Mataram (postkotantb.com) – Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa melakukan kunjungan konsultasi ke Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB pada Selasa, 9 Desember 2025. Rombongan dipimpin oleh Sekretaris Komisi II, Zohran, SH, dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan NTB, Jamaludin Maladi, S.Sos., MT, beserta jajaran. Pertemuan ini membahas dinamika harga serta ketersediaan komoditas pangan yang belakangan mengalami fluktuasi di wilayah Sumbawa dan NTB.
Kepala Disdag NTB, Jamaludin Maladi menjelaskan, bahwa gejolak harga komoditas dipengaruhi dua faktor utama, yaitu kondisi cuaca dan berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Berdasarkan data lima minggu terakhir, sejumlah komoditas menunjukkan perubahan harga yang cukup signifikan. Cabe merah keriting mengalami penurunan pada minggu pertama hingga keempat dan kembali naik pada minggu kelima dengan total perubahan –2 persen.
Cabe merah besar sempat naik pada minggu kedua, turun pada minggu ketiga, dan kembali naik tipis pada minggu keempat dan kelima dengan total –0,3 persen. Cabe rawit merah dan rawit hijau masing-masing mencatat kenaikan total 5 persen dan 2 persen, terutama karena lonjakan harga pada minggu kelima. Bawang merah naik bertahap selama minggu ketiga hingga kelima dengan total 2 persen, sementara tomat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 13 persen.
Dari sisi pasokan, beberapa komoditas juga menunjukkan perubahan. Cabe merah keriting turun 2 persen, cabe merah besar naik 1 persen, cabe rawit merah naik 21 persen, cabe rawit hijau naik 4 persen, bawang merah naik 2 persen, tomat naik 8 persen, dan ikan kembung serta tongkol masing-masing naik 2 persen.
Kenaikan pasokan pada beberapa komoditas tidak serta-merta menurunkan harga karena faktor cuaca dan distribusi turut memengaruhi stabilitas pasar. “Tomat dan cabai terlihat mengalami kenaikan konsisten. Untuk solusi jangka panjang, masyarakat dapat diarahkan menanam sendiri komoditas yang mudah bergejolak,” ujar Jamaludin.
Dalam diskusi, Jamaludin juga menyinggung pentingnya industrialisasi pertanian. Ia mencontohkan perubahan produktivitas di Lombok setelah hadirnya bendungan seperti Batujai dan bendungan di Lombok Tengah.
Lahan yang sebelumnya hanya panen sekali dalam setahun kini bisa menghasilkan dua kali panen. Ia juga mengingatkan bahwa tanpa dukungan teknologi dan tata kelola yang baik, komoditas seperti tomat pernah dihargai sangat murah, hanya Rp10.000–Rp20.000 per keranjang besar saat produksi melimpah.
Sekretaris Komisi II, H. Zohran, menyoroti faktor lain yang memengaruhi gejolak harga, yaitu praktik pola kontrak atau ijon oleh tengkulak dan pengusaha. Dalam sistem ini, hasil panen dibeli bahkan sebelum dipanen dengan harga yang disepakati lebih dulu. “Pola kontrak membuat harga di tingkat petani sering tidak sebanding. Bahkan di beberapa daerah seperti di Jawa, lahan yang belum ditanami sudah dikontrak lebih dulu,” ujarnya.
Zohran menjelaskan, bahwa kondisi tersebut terjadi karena petani membutuhkan modal atau pupuk sehingga menerima kontrak meski berisiko merugikan mereka. Situasi ini memperumit tata niaga dan memengaruhi stabilitas harga komoditas pangan di pasar.
Konsultasi antara Komisi II DPRD Sumbawa dan Disdag NTB ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antarinstansi dalam mencari solusi berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas pangan di Sumbawa dan wilayah NTB lainnya. (Jhey)


0Komentar