Cerita Lalu Buntaran Yang Sukses Bisnis Walet

Tim ading walet saat keliling Loteng-Mataram kemarin

Untung Rp 35-Rp 55 juta Per kg, hingga ia sebut bisnis walet jelmaan harta karun

Tuhan selalu memberikan jalan kepada hambanya dalam mencari rizki, kadang rizki itu datang tak disangka sangka. Seperti yang dilakoni Ading Walet Lalu Buntaran, sarang burung walet yang ia geluti bisa dia ekspor Rp 35 hingga Rp 55 juta per kg dan bisnis ini ia sebut bagaikan jelmaan harta Karun.

SAPARUDDIN

LOMBOK TENGAH

Al-Qur'an dalam kitab suci Al-Qur'an, surah Al-Jumuaah ayat 10,  Allah  SWT telah menyebutkan yang artinya "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung". Atas janji tersebut, tinggal kita sebagai ummat dituntut untuk berusaha dan bersyukur, guna mencari ridhonya.

Seperti yang dilakoni Lalu Buntaran atau yang biasa dipanggil Ading walit, yang mencoba untuk mencari keberuntungan atau ridho Allah dengan cara membuka bisnis sarang burung walet.

Tahun 2015 silam, ia membangun rumah walet kecil kecilan Di tanah kelahirannya di Desa Kateng Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah. Membesarkan bisnis sarang waletnya, Ading tidak butuh waktu banyak, dalam jangka dua tahun, bisnis sarang waletnya sudah tembus hingga Nasional.

Memasuki tahun ke tiga, atau tahun 2019, sarang waletnya sudah mulai dipasarkan ke luar negeri.

"Selama dua tahun itu, Alhamdulillah sarang waletnya, bisa saya jual Rp 12 juta hingga Rp 15 juta per kg dan tahun 2019, bisa saya pasarkan Rp 35 juta hingga Rp 55 juta per kg," tutur Lalu Buntaran kepada poskotantb.com, Senin (22/3).

Besarnya keuntungan yang ia peroleh lanjutnya, bisnis sarang burung walet ini, pihaknya menyebutnya jelmaan harta Karun. Kenapa pihaknya mengatakan demikian, sebab jarang ada usaha atau bisnis yang begitu cepat, artinya tak membutuhkan waktu lama, sudah bisa meraup keuntungan fantastis. Sehingga pihaknya menamakannya bisnis ini jelmaan harta Karun.

"Tentunya saya tetap kedepankan bersyukur, sebab tak ada usaha tanpa pertolongan Allah,. Makanya bersyukur adalah paling utama dan saya yakin, jika kita tetap bersyukur maka Allah akan selalu membukakan pintu Rizki dan kasih sayangnya kepada hambanya yang pandai bersyukur," paparnya panjang.

Dikatakan, menjadi peternak rumah burung walet itu sangat luar biasa, sebab tanpa modal dan operasional yang memadai, ia sudah menghasilkan banyak uang. Kendati pihaknya akui, untuk memperbesar dan memberikan rasa aman nyaman terhadap burung peliharaannya, itu membutuhkan modal cukup besar, tapi semua modal akan kembali dan malah lebih besar ratusan kali lipat, jika dibandingkan dengan modal.

"membangunkan gedung rumah burung walet, memang saya akui butuh modal besar. Tapi ingat, semua dalam jangka waktu tak terlalu lama, modal itu akan kembali dan bahkan ratusan kali lipat keuntungan kita bisa dapatkan," ungkapnya.

Untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada burung walet,  gedung rumah walet yang harus disiapkan minimal ukuran 12x12 m lantai 3 dan itu butuh modal besar. "Tapi ingat, hasil dan keuntungan yang akan kita dapatkan sangat fantastis," ulangnya.

Dijelaskan, untuk pemasaran kelas internasional, Alhamdulillah sarang walet sudah tembus di sejumlah negara negara maju dan berkembang Se-benua Asia, seperti negara Cina, Taiwan, Bangkok, Timur Tengah, Malaysia, Singapore dan beberapa negara lainnya. 

Termasuk di negara Eropa. "Kalau kelas nasional, tahun 2016 sudah banyak kita pasarkan, ekspor ke internasional kita sudah mulai buka sejak awal tahun 2019 silam dan Alhamdulillah, sampai sekarang masih eksis. Dan malah saya oftimis disejumlah benua juga kita sedang usahakan untuk ekspor," ujarnya. "Tahun ini paling banyak yang meminta pesanan Cina dan Taiwan," sambungnya.

Ia menambahkan, untuk sementara ini, gedung walet dengan jargon Ading Walet, sudah punya cabang atau gedung sendiri baru 13. Dan itu semua sudah tersebar di NTB, dan gedung paling banyak di Kampoeng walet Kateng, Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah.

"Tahun ini kita sudah punya 13 gedung walet, terbanyak di induknya yakni di tanah kelahirannya di Desa Kateng," terangnya.

Ading menambahkan, kalau diatas itu berbicara gedung walet atas nama dirinya, sedangkan untuk peternak walet atau yang lebih keren disebut Asosiasi peternak "Ading walet Group" yang beranggotakan 199 lebih, memiliki gedung kurang lebih 259 gedung.

Sedangkan untuk keakraban antar anggota, sekali sebulan pihaknya mengadakan roadsow keliling, seperti yang sudah ia lakukan Minggu kemarin. Mulai dari Loteng dan Mataram, selanjutnya finis di Kateng sambil menikmati minuman ala Ading sarang walet kopi madu menyehatkan. "Sehat itu indah, sehat itu baik dan sehat itu kuat," cetusnya.

Besarnya peluang penghasilan walet kedepan, pihaknya berharap masyarakat bisa membuka kesempatannya untuk bisnis sarang burung walet, lebihnya lagi disaat kondisi ekonomi ditengah pandemi Covid-19, masyarakat bisa memulihkan kondisi ekonomi.

"Saya jadi saksi dan membuktikan khasiat dan lebihnya bisnis sarang walet, dalam mengubah hidup lebih baik dan keberhasilan ini bisa kita sama sama nikmati," tutupnya. (AP).