-->

"Jangan sampai tidak mati karena Covid-19, tapi malah mati karena kemiskinan"

, Saturday, June 13, 2020 WIB Last Updated 2020-06-13T14:18:23Z
Penulis : Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H. Saiful Ahkam untuk Dua Bulan ke Depan.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat H. Saiful Ahkam

Pasca ditetapkan sebagai pandemi, maka Covid 19 ini menjadi momok untuk semua kawasan, negara, bahkan regional di NTB. Tidak terkcuali di Lombok Barat maka Covid 19 ini tidak hanya menjadi isyu dan masalah kesehatan dan keselamatan jiwa karena pola penularannya yang sangat massif dan rentan, serta tidak berbanding lurus dengan kesiapan Lombok Barat dengan fasilitas kesehatan yang massif dan memadai, tenaga kesehatan yang mencukupi, dan bahkan anggaran yang banyak untuk kesehatan atau dengan ikutannya, yaitu dampaknya secara sosial ekonomi.

Setelah berjalan hampir empat bulan untuk upaya mengendalikan penularannya melalui pembatasan sosial, seketika dampaknya menjadi sangat kentara dan terasa, tidak lagi sekedar menjadi isyu medis atau dunia kesehatan, namun lebih massif mengimbas aspek sosial ekonomi masyarakat kita.

Pariwisata menjadi salah satu sektor kasat mata yang paling terkena imbasnya. Tidak kurang dari 3 ribu warga Lombok Barat yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata, 35 hotel berbintang dan 209 non bintang, ratusan restaurant dan sektor kuliner, pub dan hiburan, ratusan toko dan pedagang souvenir, puluhan perusahaan travel, dan banyak lagi bidang kepariwisataan lainnya sudah hampir mati dengan tidak adanya aktivitas bisnis selama 3 bulan ini. Mereka terancam bangkrut.

Jika ini dibiarkan berlarut, wassalam buat mereka. Mereka mati dan akhirnya akan menciptakan pengangguran dan kemiskinan baru yang tidak kalah beratnya dengan kemiskinan sebelumnya karena mereka harus  kehilangan dunia aktivitas ekonomiknya.

Saat ini adalah kenyataan, Lombok Barat berada pada transisi menuju kenormalan baru. Secara grafis, Lombok Barat berada di zona kuning yang menempatkanya Transisional Menuju New Normal. Bukan new normal secara langsung di mana kehidupan berjalan seperti sedia kala saat Covid-19 belum menjadi pandemis.

Kepentingan keselamatan dan kesehatan harus dikonvergensi, dan harus dikompromikan dengan kepentingan ekonomi.

"Jangan sampai tidak mati karena Covid-19, tapi malah mati karena kemiskinan".


Langkah kita, yaitu kita harus segera berbenah menyiapkan kondisi pembiasaan baru buat masyarakat dan pelaku industri pariwisata. Yaitu dengan membuka akses warga terhadap pariwisata sembari ketat dengan protokol kesehatan. Memberi kesempatan pelaku pariwisata menggeliatkan kembali denyut nadi kehidupan ekonominya.

Keduanya bisa berjalan secara beriringan dengan damai. Keduanya bisa bertemu dengan tradisi berwisata gaya baru.

Target terdepan Dinas Pariwisata Lombok Barat adalah menghidupkan terus semangat dunia usaha kepariwisataan sambil mempromosikan potensi wisata.

Bila menggeliat, baru secara perlahan  mencari sasaran pasar. Dengan gaya baru ini, yaitu "GEMBIRA BERWISATA DENGAN PROTOKOL COVID-19", pasar sasarannya adalah lokal terlebih dahulu.

Kami percaya, suasana stay at home pasti membosankan semua orang. Orang-orang pasti ingin segera beranjak dan menikmati dunia luar rumah mereka yang lebih semarak.

Kami yakin, pangsa pasar ini untuk permulaan akan memancing industri pariwisata Lombok Barat akan menawarkan paket yang kompetitif buat wisatawan lokal. Terdepannya, sasaran pasar berikut adalah domestik nusantara.

Saya berkeyakinan, pasar ini masih terbuka untuk digarap asalkan dikemas dg promo kreatif tentang fasilitas, atraksi, dan harga yang lebih bersaing dengan daerah lain. Saya optimis angka kunjungan akan beranjak naik seiring akses bandara dan pelabuhan sebagai pintu masuk lebih terbuka.

Kalaupun sulit, maka khusus untuk hotel, saya berharap semua pihak bisa lebih kreatif menghadirkan atraksi agar wisatawan pengunjung bisa berlama-lama menginap. Target kita adalah rerata lenght of stay yang semakin membaik dan bertambah.*
Komentar

Tampilkan

Terkini