H Zulkieflimansyah diacara Manusa Yadnya Otonan (6 Bulanan,red) Cucu dari Mangku Gede Wenten, belum lama ini.

Sore itu, Mangku Gede Wenten di Kediamannya, tengah duduk bersandar di kursi plastik di teras rumahnya, yang beralamat di Jalan Sawo Nomor 8 Pamotan Mayura, Cakranegara, Kota Mataram, sambil ngobrol hal-hal ringan bersama sang istri dan menantu.

Tampak dari wajah tokoh legendaris politik ini rasa ketenangan hati dalam menjalani rutinitas kesehariannya pasca diangkat menjadi seorang pemangku. Namun lambat laun, pandangannya menengadah ke atas, seakan tengah berfikir tentang sesuatu.

"Ayok di berugak, kita ngobrol di sana sambil ngopi begela'- gela'," ucap Mangku Gede Wenten dengan ramah dan senyum, menyambut kedatangan kami sebagai awak media dikediamannya beberapa hari lalu.

Sesaat setelah kami duduk di Berugak khasnya dengan enam tiang (Sekenem, red), Mangku Gede Wenten berbicara lepas sambil menikmati kopi hitam kesenangannya. Dalam dialog lepas bersama pria ini, sesekali saya menyinggung soal iklim perpolitikan, baik secara nasional maupun daerah.

Saya pun tertarik dengan sentilannya mengenai beberapa pihak, yang mengomentari kondisi NTB, semenjak H Zulkieflimansyah menjabat sebagai Gubernur NTB.

"Di setiap kepemimpinan, plus minus itu biasa dalam dunia politik," gumamnya dengan bijak.

Apa yang menjadi tanda tanya saya terjawab. Wajah yang menghadap ke atas tadi menandakan bahwa, Mangku Gede Wenten sedang asyik mengingat sejumlah momen saat pertemuan H Zulkieflimansyah, dengan para tokoh dan masyarakat Hindu. Dalam benaknya, sosok Doktor Zul, sapaan Gubernur NTB, merupakan pemimpin yang bersahaja.

Dihadapan Wartawan, Mangku Gede Wenten menceritakan tentang sikap Doktor Zul sebagai pemimpin daerah yang tidak membeda-bedakan suku, adat, ras dan agama, telah menumbuhkan kasih sayang dan kecintaan semua kalangan. Khususnya Umat Hindu.

"Sikap dan tutur kata yang santun Doktor Zul terhadap umat kami , membuat masyarakat adem mendengarnya," puji Mangku Gede Wenten.

Tak hanya sebatas itu, setiap ada undangan dari Umat Hindu, Doktor Zul selalu hadir sekaligus menyapa, terkecuali jika sedang berada di luar daerah. Itupun, Doktor Zul mengirim utusan terbaiknya untuk menemani dan bercengkrama bersama masyarakat hingga acara selesai.

"Beliau selalu memperhatikan umat Hindu. Itu dirasakan oleh semua umat kami. Jadi dengan gaya silaturahmi yang santun ala Doktor Zul, umat kami sangat respek. Sekalipun 5 menit dia datang, kami sebagai kaum minoritas cukup diperhatikan," imbuh pria yang juga sebagai pendiri, sekaligus penasehat Pasemetonan Buleleng Lombok ini.

H Zulkieflimansyah saat menghadiri acara Syukuran Hari jadi pertama Pasemetonan Buleleng Lombok Tahun 2020 silam.

Soal kinerja, Doktor Zul menurutnya sangat luar biasa. Pada pertama memangku jabatan gubernur, terlebih dikala itu Pulau Lombok, tengah ditimpa musibah Gempa Bumi. Kemudian disusul wabah Covid 19 yang begitu menghantam sektor ekonomi, Doktor Zul telah menunjukan keseriusannya membangun daerah.

"Doktor Zul sering bilang, walaupun NTB ini kecil, tapi punya mimpi besar. Ini diwujudkan dengan adanya Sirkuit International Pertamina Mandalika Lombok Tengah, serta sirkuit MXGP. Tahap demi tahap, beberapa event internasional di NTB, membantu mendorong sektor ekonomi, khususnya UMKM," ulasnya.

"Belum lagi program NTB Gemilang pada saat Covid 19. Ini menjadi bukti bahwa Doktor Zul merupakan pemimpin Satya Wacana," sebutnya dengan nada tegas.

Mangku Gede Wenten merupakan salah satu tokoh Umat Hindu yang dipercaya untuk menjadi bagian dari tim penyelaras Gubernur NTB. Saat pencalonan Doktor Zul 2018 silam, Mangku Gede Wenten  berpetualang sebagai tim pemenang Zul-Rohmi hingga pelosok Sumbawa.

Kemenangan Zul-Rohmi pun lantas tidak membuat pria ini menganggapnya sebagai 'aji mumpung' untuk mendapatkan keuntungan atau balasan pamrih.

Mangku Gede Wenten malah memilih untuk kembali ke rumah dan menjalani rutinitasnya. Sisi positif yang menonjol dari sosok Doktor Zul tersebut, pun mendorong Umat Hindu beberapa waktu lalu mengikrarkan pasangan Zul-Rohmi harus lanjut pada periode kedua.

"Politik adalah salah satu lorong dharma diri, semata mata untuk umat. Saya bangga dan bersyukur memiliki pemimpin seperti ini. Kalau politik dijalankan dengan orang baik pasti baik. Tapi kalau sebaliknya, maka politik itu kotor," timpalnya.

"Sejak awal sampai sekarang menjadi relawan, saya tidak akan pernah berpaling. Untuk hal ini saya tidak pernah digaji. Biarlah tuhan saja yang membalas suatu kebaikan," tandasnya.(RIN)