Syamsul Bahri, Ketua Panitia Begawe Jelo Nyensek Sukerare saat beri keterangan terkait raihan Rekor MURI, jum'at (14/7/2023).FOTO IST/LALU M IRSYADI POSTKOFANTB.COM


Lombok Tengah (postkotantb.com) - Raihan rekor MURI Desa Sukerare yang diterima secara resmi pada kamis(13/07/23) setelah sukses hadirkan 2023 penenun lewat Even Begawe Jelo Nyensek 2023. Ternyata  menjadi idaman sejak tahun 2005 silam.

Mewakili masyarakat, Syamsul Bahri, Ketua panitia Begawe Jelon Nyensek,kamis (13/7/2023) merasa sangat bangga dan terharu. Capaian ini memang telah digadang gadang dari awal mula festival dicetuskan. Ia ungkap ada 5 inisiator utama yang merintis Even ini mulai tahun 2005. Kelima orang tersebut antara lain bernama pak Miate, pak Diman (mantan Kades), Bayu ubay, Satriadi, dan ada Syamsul Bahri sendiri.


"Dari saat itulah cita cita raih rekor muri dihajatkan," kata Syamsul.

Bahkan, Syamsul meyakini jadi pihak yang pertama kali adakan Even semacam ini. Baru diikuti lombok timur, Jepara, NTT dan lainnya.

" Alhamdulillah impian kita terwujud di tahun 2023," syukurnya.

Terimakasih dia ucapkan ke seluruh masyarakat Sukerare, para penenun, Dinas Pariwisata, Bupati, Disperindag, Diskop, PDAM, Gurbernur NTB, Kepala Desa dan seluruh pihak yang terlibat.

Dengan torehan bersejarah ini, otomatis akan menjadi daya dongkrak kemajuan yang berimplikasi pada peningkatan ekonomi. Semakin menguatkan pula identitas atau branding Sukerare sebagai Desa tenun dimata Nasional dam Internasional.

"Ketika songket kita mendunia, permintaan banyak, pastinya lahir sirkulasi kebutuhan secara berlelanjutan, penenun akan terus berproduksi, dan akhirnya sejahterakan masyarakat," Ujarnya optimis.

Sehingga output dari semua itu secara budaya terlestarikan, ekonomi terangkat, secara sosial jadi kebangkitan semangat pengusaha muda, dan secara pariwisata bergeliat.

Khusus bicara keberlagsungan kedepan, bisa adopsi konsep Desa pariwisata yakni cibity. Adalah community bases tourism atau komunitas berbasis masyarakat. Yang akan mempertahankan eksistensi dan konsistensi masyarakat sebagai basic utama yang memungkinkan bisa bertahan lama.

Dari sisi dukungan, Samsul merasa sudah cukup baik dalam bentuk pelatihan dan pembinaan. Entah itu dari Pemdes, Pemda Loteng, Pemprov NTB, maupun Pusat lewat Kementrian.


Tinggal yang diperlukan, pungkasnya, mesti ada pembenahan dari sudut kebersihan dan penataan lingkungan.
" Mesti dirias lah Desa ini, ditata supaya ada yang jadi pembeda atau ciri khas, sehingga tamu merasa wow jika datang berkunjung," harapnya.

Hal penunjang lain yang sangat krusial terkait infrastruktur. Jalan jalan menuju Sukerare atau Desa Desa wisata lainnya kalau bisa mesti aksesnya memadai. Dapat dijangkau oleh kendaraan kendaraan besar seperti bus yang membawa rombongan. (Irs).