Dorong Lahirnya Perda, AMAN Gelar Diskusi


Sumbawa (postkotantb.com)- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), menggelar diskusi untuk mendorongnya lahirnya perda tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat adat di Kabupaten Sumbawa. Dalam diskusi tersebut beberapa pakar  dihadirkan diantaranya Ahmad Yamin, .Andi Haris, Supriadi, Rony Hartono,  Irwansyah dan Hadiatul Hasanah. Dalam diskusi tersebut mengambil tema dengan "Melihat Kembali Peluang dan Tantangan Dalam Mendorong Pengakuan dan Perlindungan Hukum Masyarakat Adat di Kabupaten Sumbawa"

Menurut  Ahmad Yamin bahwa Desa memiliki  kewenangan dan hak asal usul, sehingga bisa membuat regulasi ditingkat desa.

"Kaitan dengan pengakuan masyarakat adat sebagai  wujud pelaksanaan hak rekognisi desa ditingkat Desa,"ungkapnya kepada wartawan (20/2)

Sementara itu  DR Andi Haris menjelaskan bahwa harus ada integrasi antara hukum adat dengan hukum nasional.

"Dalam hal mendorong perda ini harus dikonsolidasikan dengan baik agar publik bisa memahami apa pentingnya masyarakat adat itu sendir.

 Sementara Supriyadi seorang akadenisi mengatakan bahwa  usulan pembentukan perda ini sangat substantif dan urgen. Oleh karena itu  perlu bangun komunikasi yang intens dengan semua pihak terutama legislatif dan eksekutif.

Sementara itu pengamat politik dan sosial masyarakat Irawansyah mengatakan bahwa  hambatan perda ini adalah adanya  sedikit gesekan antara masyarakat adat dengan LATS.

"Padahal substansi yang dibicarakan sama, sebenarnya gesekan ini tuntas ketika dikomunikasikan bersama,"terangnya.

Hal senada dikatakan perwakilan Solidaritas Perempuan Sumbawa Hadiatul Hasanah mengatakan untuk mendukung proses lahirnya perda ini perlu penguatan masyarakat adat  di tingkat komunitas baik itu perempuan dan laki agar tidak bias gender.

Lanjut Atul sapaan akrabnya,  sehingga perempuan memiliki akses yang setara dengan laki-laki terhadap penguasaan dan pengelolaan lahan, pendidikan, dan informasi.

" Sangat penting agar komunitas ini menjadi kuat, sehingga bisa meng advokasi hak- hak serta kampanye untuk menggalang dukungan publik dalam mendorong pemenuhan perlindungan masyarakat adat,"tegasnya.

Sambung Atul,  karena jika semua komunitas adat bersatu maka akan bisa memberi pengaruh besar karena suara rakyat adalah suara tuhan,"tambahnya.

Sementara itu Ketua AMAN Sumbawa Jasardi Gunawan  bahwa Posisi isu masyarakat adat saat ini  di Sumbawa sejak tahun 2016 pernah diusulkan melalui Prolegda dan menjadi inisiatif Komisi 1 DPRD Sumbawa. Namun, ketika tahun 2017 ranperda tersebut dibahas namun ditolak oleh semua fraksi termasuk oleh Demokrat dan komisi.

"Pasca itu sampai saat ini belum ada dinamika kaitan dengan pengakuan masyarakat adat di Sumbawa,"katanya.(SHK)