-->
  • Label

    Copyright © Pos Kota NTB
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Tak Menyerah meski Berkali-kali Merugi

    , Tuesday, October 27, 2020 WIB Last Updated 2020-10-26T19:41:12Z

    Rentetan perjalanan Lalu Buntaran, menjadi sejarah yang menghantarkan dia ke puncak kesuksesan.

    Lombok Tengah (postkotantb.com)- Lalu Buntaran, Pria asal Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Budidaya sarang walet yang digeluti, menghantarkan Buntaran ke tampuk kesuksesan dan Hingga saat ini, ia dikenal sejumlah kalangan sebagai pengusaha sukses.


    Pria ini gemar menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan amal. Kini dia telah membangun MTs dan Sekolah Tahfiz Al-qur'an. Tidak hanya itu. Sebuah masjid megah pun turut dibangun sebagai sarana beribadah umat dan sekaligus menjadi tempat berkumpulnya tokoh masyarakat. Kemudian dalam waktu dekat, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Amar Sasambo Akan dibangun.


    Didampingi sang istri, dia pun telah memproduksi kuliner olahan berbahan dasar walet berpadu rempah alami. Diantaranya Bubur walet dan Kopi Cold Brow. Selain dari sisi bisnis, Buntaran memiliki hajat agar masyarakat lokal dapat menikmati hidangan sarang walet tersebut. (postkotantb.com edisi 24 Oktober 2020).


    "Seluruhnya di bawah naungan Yayasan Amar Sasambo,"ujar dia, saat duduk santai dikediamannya, Jumat pekan lalu.


    From Zero to Hero. Dibalik kesuksesan itu, jatuh bangun dalam berpetualang turut menjadi penghias pamornya. Tentu, waktu serta materi ikut dikorbankan demi pencapaian cita. Yakni, membawa pulang perubahan bagi daerahnya di Loteng.


    "Saya berniat membangun desa. Itu mimpi besar saya. Karena di sini kondisinya dulu kering kerontang dan masyarakat sulit mencari nafkah,"ungkap Buntaran sambil mengingat kisah petualangannya.


    Tepatnya tahun 1998. Kala itu, Buntaran memutuskan berangkat ke Bali. Daerah ini merupakan kali pertama Buntaran menginjakan kaki di tanah rantau. Setelah beberapa bulan di  pulau Dewata, Buntaran melanjutkan petualangan ke negeri jiran Malaysia. Di sana, dia bertemu dengan masyarakat dengan pelbagai macam karakteristik.



    Tak puas bertarung, dia kemudian mengarah ke negara Singapura dan Thailand. Perjuangannya pun dijalaninya optimal. Namun,apa yang dihajatkan tidak diperolehnya. Buntaran pun memutuskan pulang. Sempat sebentar dia singgah ke Bali dan akhirnya tiba di Lombok.


    "Itupun saya tidak langsung pulang ke Kateng. Malah saya mulai buka usaha di Senggigi dan tinggal di Melase, "imbuhnya.


    Sekitar tanggal 18 Agustus 2000, Buntaran menggelar Grand Opening SPA. Setelahnya, dia menggeluti usaha itu tanpa sedikit pun pengalaman dan keterampilan, hanya bermodal prinsip dan keyakinan. Apes baginya, belum lama menikmati usaha itu, dia pun mengalami kerugian akibat peristiwa Bom Bali I, disusul Bom Bali II.


    Diakui dia, Seluruh usaha di wilayah itu sepi. Banyak pengusaha berakhir dengan kisah gulung tikar. Buntaran sendiri, akhirnya pulang ke Desa Kateng. Pantang menyerah, dia kembali membuka usaha toko material. Mulai tahun 2010 sampai 2013, toko itu pun kemudian ditutup. Buntaran kembali alami kerugian besar.


    "Usaha saya bubar, mungkin karena salah berkhidmat,"tuturnya.


    Setelah seluruh perjuangan dilalui, dia pun beralih ke budidaya sarang walet. Upaya itu dimulai dari nol persen. Awalnya, dia hanya memiliki satu bangunan sarang walet. Lambat laun, budidaya itu mengalami kemajuan. Sehingga Buntaran mampu membangun satu bangunan lagi dan saat ini, dikediamannya telah berdiri tiga bangunan sarang walet.


    "Dari 1998 sampai sekarang jadi hoki saya ternyata di walet. Modal yang saya gunakan dari tahun '98 sampai rugi berkali-kali atas dasar  modal saya sendiri,”tutupnya.(rin)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini