Mataram, (postkotantb.com) – Perhimpunan Pemuda Sasak (Pasek Sasak) kembali menggelar aksi unjuk rasa Jilid II di depan Kantor Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Barat sebagai bentuk protes, atas dugaan kelalaian manajemen dalam kasus beras oplosan yang sempat menggemparkan masyarakat NTB. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan diwarnai pembakaran replika pocong sebagai simbol pemusnahan mafia beras oplosan.

Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai poster tuntutan, pengeras suara, serta replika pocong bertuliskan "Pejabat Bulog". Replika itu kemudian dibakar sebagai simbol bahwa praktik mafia pangan harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya, bukan sekadar menghukum pelaku lapangan.


Koordinator Umum Aksi, *Rasyid Fakhrozi*, menegaskan bahwa aksi ini bukan ditujukan untuk mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan, melainkan menuntut pertanggungjawaban moral dan administratif pimpinan Bulog NTB atas kegagalan sistem pengawasan distribusi beras sebagaimana tertuang dalam rilis sikap resmi Perhimpunan Pemuda Sasak. 

"Kasus beras oplosan tidak boleh berhenti pada penangkapan beberapa pelaku lapangan. Yang harus dipertanyakan adalah siapa yang gagal mengawasi sehingga praktik itu bisa berlangsung. Seorang pimpinan tidak boleh berlindung di balik proses hukum. Kepemimpinan harus bertanggung jawab."


Menurutnya, masyarakat berhak memperoleh jaminan bahwa distribusi pangan dijalankan secara bersih dan transparan. Karena itu, organisasi tersebut menegaskan tuntutan utama agar Menteri BUMN dan Direktur Utama Perum Bulog segera mengevaluasi sekaligus mencopot Pimpinan Wilayah Bulog NTB sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan sistem pengawasan. 

Ironisnya, hingga seluruh rangkaian orasi selesai, pihak Bulog NTB tidak bersedia menemui massa aksi. Bahkan massa telah memberikan waktu tambahan selama *30 menit* setelah orasi berakhir agar pimpinan keluar menemui peserta aksi untuk berdialog secara terbuka.

Namun hingga batas waktu tersebut habis, *Pimpinan Bulog NTB tetap tidak menemui massa*.

Sikap tersebut memicu kekecewaan peserta aksi yang menilai pimpinan Bulog telah mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh penjelasan secara langsung.


"Kami datang membawa aspirasi rakyat, bukan membuat keributan. Tetapi ketika pimpinan memilih bersembunyi dan tidak berani berdialog, publik berhak menilai sendiri bagaimana kualitas kepemimpinan di Bulog NTB," ujar Rasyid. (Red)

---

# **Teks Orasi Korlap I**

### **Lalu Zui Ardi**

*Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.*

Hari ini kami berdiri bukan untuk mencari sensasi. Kami berdiri membawa suara rakyat yang telah dikhianati oleh buruknya pengawasan distribusi pangan.

Beras adalah kebutuhan pokok masyarakat. Ketika beras program pemerintah justru dioplos, maka yang menjadi korban adalah rakyat kecil.

Kami tidak datang menghakimi proses hukum. Kami datang mengingatkan bahwa setiap pimpinan memiliki tanggung jawab terhadap sistem yang dipimpinnya.

Kalau pengawasan berjalan baik, praktik beras oplosan tidak mungkin tumbuh begitu besar.

Hari ini kami meminta BULOG NTB berhenti berlindung di balik alasan bahwa pelaku sudah ditangkap.

Yang kami tuntut adalah evaluasi total.

Yang kami tuntut adalah transparansi.

Yang kami tuntut adalah keberanian mengakui kelalaian.

Kalau pemimpin tidak mampu menjamin keamanan pangan rakyat, maka sudah saatnya memberi ruang kepada pemimpin yang lebih bertanggung jawab.

---

# **Teks Orasi Korlap II**

### **Renggo Wawan**

Saudara-saudara sekalian...

Lihatlah simbol pocong yang kami bawa hari ini.

Ini bukan sekadar properti aksi.

Ini adalah simbol matinya integritas.

Simbol matinya pengawasan.

Dan simbol bahwa mafia pangan harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.

Hari ini kami membakar replika pocong sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik mafia beras oplosan.

Yang kami bakar adalah simbol kelalaian.

Yang kami bakar adalah simbol pembiaran.

Yang kami bakar adalah simbol ketidakberanian mengambil tanggung jawab.

Kami ingin BULOG NTB bersih.

Kami ingin masyarakat mendapatkan pangan yang layak.

Dan kami ingin negara hadir melindungi rakyat, bukan melindungi jabatan.

Hidup rakyat!

Hancurkan mafia pangan!

---

# **Pernyataan dan Tuntutan Utama Koordinator Umum**

### **Rasyid Fakhrozi**

Atas nama Perhimpunan Pemuda Sasak, kami menyampaikan tuntutan rakyat:

1.Mendesak Menteri BUMN dan Direktur Utama Perum BULOG untuk segera mencopot Pimpinan Wilayah BULOG NTB sebagai bentuk pertanggungjawaban atas gagalnya sistem pengawasan distribusi beras di NTB.
2. Mendesak BULOG NTB membuka hasil audit investigatif kasus beras oplosan kepada publik.
3. Mendesak publikasi menyeluruh atas evaluasi dan reformasi sistem pengawasan distribusi beras.
4. Mendesak pemutusan kerja sama terhadap seluruh mitra yang terbukti melakukan pelanggaran.
5. Mendesak pembentukan pengawasan bersama yang melibatkan masyarakat sipil, akademisi, media, organisasi kepemudaan, dan aparat penegak hukum.
6. Mendesak aparat penegak hukum mengusut seluruh pihak yang diduga terlibat tanpa berhenti pada pelaku lapangan. 

Di akhir aksi, massa menegaskan bahwa perjuangan mereka *tidak akan berhenti sampai ada langkah nyata dari pemerintah dan manajemen Perum BULOG*. Mereka menilai sikap Pimpinan BULOG NTB yang tidak bersedia menemui peserta aksi semakin memperkuat kesan bahwa institusi tersebut menghindari pertanggungjawaban publik.

Aksi kemudian ditutup dengan pembakaran replika pocong sebagai simbol tekad Perhimpunan Pemuda Sasak untuk terus mengawal pemberantasan mafia pangan dan mendesak pencopotan Pimpinan Wilayah BULOG NTB demi memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola distribusi pangan di Nusa Tenggara Barat. (**)