-->

Menuju Tatanan Baru, Masyarakat Harus Satukan Persepsi Bahaya Covid-19

, Thursday, August 06, 2020 WIB Last Updated 2020-08-11T17:57:27Z
Kadis Kominfotik NTB I Gede Putu Aryadi mengatakan untuk menuju tatanan baru masyarakat harus satu persepsi tentang bahayanya covid-19
Mataram (postkotantb.com) - Kabar tidak benar atau disinformasi tentang covid-19 masih banyak beredar di media sosial. Ditambah lagi dengan belum kompak dan bersatunya para tokoh masyarakat menghadapi pandemi, menjadi penyebab utama masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan covid-19.

Karena itu, masyarakat menjadi tidak percaya dan cenderung meremehkan keberadaan covid-19. Padahal setiap harinya kasus positif covid-19 masih terus bertambah dan Provinsi NTB masih dalam status Zona Merah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfo) Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, saat menjadi narasumber dalam Webinar Talk Show "Menuju Tatanan Baru NTB" yang diinisiasi dan disiarkan langsung oleh Inews TV Mataram, Rabu (5/8).

"Karena banyak pendapat yang menyebutkan covid tidak benar. Inilah yang menyebabkan sikap pagah masyarakat," jelas mantan Irbansus Inspektorat Pemprov NTB tersebut.

Padahal, lanjut Gede panggilan akrab Kadis Kominfotik NTB, pandemi covid-19 ini nyata adanya dan mengancam hidup banyak jiwa. Serta banyak berdampak pada laju sosial ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, berbagai hal diikhtiarkan Pemprov NTB melalui Diskominfotik NTB selaku anggota gugus tugas penanganan Covid-19 untuk terus mengedukasi masyarakat. Seperti bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB membuat portal website resmi pandemi covid-19.

Diskominfotik NTB juga bekerjasama dengan media daring maupun cetak menyiarkan kabar terkini covid-19. Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, setiap hari bahkan menyiarkan perkembangan covid-19 secara live di akun sosial media Diskominfotik NTB. Untuk itu, masyarakat diminta bijak dalam memilih dan memilah informasi agar tidak mudah termakan hoax.

Lebih jauh Gede menjelaskan, selain harus mendapatkan kabar yang benar, masyarakat dan pemerintah harus memiliki pandangan yang sama tentang covid-19. Sehingga langkah-langkah preventif seperti menjalankan protokol kesehatan dapat dijalankan secara konsisten dan disiplin.

"Kita harus memiliki pandangan yang sama tentang covid-19. Covid-19 ada bersama kita sehingga kita harus hidup dengan protokol kesehatan yang ketat sampai vaksinnya ditemukan nanti," jelas Gede.

Selain terus mengedukasi masyarakat,  baru-baru ini Pemerintahan melalui DPRD Provinsi NTB juga telah mengesahkan Peraturan Daerah terkait pencegahan Covid-19. Dengan payung hukum ini, masyarakat jadi lebih terikat dengan diberlakukannya sanksi.

"Tujuan peraturan ini bagaimana masyarakat NTB bisa selamat dari penyakit menular adapaun sanksi hanyalah media agar masyarakat mau patuh," tegas Gede.

dr. Eka, panggilan akrab Kadikes, dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan kondisi terakhir pandemi covid-19 di NTB pertanggal 4 Agustus 2020. Sebanyak 2.196 kasus positif terkonfirmasi diantaranya, 707 orang konfirmasi masih dalam isolasi, 1.365 orang sembuh, 124 orang meninggal, 302 kasus suspek masih isolasi, 2.055 kontak erat masih karantina, dan 1.110 pelaku perjalanan masih karantina.

"Sementara itu angka attack rate dan case fatality rate kasus covid-19 di Provinsi NTB sampai dengan tanggal 4 Agustus 2020 adalah, dari 5.125.622 jumlah penduduk di NTB 2196 kasus terkonfirmasi, dengan attack rate 42,84 per 100.000 penduduk," jelasnya.

Karena masih banyaknya kasus covid-19 di Provinsi NTB, dr. Eka meminta masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol covid-19. Dengan cara menjaga kondisi tubuh tetap sehat, tidak stress, menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin cuci tangan. (RZ)
Komentar

Tampilkan

Terkini