Kegiatan PKM 2020 di Enam Kabupaten di NTB Sukses

REHAB MANGROVE: salah satu titik lokasi kegiatan Rehabilitasi Mangrove (Bakau) yang dilaksanakan BPDASHL Dodokan Moyosari, Provinsi NTB
POSTKOTANTB, Mataram- Dalam rangka mendukung kegiatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahun 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK), melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Dodokan Moyosari, Provinsi NTB, tergolong sukses.

Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilan menuntaskan kegiatan Padat Karya Mangrove (PKM) di enam Kabupaten, di Provinsi NTB. "Kegiatan tersebut dilakukan pemerintah khususnya saat kondisi ekonomi Indonesia sedang kristis karena dihantam pandemi covid-19," ungkap Kepala BPDASHL Dodokan Moyosari, Provinsi NTB, Ir. Djarot Prihambodo, M. Si, belum lama ini.
PADAT KARYA: Program Rehabilitasi Magrove (Bakau) dilaksanakan secara Padat Karya, dengan melibatkan kelompok masyarakat.
Diakui dia, Rehabilitasi mangrove bertujuan memulihkan Kawasan hutan mangrove yang mengalami kerusakan, serta meningkatkan tutupan hutan mangrove. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL, red), merupakan upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan. Sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya, dalam mendukung sistem penyangga kehidupan, tetap terjaga.

"Tahun 2020, BPDASHL Dodokan Moyosari, melakukan PKM seluas 400 Hektare dengan menggunakan pola intensif dan rumpun berjarak. Dimana kegiatan ini melibatkan 24 kelompok masyarakat, beserta anggotanya dengan jumlah hari orang kerja (HOK), sebanyak 48.162 yang tersebar di 6 Kabupaten di Provinsi NTB," sebutnya.
TUMBUH: Magrove (Bakau) yang telah ditanam tumbuh dengan baik, sesuai harapan dari program rehabilitasi.

Dana padat karya penanaman mangrove ini, dibayarkan langsung ke rekening setiap anggota pokmas sebagai bentuk upah kerja dan kepada kelompok untuk pembelian bahan. Seperti untuk penyediaan bibit, bambu untuk ajir dan pelindung tanaman, sesuai dengan prestasi kerja dan tata minggu (mingguan atau dwi mingguan,red).

SUKSES: salah satu barometer kesuksesan BPDASHL Dodokan Moyosari, dalam melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove (Bakau) yakni hasil pertumbuhan bibit yang sangat baik.
Djarot berharap, pelaksanaan kegiatan ini dapat menjadi stimulus perekonomian, bagi masyarakat di sekitar ekosistem mangrove. Sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional, melalui pemberian kesempatan untuk berusaha dan melakukan aktivitas yang dapat memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat, serta ekosistem mangrove.

"Dari hasil kunjungan lapangan yang dilakukan oleh BPDASHL Dodokan Moyosari mendapatkan banyak pernyataan bahwa, banyak masyarakat pesisir yang terbantu secara ekonomi dan berharap bahwa, kegiatan ini dapat terus dilanjutkan. Selain itu juga hasil penanaman mangrove dapat dijadikan alternative untuk mendukung sektor pariwisata yang sedang berkembang pesat saat ini," jelasnya.(RIN)