Wednesday, May 23, 2018

Angka Kurang Gizi Dan Stunting Di NTB Masih Tinggi


Mataram (postkotantb.com)- Data prevalensi kurang gizi di peroleh melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG) di lakukan setiap tahun. Dinas Kesehatan Provinsi NTB mencatat data prevalensi kurang gizi mengalami peningkatan yaitu dari 20,2% di tahun 2016 menjadi 22,6% pada tahun 2017. Capaian tersebut tidak sesuai dengan target yang di harapkan yaitu tidak lebih dari 15,5%.

Dikes juga memaparkan penyebab masih tingginya prevalensi kurang gizi di NTB oleh beberapa faktor diantaranya adalah kemiskinan, usia pernikahan yang masih rendah, pola asuh dan penyakit infeksi, diare maupun penyakit bawaan zejak lahir. 

Adapun prevalensi kurang gizi tertinggi di Kabupaten Dompu sebesar 33% dan terendah di Kabupaten Lombok Barat sebesar 19,1%. Pjs Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Marjito S. SI, SKM, M. Kes menyatakan untuk mengatasi kondisi tersebut di butuhkan upaya yang menyeluruh dan teritegrasi dengan melibatkan seluruh stake holder terkait. 

"jadi kita tidak bisa bekerja sendiri, kaita butuh suport dan dukungan semua pihak, karena gizi kurang ini penyebabnya kompleks banyak faktor," urainya. 

Selain persoalan gizi kurang NTB juga menjadi daerah persoalan gizi lainnya yakni STUNTING atau "Kependekan". Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga tubuh anak terlalu pendek untuk usianya. 

Data hasil PSG pada tahun 2017 menunjukan prevalensi stunting di Provinsi NTB sebesar 37,2% lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 29,6%, angka tersebut juga meningkat jika di bandingkan dengan tahun 2016 yaitu sebesar 29,9% atau naik 7,29%.

Prevalensi Stunting tertinggi di Kabupaten Sumbawa yaitu 41,9% di susul Lombok Tengah 39,9%, Dompu 38,3%, Kota Mataram 37,8%, Lombok Utara 37,6%, Bima 36,6%, Kota Bima 36,3%, Lombok Barat 36,1%, Lombok Timur 35,1%. Angka Stunting terendah hanya di Kabupateb Sumbawa Barat yaitu sebesar 32,6%.

Pada tahun 2018 Provinsi NTB menjadi daerah Stunting dari 100 kabupaten kota se Indonesia. Di NTB sendiri terdapat 60 desa dari 6 kabupaten kota yang menjadi perioritas penekanan persoalan Stunting.(RZ)

No comments:

Post a Comment