Mataram (postkotantb.com)-Praktisi Hukum I Gusti Putu Ekadana mengatakan, Provinsi NTB khususnya Pulau Lombok, menjadi salah satu daerah yang memiliki daya tarik tersendiri. Kini, sektor Investasi dan Pariwisata pun mulai menjadi primadona setelah Bali mengalami Crowded.
"Apalagi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru memiliki visi misi demi NTB Makmur Mendunia, tentu sangat Welcome dengan hal itu," ungkapnya, Rabu (26/02/2025).
Sayang hal ini tidak diimbangi dengan kondisi rill akibat masih banyaknya praktik premanisme. Praktik ini mulai dari pungutan liar (Pungli), intervensi tenaga kerja. Bahkan mau mengambil space tertentu di dalam aktivitas bisnis atau investasi, tanpa kapabilitas dan profesionalitas yang mumpuni.
"Kondisi ini yang menjadi salah indikator kemunculan investor nakal yang tidak taat aturan. Karena memaksa untuk jadi backingan bisnis tertentu, dan tidak menutup kemungkinan jadi backingan oknum mafia migas di NTB," timpalnya.
Praktik premanisme ini muncul dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui organisasi masyarakat atau lembaga tertentu, namun terkadang secara individual atau perorangan. Hal ini yang menyebabkan para pebisnis dan investor mengalihkan usahanya ke daerah lain atau ke negara lain.
"Ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan menambah pengangguran. Terlebih kita sekarang sedang diuji dengan kebijakan efisiensi anggaran, seharusnya kita dapat memberikan karpet merah untuk para investor dan pembisnis," kesalnya.
Ia berharap Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru dilantik, bersama stakeholder bertindak tegas untuk mengatasi praktik tersebut. Hal ini sekaligus jaminan bahwa Bumi Gora sangat aman untuk berbisnis dan berinvestasi.(RIN)
"Apalagi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru memiliki visi misi demi NTB Makmur Mendunia, tentu sangat Welcome dengan hal itu," ungkapnya, Rabu (26/02/2025).
Sayang hal ini tidak diimbangi dengan kondisi rill akibat masih banyaknya praktik premanisme. Praktik ini mulai dari pungutan liar (Pungli), intervensi tenaga kerja. Bahkan mau mengambil space tertentu di dalam aktivitas bisnis atau investasi, tanpa kapabilitas dan profesionalitas yang mumpuni.
"Kondisi ini yang menjadi salah indikator kemunculan investor nakal yang tidak taat aturan. Karena memaksa untuk jadi backingan bisnis tertentu, dan tidak menutup kemungkinan jadi backingan oknum mafia migas di NTB," timpalnya.
Praktik premanisme ini muncul dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui organisasi masyarakat atau lembaga tertentu, namun terkadang secara individual atau perorangan. Hal ini yang menyebabkan para pebisnis dan investor mengalihkan usahanya ke daerah lain atau ke negara lain.
"Ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan menambah pengangguran. Terlebih kita sekarang sedang diuji dengan kebijakan efisiensi anggaran, seharusnya kita dapat memberikan karpet merah untuk para investor dan pembisnis," kesalnya.
Ia berharap Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang baru dilantik, bersama stakeholder bertindak tegas untuk mengatasi praktik tersebut. Hal ini sekaligus jaminan bahwa Bumi Gora sangat aman untuk berbisnis dan berinvestasi.(RIN)


PT Akan lagi cari masalah atau alasan
BalasHapus