Trik Selamatkan Ponpes, Ala Zaidi Abdad Di Era Digital


 

LOTENG (Postkotantb.com)-FC Tantangan Pondok Pesantren (Ponpes) di Era Digitalisasi amat keras.

Kerasnya tantangan tersebut, membuat dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang sekaligus Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) NTB, melahirkan trik jitu guna menjaga Marwah ponpes dan mampu bersaing di tengah digitalisasi saat ini.

Saat acara Milad Ponpes Darul Khaer Semarang Kelurahan Prapen Kecamatan Praya Lombok Tengah (Loteng), Kepala Kanwil Kemenag NTB Dr. KH Zaidi Abdad membeberkan trik menjaga Marwah Ponpes dan bertahan ditengah kemajuan zaman saat ini.

Ponpes harus mampu menjiwai dan menerapkan tradisi latar belakang dan tujuan didirikannya ponpes, dimana ponpes adalah lembaga tempat mengaji dan mengkaji kitab kitab salafi. Sehingga nantinya, pembelajaran peninggalan para salafussoleh, bisa terjaga dengan baik.

"Kenapa saya menekankan untuk menerapkan hal itu,. Biar kita tetap Istiqomah untuk mengambil berkah, sebab sekarang sudah ada ponpes yang kurang menerapkan atau mengkaji kitab kitab salafi," ungkapnya.

Ponpes harus mandiri, artinya ponpes tidak hanya mengandalkan uluran dari pemerintah. "Banyak cara jika kita ingin maju," cetusnya.

Salah satunya berwirausaha, mulai dari mengajarkan santri bercocok tanam, terutama dibidang perkebunan. Sehingga nantinya hasil dari perkebunan tersebut bisa dipasarkan dan itu memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan ponpes kedepannya. Seperti yang dilakukan Ponpes Tohir Yasin Kecamatan Masbagek Lotim.

"Sekarang ponpes Tohir Yasin sudah ditunjuk mewakili NTB ditingkat nasional, dalam lomba ponpes kreatif, terutama dibidang berwirausaha," katanya.

Selain itu, selain menguasai kitab kitab salafi, nantinya para santri setelah lepas nyantri bisa menerapkan ditengah masyarakat, dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat.

"Pak menteri sendiri juga telah melahirkan program ponpes kreatif dibidang berwirausaha, dalam rangka meningkatkan perekonomian ala ponpes," sambungnya.

Ditambahkan, kenapa Santri dituntut untuk bisa berwirausaha sebab, saat ini kita sedang dihadapkan dengan tekhnologi. Artinya dengan kecanggihan teknologi hasil berwirausaha ala ponpes bisa dipromosikan, sehingga nantinya di samping mahir dalam kitab salafi, ponpes juga terkenal melahirkan santri yang ahli berwirausaha.

"Pada intinya, bapak menteri ingin lulusan ponpes, bisa dipakai dalam apapun," tutup Kepala Kanwil Kanmenag NTB. (AP)