STPI Jadikan Desa Sesela Sebagai Contoh Desa Siaga TBC

Rusman Efendi, Kepala Puskemas Desa Sesela 

Lombok Barat (Postkotantb.com) - Penyebaran Penyakit TBC (Tuberkulosis) di Nusa Tenggara Barat (NTB) setiap tahunnya mencapai 3.000 dengan 75% adalah masyarakat dalam usia produktif. Sedangkan di wilayah Lombok Barat (Lobar) sendiri berdasarkan data dari Dinas Kesehatan NTB, kasus TBC mencapai 2.513 yang diestimasi menderita penyakit TBC dengan penyebaran TBC yang paling banyak di wilayah Lobar berada di Kecamatan Gunungsari

Stop TB Patnershif Indonesia (STPI) menjadikan Desa Sesela menjadi desa pencontohan di daerah Lobar sebagai Desa Siaga TBC. Lalu Hadi Irawan, Field Officer STPI Lombok Barat menyatakan, desa yang menjadi pencontohan sebagai Desa Siaga TBC di Lobar itu dua, salah satunya adalah Desa Sesela yang ada di Kecamata Gunungsari dikarenakan mempunyai kasus tertinggi penyebaran TBC.  

“Menjadikan dua desa sebagai desa siaga TB. untuk kasus di desa ini sama-sama tinggil. Kalau kita melihat data Desa Sesela terutama tahun 2018 sampai 2021 ini masih bertengger di peringkat pertama di Kecamatan Gunungsari,” hal itu dijelaskan Lalu Hadi pada saat acara Penyusunan Profil Desa dan Rencana Aksi Desa Dalam Penangulangi TBC di Aula Kantor Desa Sesela, Selasa (04/05)

Dikatakan Lalu Hadi, untuk penanganan TBC di Desa Siaga ini nantinya dibentuk tim yang berjumlah 10 orang untuk memberikan pendampingan kepada masyakat untuk bersama-sama menangani dan melawan TBC. “Untuk penanganan yang kita harapkan setelah terbentuknya desa siaga TB ini, kemudian kita sudah kukuhkan tim dan tim itu berjumlah 10 orang.

Harap Lalu Hadi pada tahun 2023-2024 dengan terbentuknya tim dan kader yang ada di Desa Sesela ini kasus TBC bisa terselesakan dengan tim dan kader Desa yang sudah diberikan pelatihan sebelum melakukan pendampingan kepada masyarakat. 

“ Mudah-mudahan pada tahun 2023 atau 2024 mendatang, kasus TB di desa sesele ini bisa diselesaikan dengan adanya tim dan kader desa. Ke depan kita akan laksakan di Desa Sesela ini untuk pelatihan kader dan di sana ada pelatihannya di lapangan menjaga septic dan menbawa pot dahak, dan kemudian mengontrol pasien.”

acara Penyusunan Profil Desa dan Rencana Aksi Desa Dalam Penangulangi TBC di Aula Kantor Desa Sesela, Selasa (04/05)
Teroisah Rusman Efendi, Kepala Puskemas Desa Sesela menuturkan pihaknya sudah bertemu dengan tim dari Dinas Kesehatah NTB dan Pemerintahan Daerah (Penda) Lobar untuk bersama-sama dengan Puskesmas Sesela melawan TBC.

“ Kalau di Sesele ini kita sudah komitmen dengan Tim Dinkes dan tim Pemda serta anggota dewan dan pemerintah desa siap membackup kegiatan ini,” tutur Rusman Efendi.

Dengan terpilihnya Desa Sesela, Rusman Efendi berharap Desa Sesela bisa menjadi desa percontohan sebagai desa yang sadar dengan TBC. Selain sebagai desa pencontohan di Lobar, di Kecamatan Gunung sari, Desa Sesela juga mempunyai kasus yang cukup tinggi di Gunungsari dengan jumlah 23 kasus.

“Karena terpilihnya desa Sesele ini jadi pencontihan desa lain di Lombok Barat. Memang salah satu pertimbangannya kalau kita lihat data-data di Gunungsari ini, Sesela dianggap cukup banyak kasusnya karena penduduknya padat,” penjelasan Rusman Efendi.

Kasus ditemukannya penyakit TBC di Desa Sesela masih minim dengan kasus 30% yang sudah ditemukan dan karena itu, Saeful Bahri, Sekteris Desa (Sekdes) Sesela menyatakan kondisi terkait TBC cukup memprihatikan dan pihaknya tetap akan mendorong dan memaksimalkan pencegahan TBC melalui Tim Siaga TB yang sudah terbentuk.

Lanjutnya Rusman Efendi berharap, kasus yang terjadi di Desa Sesela tetapi masih ada sedikit temuan. Kurang lebih ada 100an kasus dan hanya 30% yang ditemukan. Kondisi cukup memperihatinkan serta  pemerintahan Desa Sesela pun mendukung penanggulangan TBC di Sesela melalui Tim Siaga TBC yang sudah dibentuk.

“Kondisi yang memungkinkan kita perihatin dan wajib hukumnya untuk pemerintahan Desa Sesela untuk mendorong, secara maksimal penanggulangan TB di Sesela melalui Tim Siaga TB tersebut.”

Rohani Inta Dewi, Kodinator program eliminasi TV InspirasiI NTB pun menegaskan pada Tahun 2021, Lobar mempunyai 1.512 kasus TBC dan ada 700 yang baru ditemukan dan ditangani dikarenakan target penyesaikan TBC belum bisa melibatkan segala pihak, khususnya masyakat.

“ TB-nya itu 1513 dalam tahun 2021 ini, tapi tercapai 700 dan artinya masih banyak yang belum dicapai dari target. Target itu belu dicapai perlu melibatkan segala pihak. Karena TB ini tidak bisa diselesaikan oleh orang pelayanan kesehatan, dinas kesehatan, puksesmas dan lain sebagainya tapi perlu melibatkan masyakat.”

Lanjutnya, Rohani menyampaikan dalam penangan TBC ini tidak hanya pemerintah Lobar pun sangat mendukung dikarenakan Pemda Lobar pun tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini tanpa ada dukungan dan bantuan dari setiap elemen masyarakat.  “Kalau pemerintahan Lobar sangat welcome, saya yakin mereka paham karena bahwa ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Bayangkan dari 1513 kasus tepai dapat 700.” (YN)