Para pepadu mulai beradu kekuatan dengan iringan suara musik tabuhan, dengan diawasi oleh seorang wasit peresean yang dikenal dengan nama pekembar. Sabtu (22/7/2023). FOTO IST/JAHARUDDIN.S.Sos POSTKOTANT.COM BIRO LOTARA


Lombok Utara (postkotantb.com) - Tradisi Peresean merupakan kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang mempertarungkan dua laki-laki (pepadu) dengan memakai senjata dari tongkat rotan dan perisai. Kesenian ini merupakan tradisi lama Suku Sasak di Pulau Lombok, NTB, yang masih ada hingga sekarang.

Tradisi peresian kerap dilakukan saat ada acara adat, Hajatan (Niatan) seseorang yang didasari oleh maksud dan tujuan tertentu, misalkan acara Sunatan Massal, Acara ulang tahun daerah maupun Nasional sebagaimana yang sedang berlangsung saat ini di Kabupaten Lombok Utara, suguhan hiburan rakyat dalam rangka Hari Jadi Bumi Tioq Tata Tunaq ke-15.

Tradisi ini masuk ke dalam jenis pertunjukan seni tari daerah. Pemain Peresean dapat dikategorikan sebagai permainan remaja dan dewasa yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki.

Jumlah pemainnya (disebut pepadu) tidak dibatasi, asalkan pertarungan dilakukan dengan cara satu lawan satu.


Sedangkan, untuk memilih pepadunya sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) pepadu yang telah berada di dalam arena menantang salah satu penonton untuk melakukan pertarungan; dan atau (2) panitia pertandingan memilih langsung para calon pepadu dari para penonton yang hadir.

Panitia pengatur jalannya permainan peresean ini disebut Pekembar atau Pekembarakan yang terdiri dari Pekembar Tengaq (tengah) dan Pekembar Sedi (pinggir). Pekembar Tengaq adalah orang yang bertugas memimpin jalannya permainan atau dapat disamakan dengan wasit yang mengawasi jalannya permainan sesuai dengan awig-awig atau peraturan yang telah ditetapkan.

Dalam menjalankan perannya, Pekembar Tengaq dibantu oleh Pekembar Sedi yang bertugas memilih calon pepadu yang seimbang, sebagai juri pemberi nilai pada setiap pukulan pepadu serta menetapkan pemenangnya. Selain itu ada juga yang bertugas sebagai “tukang adu” yang disebut Pengadok.

Arena bertarung para pepadu dalam peresean sebenarnya tidak membutuhkan tempat yang luas, karena hanya dilakukan oleh dua orang pemain dalam satu pertandingannya. Namun karena disaksikan oleh banyak orang, maka lokasi peresean umumnya diadakan di tanah lapang atau lapangan sebagaimana, yang sedang berlangsung selama lima hafi berrurut turut dalam rangka menghibur masyarakat KLU.

Penari disebut pepadu yaitu orang yang akan mengadu kekuatan dalam arena pertarungan peresean.

Pepadu akan diberi senjata berupa rotan yang disebut penjalin sebagai alat pemukul, dan sebuah tameng perisai berbentuk persegi yang bernama ende.

Para pepadu hanya akan mengenakan celana yang dibalut dengan kain penutup khas Lombok dan mengenakan ikat kepala.

Keduanya pun tidak mengenakan baju atau atasan dan hanya akan bertelanjang dada.

Para pepadu akan mulai beradu kekuatan dengan iringan suara musik tabuhan dengan diawasi oleh seorang wasit peresean yang dikenal dengan nama pekembar.

Terdapat dua pekembar yang berada pada suatu peresean yaitu pekembar sedi di luar arena dan pekembar tengah di tengah arena.

Di KLU, tradisi peresian di hari pertama, Sabtu 22 Juli 2023, ribuan masyarakat memadati lapangan Supersemar kotag Tanjung sejak pikul 16.30 wita dan berahir pada pukul 17.30 wita. (@ng)