Terlibat Tawuran, Dua Siswa Jadi Korban Pembacokan

PEMERIKSAAN: Pihak Reskrim Polsek Praya tengah memeriksa Korban, Sabtu (17/9).

 Sekolah diduga Lalai Awasi Siswa saat KBM Berlangsung


POSTKOTANTB, Lombok Tengah- Nasib malang dialami dua pelajar, yakni M. Irfan, siswa SMKN 2 Praya Tengah dan Deni, siswa SMAN 1 Praya Timur, Lombok Tengah. Keduanya, kini harus mendapatkan perawatan medis akibat terlibat aksi tawuran hingga dengan aksi pembacokan oleh sejumlah siswa yang notabene, satu sekolah dengan M. Irfan. Ironisnya, peristiwa tawuran terjadi, Sabtu (17/9), di tengah kegiatan belajar mengajar (KBM), sekitar pagi menjelang siang.

"Anak saya pamitan dari rumah mau ke sekolah, dengan tujuan ada yang mau dia ambil. Karena alasan mau ambil sesuatu akhirnya saya ijinkan walaupun hari ini dia libur," ungkap orang tua M. Irfan, Amaq Ratmisah warga Dusun Gawah Malang Desa Mujur.

Diakui Ratmisah, setelah selesai urusannya di sekolah, anaknya M. Irfan saat ingin pulang, menyempatkan diri untuk singgah ngopi di warung waeh, bersama rekannya, Deni. selang beberapa menit, datang tiga siswa SMAN 1 Praya Timur, asal Semoyang. Karena melihat anaknya tengah bersama Deni, tiga siswa tersebut berbalik arah. Beberapa menit setelahnya, tiga orang ini datang bersama siswa dan tanpa basa basi, langsung memukul. Saat berkelah, teman pelaku membawa senjata tajam.

"Anak saya bersama temannya sempat melakukan pembelaan, namun karena jumlah banyak dan tiba-tiba saja, anak saya dan temannya kena bacok senjata tajam. Kejadian itu spontan. Namun untung masyarakat yang ada di sekitar langsung melerai dan 20 pelajar SMAN 1 Praya Timur, langsung lari. Jika tidak, saya Ndak tahu luka anak saya pasti parah," imbuhnya.

Terpisah, Kades Mujur Junaidi mengaku, kejadian ini murni kelalaian pihak sekolah. Sebab ini terjadi saat jam aktif belajar. "Ini murni imbas dari kelalaian pihak sekolah, sebab terjadi di jam belajar," singgungnya.

Dia meminta agar pihak sekolah, lebih memperketat pengawasan terhadap siswa. Pasalnya, pemerintah desa setempat menerima laporan soal siswa yang sering keluyuran dan ngumpul di tempat tongkrongan, saat jam pelajaran. "Kejadian ini harus dijadikan pelajaran, terutama pihak sekolah untuk lebih intens mengawasi peserta didiknya, terutama saat jam belajar," cetusnya.

Dikonfirmasi, Kepala Puskesmas Mujur, Dr. Wirra Pranata membenarkan, terkait adanya pasien di UGD puskesmas, yang merupakan korban bacok. "Berapa jumlah jahitannya nanti saya tanyakan ke petugas UGD," singkatnya.

Sedangkan Polsek Praya Timur, IPTU Sayum, mengaku, persoalan ini tengah ditangani Kanit Reskrim Polsek Praya Timur. "Saya masih ikuti pelaksanaan vaksin di Bilelando, coba langsung ke Kanit Reskrim langsung dan korban sedang diperiksa," singkatnya.

Sampai berita ini ditulis, proses pemeriksaan di Reskrim Polsek Praya Timur masih berlangsung. Pemerintah desa dari dua belah pihak, antara desa Semoyang dan Mujur, masih melakukan rembuk bersama di berugak Polsek setempat. Sebaliknya, Kepala SMAN 1 Praya Timur, Awaluddin, ketika di datangi media, sedang tidak berada di tempat tugas. Bahkan dihubungi, via Polsel juga tidak aktif.(AP)