Wednesday, June 26, 2019

Wagub : Industrialisasi Ikan Pindang NTB Punya Potensi

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, memberikan sambutan dalam acara Bussiness Matching Meeting (BMM), antara Produsen Ikan Pindang Sektor Pariwisata dan Industri Komersil oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) Regional Indonesia di Hotel Lombok Plaza, Rabu (26/6/19).
Mataram (postkotantb.com)- Salah satu program unggulan yang saat ini digagas oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTB adalah industrialisasi. Dalam hal ini, NTB sebagai salah satu sentra produksi ikan pindang di Indonesia, dimana data tahun 2016 menunjukkan bahwa produksi ikan pindang NTB mencapai 53.326 ton.
Hal ini merupakan potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri ikan pindang, dimana ikan tidak hanya dijual begitu saja, tapi sisi kualitasnya dapat lebih baik, sehingga meningkatkan nilai tambah.
Demikian ungkap Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, saat hadir sekaligus memberikan sambutan dalam acara Bussiness Matching Meeting (BMM), antara Produsen Ikan Pindang Sektor Pariwisata dan Industri Komersil oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) Regional Indonesia, bekerjasama dengan Pemprov NTB Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB,  di Hotel Lombok Plaza, Rabu (26/6/19).
Untuk itu, agar pelatihan ini dapat dirasakan manfaatnya, harus ada transfer knowledge. "Bagi yang sudah dilatih nanti bisa dibagi ilmunya, kepada kelompok lain yang belum mendapat kesempatan dilatih", pesan Hj. Rohmi.
Hj. Rohmi juga berharap, semoga program yang sudah dilaksanakan FAO bekerjasama dengan KKP dan Pemprov. NTB ini bisa terus dilanjutkan, sehingga tidak hanya sampai kepada kelompok yang dibantu saja, termasuk akan menyasar strategi marketing yang semakin baik.
"Mudahan bisa terus berkolaborasi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Ir. Lalu Hamdi, menyampaikan tujuan kegiatan ini untuk menginformasikan kepada konsumen potensial, seperti para pelaku pariwisata, perhotelan, retail modern dan lainnya untuk bisa memanfaatkan prodak ini.  
"Kami berharap kepada FAO, mudah-mudahan setelah ikan pindang ini dibantu meningkatkan kualitasnya, kami bisa dibantu juga untuk pengolahan garam, karena itu masih dipasarkan bahan bakunya keluar sebab belum bisa diolah disini, kita ingin tingkatkan kualitasnnya dan juga kemasannya yang higienis", tambahnya.
Saat yang sama, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP RI yang saat itu diwakili Catur Wicaksono, mengatakan proyek ini didanai oleh pemerintah Jepang, untuk memberikan kontribusi yang signifikan dan mata pencaharian bagi nelayan.
Catur juga mengungkapkan salah satu alasan memilih ikan pindang sebagai komoditas utamanya dikarenakan, cara pengolahannya yang sederhana dan perawatan yang relatif mudah, populer dan digemari masyarakat, rasanya yang tidak asin dan memiliki asupan protein lebih banyak.
Dengan cara pengolahan pindang yang sudah dimodifikasi akan menghapus pandangan akan kurangnya kebersihan dan cara olah yang kurang baik selama ini.
"Kita telah melakukan pelatihan dan pengembangan prodak mulai Tahun 2018. Kedepan, kami harap dapat menghasilkan produk ikan pindang yang higienis dan diminati seluruh masyarakat", ucapnya.

Terakhir, Catur Wicaksono mengucapkan terimakasih kepada FAO, KKP, Pemprov NTB, Dislutkan NTB atas dukungannya, kami harap dapat menghasilkan produk-produk bermutu untuk masyarakat. (RZ)

No comments:

Post a Comment