Sumbawa Besar, (postkotantb.com) – Siang itu, Masjid Al-Ihsan di Kelurahan Samapuin dipenuhi wajah-wajah penuh antusias. Dalam suasana Syawal yang masih hangat, warga berkumpul bukan sekadar untuk bersilaturahim, tetapi juga menyimak pesan kebangsaan dan keumatan dari Din Syamsuddin, Jumat (10/04/2026).

Kehadiran tokoh ulama internasional asal Sumbawa ini seolah menjadi magnet tersendiri. Jamaah memadati masjid, sementara sejumlah tokoh daerah turut hadir, menambah khidmatnya suasana Halalbihalal tersebut.

Dalam tausiyahnya, Din tidak sekadar berbicara soal ibadah, tetapi menyentuh hal yang lebih mendasar: persatuan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan organisasi, baik Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, bukanlah alasan untuk saling berseberangan. Baginya, organisasi hanyalah alat perjuangan, sementara tujuan besar umat tetap satu—kejayaan Islam dan umatnya.

Dengan nada tenang namun tegas, ia mengingatkan bahaya adu domba yang kerap menyasar umat di tingkat bawah. Ia mengajak masyarakat Samapuin untuk menjaga ukhuwah, sebagaimana dicontohkan dalam sejarah Islam saat kaum Muhajirin dan Ansar dipersatukan oleh iman.

Tak hanya berbicara soal lokal, pandangannya juga meluas ke kondisi dunia Islam. Din menyinggung penderitaan yang dialami umat di Palestina, seraya mengajak seluruh umat untuk tidak terpecah oleh perbedaan kecil di tengah tantangan besar yang dihadapi bersama.

Suasana kemudian mencair ketika ia berbagi kisah hidupnya. Dengan sederhana, ia mengaku pernah menjadi penjual pisang goreng di masa kecilnya. Dari sanalah ia menanamkan pesan kepada anak-anak yang hadir: bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita.
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” pesannya, yang disambut penuh semangat oleh para jamaah, terutama generasi muda.

Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan pembagian doorprize bagi anak-anak, meninggalkan kesan hangat sekaligus memperkuat tekad bersama untuk terus menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Penulis: (Amr/Jhey)