Lombok Utara, (poskotantb.com) - Acara bedah buku karya Agus Hero Purnomo dengan tema 'Memahami dan Menilai Resiko Bencana dibuka oleh Wakil Bupati (Wabup) Lombok Utara Danny Karter Febrianti Ridawan, Sabtu (05/02/2023).

Acara yang bertempat di Desa Wisata Taman Fantasi Telaga Wareng Pemenang Barat ini, dihadiri Kepala Pelaksana BPBD KLU Zaldi Rahadian, Plt. Kadis Perpustakaan dan Arsip KLU Kawit Sasmita, Ketua Bara Siaga Hadi Fatahillah, Ketua HWDI NTB Sri Sukarni, NGO Siap Siaga Anggraini Puspitasari serta para tamu undangan.


Dalam sambutannya Wabup menyampaikan bahwa buku karya Memahami dan Menilai Resiko Bencana karya Agus Heri, memiliki manfaat yang baik bagi masyarakat.

"Buku bisa dijadikan bacaan dan literasi. Buku ini juga disajikan dengan lengkap dan baik, serta menampilkan data-data autentik dari bencana dan cara penanggulangannya serta dilengkapi dengan gambaran kondisi geografis Lombok Utara," kata Wabup.

Buku ini, lanjutnya, berisi fakta-fakta di lapangan sehingga membuat masyarakat lebih antisipatif atau waspada terhadap bencana yang terjadi.

Danny berharap dengan terbitnya buku ini dapat menambah khasanah ilmu dan  bisa dibaca oleh segala usia. Mengingat literasi tentang kebencanaan juga penting di ajarkan pada usia dini atau Sekolah Dasar.


Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD KLU saat menjadi Keynote Speaker menuturkan menurut data BNPB di tahun 2022 di Indonesia telah terjadi 3.500 bencana, 50 persen bencana banjir.


Zaldi mengatakan masyarakat khususnya di Lombok Utara yang pada 2018 silam pernah diguncang gempa. Sehingga diharapkan masyarakat lebih waspada dan mengantisipasi jika terjadi potensi-potensi keadaan alam yang tidak biasa.

"Diharapkan masyarakat Lombok Utara tidak boleh tinggal diam dalam mengatasi bencana. Agar jika terjadi bencana, masyarakat Lombok Utara dapat mengantisipasi serta lebih waspada," ucapnya.

Sementara Ketua Bara Siaga menuturkan acara bedah buku ini bisa menjadi bagian literasi yang dapat disebarkan kepada masyarakat bahwa Lombok Utara menjadi tempat yang rentan terjadi bencana dan menjadi pokok pemecahan maslah serta tempat pemberian penanganan bencana.

"Barisan Relawan Siaga Bencana (Bara Siaga) sendiri telah banyak melakukan kegiatan Emergency Respond yang bekerjasama dengan Tim SAR dalam membantu aktivitas pertolongan dan penanganan bencana," kata Hadi.


Agus Heri selaku penulis menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya berisi 7 BAB yang mana secara substansial tidak hanya menjelaskan konsep ancaman bencana, kerentanan kapasitas dan teoritis. Namun buku ini juga berisi bagaimana memahami dan menilai resiko bencana serta memuat contoh kejadian bencana pada masa lampau secara global.

"Buku ini sebagai cara pandang alternatif untuk membuka wawasan serta pola pikir masyarakat agar lebih waspada dalam menghadapi bencana. Tentunya buku ini juga dapat menumbuhkan sifat inisiatif agar selalu menjaga dan melestarikan lingkungan," ujar Agus. (@ng)