Oleh Nuriadi Sayip
Akhirnya rangkaian pemilihan rektor Unram telah usai dan Prof. Sukardi tampil menjadi pemenang dalam kontestasi ini dengan raihan suara 68 dari jumlah seluruh suara pemilih, yang digabung dari suara senat Unram (lokal) dan suara menteri Saintekdikti (pusat). Raihan suara yang sangat telak. Berdasarkan fakta ini, figur Prof. Sukardi memang begitu sangat berpengaruh karena kinerja beliau selama menjadi birokrat kampus khususnya saat beliau menjadi Wakil Rektor II sangatlah bagus dan berdampak nyata di dalam mendukung dan mengeksekusi program-program Bapak Rektor Prof. Bambang Hari dalam memajukan Unram selama ini.
Mungkin di antara teman atau kolega dosen di FKIP Unram, saya termasuk orang yang tidak terlalu dekat secara pribadi dengan Prof. Sukardi jika ukuran kedekatan itu diasaskan pada intensitas pertemuan langsung. Akan tetapi, dalam beberapa waktu saya berkesempatan berkerja sama dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar dan bawahan beliau serta sesekali bersenda gurau secara langsung dengannya. Maka dari itu saya berani memberi testimoni terhadap sosok Prof. Sukardi.
Testimoni ini saya tulis sebagai ekspresi optimisme saya atas ke-figur-an beliau sebagai Rektor Unram terpilih untuk masa khitmad 2026-2030. Di balik ini, saya berpendapat bahwa sudah saatnya Unram dipimpin oleh tokoh akademisi muda tapi mumpuni serta berdedikasi tinggi seperti Prof. Sukardi. Dengan jiwa dan semangat muda ini, saya yakin, Unram akan semakin gerak cepat dalam menggapai visi-misinya sebagai salah satu kampus negeri top Indonesia dan dunia.
Saya mulai berhubungan secara langsung dan intensif dengan beliau ketika saya ditugasi sebagai Sekretaris Prodi Pasca Pendidikan Bahasa Indonesia yang pada saat itu beliau menjadi Wakil Direktur II Pascasarjana Universitas Unram.
Intensitas hubungan saya ini terus berlanjut ketika beliau sudah menjadi Wakil Dekan 2 FKIP dan saya kebetulan ditugasi sebagai Kepala BP3MF FKIP. Tentu, selain hubungan pekerjaan, beberapa kali saya duduk dan berbincang-bincang bersama dan intim dalam konteks sebagai sahabat. Sehingga, atas dasar itu saya mendapati penilaian tersendiri pada sosok Prof. Sukardi, baik sebagai pemimpin, kolega, dan sahabat.
Pertama, Prof. Sukardi adalah figur yang bersahaja atau sederhana. Sejauh yang saya lihat selama bergaul dengan beliau, Prof. Sukardi tidak pernah menunjukkan penampilan yang mencolok atau mewah. Beliau tampil dengan pakaian biasa, rapi, bahkan tidak mahal. Meskipun saya tahu, beliau mampu untuk membeli pakaian yang mahal. Karena Prof. Sukardi hampir tiap tahun mendapat hibah-hibah nasional yang pendanaannya di atas 200-an juta.
Bahkan, skaing sederhananya beliau, pernah suatu hari saya coba tanya jam berapa karena mau mengajar, langsung beliau ambil handphone-nya, padahal beliau pakai jam tangan, sambil berkata: "Jam saya mati, saya pakai sebagai asesoris saja". Spontan saya langsung tersenyum, dan menunggu jawaban beliau yang kemudian menyebut angka jam dari handphone-nya. Jujur saya tidak percaya kalau jam beliau mati. Yang saya yakini di balik sikapnya itu beliau sedang menunjukkan ketawaduqannya.
Dalam konteks ini, Prof. Sukardi adalah orang yang benar-benar bersahaja. Tidak pernah menunjukkan sisi keglamoran dari segi penampilan. Persis seperti orang Sasak pada umumnya yang berasal dari pedesaan, yaitu karakter apa adanya dan bersahaja.
Kedua, Prof. Sukardi adalah sosok yang dermawan. Meskipun beliau berpenampilan sederhana atau bersahaja, jangan salah beliau bukanlah orang yang pelit atau perhitungan dalam bergaul. Beberapa kali, harus saya akui, saya sering ikut ditraktir ketika ada waktu senggang.
Ketika makan bareng, beliau-lah yang menjadi bandar, yang mentraktir teman-teman. Bahkan, menurut beberapa teman dekat saya, Prof. Sukardi acap kali memberi bantuan jika salah satu teman mengalami kesusahan secara finansial.
Artinya, Prof. Sukardi mempunyai sisi kemanusiaan yang sangat tinggi kepada teman-temannya. Di balik kebersahajaannya, beliau tidak segan-segan memberi bantuan dan mentraktir teman-temannya baik saat sedang bertugas di kampus maupun saat sudah di luar kampus.
Ketiga, Prof. Sukardi adalab pribadi yang terbuka. Yang saya maksud dengan pribadi yang terbuka di sini adalah Prof. Sukardi adalah orang "open-minded". Mungkin, jika kita menemui beliau di ruangannya, jika tidak sednag rapat atau bertugas di luar ruangannya, kita akan sering melihat beliau selalu duduk berhadapan dengan laptop kerjanya. Pada saat itu tampak cukup serius. Namun, jangan salah, beliau selalu nyambung dengan topik-topik pembicaraan teman-teman yang muncul secara lepas. Bahasan yang ringan-ringan.
Dalam situasi seperti ini, beliau pun ikut arus pembicaraan yang diinisiasi teman-teman, dan sesekali memberi respon-respon. Dan apabila pendapatnya disanggah atau dibantah oleh teman, dia akan menerimanya. Beliau menghormati pendapat teman. Tidak ada sanggah-sanggahan kemudian. Sehingga, suasana diskusi lepas akhirnya berjalan cair. Situasi ini juga menegaskan bahwa Prof. Sukardi orangnya sangat egaliter, tidak sama sekali memperlihatkan dirinya sebagai sang atasan.
Keempat, Prof. Sukardi adalah sosok yang visioner saat mengemban tugas. Saya harus berani mengatakan sebagai bukti faktual, bahwa suasana asri FKIP mulai tertata pembangunannya secara lebih asri yakni sejak kepemimpinan Dekan Prof. Wahab Jufri, yang nota bene sosok yang berada di balik dekan adalah Prof. Sukardi sebagai wakil dekan dua. Sebagaimana tupoksi wakil dekan, Prof. Sukardi bahu-membahu bersama Dekan Prof. Wahan Jufri memulai pembenahan dan penyediaan sarana prasarana secara lebih maju. Ruang-ruang kuliah disediakan perlengjapan teknologi yang baik. Cat-cat bangunan interior dan eksterior dipermak supaya tampak baru.
Taman-taman kampus ditata rapi. Bahkan pintu gerbang masuk FKIP diperbaharui lagi sesuai dengan kondisi zaman. Menariknya, fakta ini terus berlanjut ketika Prof. Sukardi menjadi wakil rektor dua Unram. Seperti kita lihat bersama, tampilan Unram di sana sini sangat berubah. Semua dikelola dengan baik.
Pembangunan fisik terus berjalan. Upaya perbaikan sarana prasarana kampus terus diupayakan. Tentu, semua ini bukan usaha sendiri wakil rektor dua, namun semua berjalan dengan baik mengikuti visi kepemimpinan Rektor Prof. Bambang Hari, selain dukungan penuh juga dari wakil rektor satu, wakil rektor tiga, wakil rektor empat serta para pimpinan kampus yang lain.
Namun, apabila Prof. Sukardi yang bertugas sebagai wakil rektor dua, upaya-upaya pendanaan tidak bisa berjalan baik sebagaimana mestinya. Dengan demikian, patutlah dikatakan kalau Prof. Sukardi memang seorang yang visioner dan mampu berkerja sama dengan sosok-sosok pimpinan di atasnya.
Di balik kebersahajaannya, dalam pengamatan saya, Prof. Sukardi sebagai seorang birokrat dan teknokrat kampus akan terus mendedikasikan dirinya untuk menjadikan Unram sebagai kampus berkelas dunia meneruskan visi dan jejak kinerja Prof. Bambang Hari serta Unram sebagai kampus yang inklusif dan kontributif untuk memajukan budaya dan/atau kearifan lokal yang telah berkembang di NTB.
Dari sejumlah fakta yang dipaparkan di atas, Unram harusnya bangga mempunyai salah satu tokoh seperti Prof. Sukardi ini, dan kini sudah terpilih sebagai rektor Unram, yang akan menggantikan Prof. Bambang Hari setelah masa jabatan beliau usai.
Dengan karakternya yang sederhana, dermawan, terbuka, dan visioner ini, gerak langkah Unram untuk terus melaju menggapai visi-misinya sebagai universitas yang unggul serta yang berdaya saing internasional rasanya akan lebih cepat menggelinding untuk tercapai apabila kelak Unram dipimpin oleh sosok rektor seperti Prof. Sukardi.
Selamat buat Saudaraku, Prof. Sukardi atas terpilihnya menjadi Rektor Unram periode 2026-2030. Semoga sukses selalu dalam menakhodai Unram hingga mencapai puncak kejayaannya. Pesan saya secara pribadi, "Tetaplah menjadi orang yang sederhana dan merendah, meski tetap menyuluhkan api semangat untuk membangun kampus tercinta, Saudaraku. Tetaplah menjadi pemimpin yang amanah dan tanpa kenal lelah bekerja. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi dan melindungi selama berkhitmad sebaga rektor." Sekian!
Guru Besar Sastra dan Budaya Unram


0Komentar