Lombok Utara, (postkotantb.com) – Mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji adalah momen spiritual yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Bagi setiap Muslim, panggilan itu terasa seperti jawaban langsung dari Sang Pencipta. Rasanya berlipat ganda bagi mereka yang baru memeluk Islam.
Tahun 2026 ini, salah satu kisah itu datang dari Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. I Wayan Kerti, akrab disapa Tempos, akhirnya berangkat ke Tanah Suci setelah 13 tahun berada dalam daftar tunggu. Baginya, ini bukan sekadar keberangkatan, tapi berkah luar biasa yang datang setelah ia memeluk Islam dan membina rumah tangga.
Hidayah yang Datang Lewat Lingkungan dan Keluarga
Tempos menceritakan, keputusannya menjadi muallaf murni muncul dari panggilan jiwa. Ia mulai mengenal Islam melalui lingkungan pertemanan yang positif dan bimbingan suaminya setelah menikah.
“Saya tidak dipaksa. Saya melihat ketenangan di keluarga suami, cara mereka sholat, cara mereka saling mengingatkan. Dari situ hati saya pelan-pelan terbuka,” ujarnya.
Proses itu tidak instan. Tempos belajar sholat, puasa, dan mengaji dari nol. Dukungan suami menjadi kunci. Setiap malam ia dibimbing membaca Al-Qur’an dan memahami makna ayat-ayat dasar.
Lingkungan yang mendukung membuat proses adaptasi menjadi lebih ringan.
Kisah Tempos menunjukkan pola yang sering terjadi pada muallaf di KLU: hidayah sering datang melalui interaksi sosial yang baik. Teman yang sabar menjelaskan, keluarga yang memberi teladan, dan komunitas yang merangkul membuat seseorang mantap memilih jalan baru.
Antara 13 - 14 Tahun Menunggu, 13 Mempersiapkan Diri
Masa tunggu haji reguler di NTB memang panjang, rata-rata 13-14 tahun. Bagi Tempos, waktu itu ia manfaatkan untuk memperdalam ilmu agama.
“Kalau langsung berangkat waktu baru mualaf, mungkin saya belum siap. Sekarang saya sudah lebih paham rukun haji, doa-doa, dan adab di Tanah Suci. Jadi insyaAllah bisa lebih khusyuk,” katanya.
Ia memaknai penantian panjang itu sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 97, Allah berfirman bahwa haji adalah kewajiban bagi orang yang mampu menempuh perjalanan ke sana. Kemampuan itu tidak hanya soal uang, tapi juga fisik, mental, dan ilmu.
Bagi Tempos, 13 tahun itu adalah madrasah. Ia belajar sabar, belajar menerima takdir, dan belajar bahwa panggilan Allah SWT tidak pernah terlambat.
Makna Haji sebagai Panggilan Langsung dari Allah SWT
Dalam Islam, ibadah haji dipandang sebagai da’watul Haq – seruan kebenaran dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Tidak semua orang yang mampu secara finansial mendapatkan panggilan itu. Banyak yang menunggu puluhan tahun, sebagian lain dipanggil saat usia sudah senja.
Bagi muallaf seperti Tempos, panggilan itu memiliki makna khusus. Ia seperti peneguhan bahwa Islam yang ia pilih benar-benar diterima. Perjalanan ke Tanah Suci menjadi simbol penyempurnaan iman, sekaligus awal tanggung jawab baru sebagai Muslim yang lebih baik.
Berangkat haji sebagai muallaf memiliki beberapa hal yang perlu dipersiapkan lebih matang. Berdasarkan bimbingan Kemenag KLU dan pengalaman petugas TPHI, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
Muallaf biasanya butuh pendampingan ekstra dalam memahami tata cara ihram, wudhu, tayamum, dan doa-doa haji. Kemenag KLU menyediakan kelas khusus agar tidak ada yang tertinggal. Tempos mengaku paling banyak bertanya soal tata cara ihram dan wudhu.
Perubahan nama Islam harus disesuaikan di KTP, KK, dan paspor. Proses ini dibantu oleh petugas Kemenag agar tidak menghambat keberangkatan. Kesalahan satu huruf saja bisa membuat jamaah tertahan di imigrasi.
Wanita wajib didampingi mahram atau tergabung dalam rombongan yang aman. Di kloter KLU, petugas TPHI dan TPIHI bertugas memastikan jamaah wanita selalu dalam pengawasan. Ini penting untuk menjaga keamanan dan kelancaran ibadah.
Ibadah haji secara fisik berat. Jalan kaki jauh, cuaca panas, dan antrian panjang menuntut stamina. Untuk muallaf yang usianya sudah tidak muda, latihan fisik ringan dan persiapan mental sangat dianjurkan.
Tantangan terbesar muallaf sering datang setelah pulang haji: menjaga keistiqamahan di tengah lingkungan lama. Karena itu, pembinaan pasca-haji oleh Kemenag dan majelis taklim sangat dianjurkan. Tujuannya agar semangat baru tidak padam setelah kembali ke kampung halaman.
Bagi Tempos, haji adalah amanah. Ia berharap pulang nanti bisa menjadi contoh di kampungnya bahwa hidayah bisa datang kapan saja, dan panggilan Allah SWT tidak pernah terlambat.
“Kalau Allah sudah memanggil, tidak ada yang bisa menghalangi,” katanya.
Kisah Tempos mengingatkan kita semua bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik sejauh 8.000 km ke Mekkah. Ia adalah panggilan spiritual yang menuntut kesiapan hati.
Bagi muallaf, panggilan itu sekaligus penanda bahwa iman yang baru tumbuh layak dijaga dengan ibadah yang benar, ilmu yang cukup, dan lingkungan yang menguatkan. Bagi kita yang sudah lama muslim, kisah ini menjadi pengingat: jangan sampai panggilan itu datang, tapi hati kita yang belum siap menjawabnya.
Pewarta: Jaharuddin.S.Sos




0Komentar