Tidak Transparan, Proyek Pengeboran Air Baku Didemo Warga

, Sunday, May 10, 2020 WIB Last Updated 2020-05-10T13:59:21Z
Puluhan perwakilan warga dari berbagai dusun, Sabtu (09/05) turun di lokasi proyek Pengeboran Air Baku Milik PT. Air Minum Giri Menang (Perseroda)

Lombok Barat (postkotantb.com)- Proyek Pengeboran Air Baku milik PT. Air Minum Giri Menang (Perseroda) yang dikerjakan di Desa Lebah Sempaga didemo warga Desa. Aksi demo sekaligus pemboikotan yang terjadi Sabtu (09/05) dilokasi pekerjaan proyek, dipicu oleh tindakan pemerintah daerah dan kontraktor, yang dinilai tidak transparan serta kooperatif di dalam pelaksanaan pekerjaan proyek.

Salah satu massa aksi Nasri mengatakan, aksi yang dilakukan oleh warga ini, disebabkan adanya pengerjaan proyek pengeboran air baku yang dikerjakan oleh PT. Air minum Giri Menang, yang dimana Perusahaan tersebut sebelumnya tidak pernah melakukan sosialisasi terkait pengerjaan proyek tersebut.

"Aksi ini dilakukan warga karena imbas dari Pemerintah desa dan Perseroda tidak melakukan sosialisasi dan meminta persetujuan warga, terhadap keberadaan proyek itu," ujarnya.

Bahkan pada saat pelaksaan proyek di mulai hingga pengeboran mencapai kedalaman 112 meter,  papan informasi proyek tidak pernah dipanelkan oleh pelaksana proyek. Sehingga memunculkan asumsi bahwa pekerjaan proyek diduga siluman.

"Kami protes keberadaan Proyek itu. yang anehnya lagi, Kenapa bisa muncul berita acara persetujuan keberadaan proyek yang ditandatangani kepala Desa dan BPD. Nilai proyeknya saja kami tidak mengetahuinya,"Cetusnya.

Meskipun lahan di lokasi proyek, milik perusahaan, lokasi itu masih masuk wilayah Desa. Tentunya lintas koordinasi antara Perusaan Air minum, Pemerintah Desa dan kontraktor semestinya disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat, sebelum menandatangani surat persetujuan di atas materai.

Senada juga disampaikan Sahnan. Menurutnya, Keberadaan proyek ini telah memunculkan indikasi adanya kecacatan pemerintah terhadap implementasi tata laksana administrasi proyek. Sudah menjadi kewajaran, di tengah ancaman pandemi Covid 19, warga memaksakan diri untuk turun ke lokasi proyek demi tegaknya aturan.

Di sisi lain, apabila pengeboran proyek air selesai dan air mulai disuplay ke sejumlah wilayah, diprediksi dapat mengurangi volume air di wilayah desa. Sehingga berhujung semakin berkurangnya ketersediaan volume air untuk warga di desa setempat.

"Kami sebagai masyarakat meminta pemerintah desa hentikan pekerjaan proyek. Supaya kondisi masyarakat tidak diributkan perilaku oknum di lingkup pemerintah,"tutupnya.

Aksi warga kemudian dilanjutkan di kediaman Kades untuk meminta klarifikasi. Rombongan massa aksi kemudian ditemui langsung oleh Kades Mohammad Adi.

Dalam klarifikasinya kepada rombongan massa aksi, ia beralasan bahwa sebelumnya telah menolak permintaan perusahaan Air minum tersebut, untuk pelaksanaan proyek.

Akan tetapi penolakannya tidak dianulir. Sebab dinilai berbenturan dengan aturan yang lebih tinggi. Kendati demikian, ia bersedia menerima dan menyampaikan penolakan warga dengan membuat berita acara penolakan dan pemberhentian aktifitas proyek.

Untuk Sementara, ia meminta agar para pekerja di lokasi pengeboran air untuk menghentikan aktivitas pengemboran, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kami meminta tandatangan penolakan dan penghentian proyek dari warga. insya Allah kami buatkan berita acara dan kami segera sampaikan kepada pihak perusahaan,"tandasnya. (Syafrin)
Komentar

Tampilkan

Terkini