Monday, November 12, 2018

Industri Kreatif Peluang Usaha Yang Bisa Disasar Generasi Muda

Lalu Candra Yudistira (berbaju biru) usai pertemuan dengan pertemuan pemuda Lombok Tengah
Mataram (postkotantb.com)- Kemajuan teknologi informasi dan  komunikasi tak pelak membuat persaingan semakin ketat. Namun di sisi lain juga memunculkan banyak peluang untuk meraih kesuksesan.

Untuk mampu meraih peluang tersebut dibutuhkan kemauan dan kesungguhan juga keberanian untuk memulainya terutama di sektor industri kreatif. 

Di NTB, peluang tersebut bisa menjadi sebuah kesempatan bagi para generasi muda, di saat NTB semakin terkenal sebagai destinasi wisata unggulan.

"Sebenarnya ada sangat banyak kesempatan di sektor industri kreatif ini, asalkan ada semangat dan berani mencoba dulu," kata Lalu Candra Yudhistira, Senin (12/11) di Mataram.

Pengusaha muda di bidang Industri Kreatif ini mengatakan, untuk sektor pariwisata potensi yang ada di NTB sangat besar, bahkan hingga di Desa-Desa.

Hampir setiap Desa di NTB memiliki objek wisatanya sendiri, juga ada kebudayaan, kuliner, dan juga kerajinan khas di Desa masing-masing.

Jika potensi ini dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi digital, maka bukan tidak mungkin akan banyak Desa di NTB yang kemudian bisa menjadi destinasi wisata alternatif yang menarik.

"Yang bisa menggerakan ini ya generasi muda. Mereka bisa mulai membentuk kelompok kecil atau pun kelompok sadar wisata untuk memulai ini di desanya," katanya. 

Salah satu sektor industri kreatif yang menjadi sorotannya adalah kesnian kecimol. Adanya aturan dan pelarangan kesenian kecimol ini juga menjadi perhatiannya. Yudi demikian sapaan akrabnya mengungkapkan ketidak sepahaman dengan kebijakan Pemda Lombok Tengah yang berencana melarang kegiatan kelompok Kecimol.

"Kalau dilarang sama sekali, itu sama saja kita menutup piring nasi masyarakat. Pemda harus ada solusi selain melarang-larang," katanya, Senin (12/11) di Mataram.

Menurut dia, selain dari sisi ekonomi akan mengganggu pendapatan masyarakat, terutama para seniman kelompok Kecimol, larangan seperti itu juga akan membuat regenerasi pelaku seni dan budaya akan terputus dalam jangka panjang.

Hal ini akan menyebabkan, kebudayaan itu kehilangan jatidirinya, dan terancam lekang oleh waktu.

Lalu Chandra Yudhistira mengatakan, untuk menekan gangguan lalu lintas akibat Kecimol saat nyongkolan dan acara lainnya, tidak harus langsung dengan pelarangan.

Ia bahkan sudah merencanakan untuk mengakomodir Kelompok Kecimol ini agar terus berkreasi berkesenian, dan mendorong mereka berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital.

"Kami ada kelompok pemuda Pepadu Bajang. Nah melalui Pepadu Bajang ini kelompok-kelompok Kecimol bisa masuk industri rekaman," katanya.

Saat ini, Pepadu Bajang tengah membina beberapa kelompok Kecimol untuk mulai mengkreasikan karya mereka.

Karya yang layak, akan dipasarkan melalui sejumlah aplikasi music andriod yang bisa diakses di 28 negara lain selain di Indonesia sendiri.

Bagi Yudhistira, kearifan lokal masyarakat Lombok melalui seni musik tradisional itu memiliki keindahan dan keunikan khas yang pasti akan diminati banyak penikmat musik di mancanegara.

"Hal ini sedang kita coba kembangkan. Nantinya kelompok Kecimol akan mendapatkan penghasilan dari prosentase hasil karya di didownload masyarakat luar negeri," pungkasnya.(RZ) 

No comments:

Post a Comment