidupkan  kembali cita-cita para pendiri bangsa ini, serta mengingatkan akar sejarah kita sebagai bangsa besar.

Pergerakan dan dinamika sejarah sebagai bangsa mendapatkan ujian pada titik nadir, dan untungnya Pilkada Jakarta menyadarkan kawan-kawan serikat dan organisasi keagamaan yang berpaham *Islam rahmatan lil alamin* seperti Nahdatul Ulama (NU)dan untung cepat tersadar. 

Nahdatul Ulama (NU) telah menunjuk-kan idiologis dan komitmennya dengan memimpin gerakan penyelamatan Negara Bangsa dan mengirim kader terbaiknya nya bpk KH. Ma'ruf Amin sebaga calon wapresnya bpk Jokowi. Selakyaknyalah rakyat Indonesia mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya ke Nahdatul Ulama (NU), karna jika bukan karna Nahdatul Ulama (NU) kita sudah menjadi Suriah, kita sudah menjadi Negara antah barantah.

Gerakan ini harus di sambut oleh semua daerah-daerah terutama daerah yang Secara geografis agak jauh dari pusat Nahdatul Ulama (NU)yang di mana sentralnya di pulau Jawa.

Karna sesuai release Lembaga Survai hampir semuanya memenangkan pasangan 01 (Jokowi-Amin).

Lalu di NTB bagaimana sikap kita...???
NTB Sebagai daerah yang selama ini dikenal dengan daerah yang merawat pluralismenya dimana semua etnis, agama, dan suku hidup rukun karna organisasi keagamaan lokal sepeti Nahdatul Wathon, Athohiriah Al Fadliah, Darul Yatama Walmasakin, Marakit,  dan pesantren tua lainnya telah mengajarkan akan kerukunan antar umat beragama selayaknyaknyalah bergandengan tangan dengan organisasi keagamaan nasional seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiah dalam menjaga pluralisme.

Dengan tergabungnya Atohiriah fadliah akan menjadi gerakan dan kekuatan besar bersama Nahdatul Wathon (NW) maupun marakit yang telah terlebih dahalu menyatakan sikap menyelamatkan Negara Bangsa dengan memenangkan Jokowi-Amin.

Kesadaran  kaum nasionalis dan kaum gerakan harus mengorganisasikan masyarakat untuk membuat serikat-serikat yang idioligis, sehingga gerakan politik elektoral ini menjadi geragakan yang terorganisir dan paham kebangsaan yang berkhosivitas dengan wahyu dan nilai-nilai luhur dalam ajaran keagamaan kita.

Ketika organisasi keagamaan dan serikat-serikat idiologis ini berkhoesivitas maka menjadi rasional kita akan memenangkan pilpres untuk Jokowi-Amin 80% di NTB.

Organisasi keagaman berperan menjaga moral politik, dan serikat-serikat maju ini harus mengkompanyekan pemilu idiologis, meletakkan kedaulatan kita sebagai negara bangsa, meletakkan pemilu kita pada mengembalikan haluan ekonomi kita seperti yang tertuang dalam konstitusi kita pasal 33 UUD 1945 " Bumi air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di pergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat".

Jika sudah  gerakan moral dan gerakan idiologis bersatu, bergandengan tangan, masyrakat adil makmur, Indonesia maju kongkrit kita akan songsong menjadi masa depan kita sebagai negara bangsa.

*Hidup Indonesia, hidup pri kemanusian.*

*Penulis adalah Kordinator Dewan Pengarah For One Milleneal (F1M) NTB. (***)

No comments:

Post a Comment