-->
  • Label

    Copyright © Pos Kota NTB
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Geliat Ekonomi di Tiga Sektor Meningkat 70 Persen

    , Monday, November 16, 2020 WIB Last Updated 2020-11-15T17:56:18Z

    Kepala Desa Sigerongan, Dian Siswadi Halisaswita, S. Pd.I., MM.

    Lombok Barat (postkotantb.com)- Geliat ekonomi di Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), berangsur-angsur membaik. Perlu diketahui, desa ini memiliki tiga sektor potensial di sejumlah dusun untuk pengembangan ekonomi lokal. Diantaranya sektor perikanan, sektor peternakan dan sektor home industri.


    Kini, kondisi perekonomian di masing-masing sektor tersebut, tercatat mengalami peningkatan yang signifikan, yakni mencapai 70 persen. Angka demikian sebagai  representasi kinerja pemerintah desa setempat yang tak henti-hentinya berinovasi melalui konsep “kembali ke Kampung” guna mengantisipasi Pandemi Covid 19.


    Konsep tersebut, bertujuan menjadikan wilayah desa sebagai sentra perputaran ekonomi, melalui aktivitas jual-beli masyarakat desa agar roda perekonomian lokal tetap bergerak dan berimbas pada pendapatan masyarakat. Konsep ini memanfaatkan potensi yang ada.


    “Kami ajak masyarakat untuk berbelanja di kampung. Otomatis uang akan tetap beredar, roda perekonomian bergerak, masyarakat sejahtera jadinya,”ungkap Kepala Desa Sigerongan, Dian Siswadi Halisaswita, S. Pd.I, MM, dikediamannya Jumat pekan lalu.


    Diakui dia, persentase peningkatan itu, berdasarkan beberapa indikator. Pertama, aktivitas perdagangan dan jual-beli lancar serta jumlah pemesanan dari pembeli meningkat. Kedua, keran pinjaman dari pihak perbankan mulai terbuka untuk UKM. Salah satunya, pinjaman modal usaha dari Bank Mandiri. Ketiga, kondisi di pasar tradisional Duman, mulai dipadati pembeli.



    Peningkatan ekonomi masyarakat juga tidak lepas dari keberadaan bazar ikan hias di Dusun Embung Pas. Setelah diresmikan beberapa waktu lalu, tiap minggunya dusun yang dikenal sebagai pusat ikan air tawar itu mampu menghasilkan Rp. 20 juta sampai Rp. 30 Juta. Selanjutnya terkait akitivitas BUMDes, sebagai salah satu corong pendapatan asli desa (PADes). Pihaknya memaksimalkan peran BUMDes melalui penyediaan kebutuhan masyarakat.


    “Seperti De Konsesnsus Coffe. Jadi Ownernya selalu membeli kebutuhan untuk usaha itu di BUMDes sebagai bentuk kontribusi pelaku wirausaha,”imbuhnya.


    Di masa pandemi Covid 19 jelas dia, sangat berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Sebagai pemangku amanah, pihaknya tidak berpangku tangan. Pelbagai langkah diupayakan demi menghindari keterpurukan ekonomi. Kendati masih sebatas di tataran dusun, dampak dari setiap upaya tersebut, mulai dirasakan masyarakat dan tentunya, memangkas jumlah pengangguran.


    “Saya berfikir bagaimana ekonomi lokal ini bisa hidup dulu. Masyarakat bisa cari nafkah dulu lah. Karena selama pandemi, setiap sektor belum jalan sama sekali.”tutupnya.(rin)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini