Didik Siswa hingga Profesional Berwirausaha

Kepala SMKN 4 Mataram, Iwan Supriady, A. Md.Par., S. Pd, (tengah), bersama jajaran dan salah seorang siswi.

POSTKOTANTB, Mataram- Usai Sukses menggondol Medal of Excellent 2021, SMKN 4 Mataram, kembali menunjukan keseriusannya dalam menciptakan program inovatif. Yakni melalui sistem integrasi pendidikan dengan dunia wirausaha.

"Kami mengupayakan agar siswa tidak hanya berteori dan berpraktik hanya sekedar untuk pendidikan. Akan tetapi bagaimana kami membimbing mereka dengan berwirausaha," ujar Kepala SMKN 4 Mataram, Iwan Supriady, A. Md.Par., S. Pd, diruangannya, Kamis (4/11).

Salah satunya, di unit produksi berupa kantin. seluruh produk yang akan dijual dikantin ini merupakan hasil produksi siswa di jurusan tata boga. Para siswa ini dibimbing untuk memasarkan seluruh produk termasuk roti setara Roti O, di kantin sekolah. Dengan sasaran pembeli baik dari lingkungan sekolah sampai ke masyarakat umum.

"Kebanyakan setelah produk yang sudah dibuat dikonsumsi pribadi oleh siswa. Sekarang malah kita bimbing mereka terampil memasarkan produk yang diciptakan sendiri," imbuhnya.

Selain kantin, masih ada lagi unit usaha lainnya. Seperti hotel milik sekolah untuk siswa jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Setiap harinya siswa di jurusan ini, dapat belajar langsung bagaimana memberikan layanan terbaik untuk tamu hingga metode pemeliharaan fasilitas hotel.

"Cara Pihak sekolah menfasilitasi siswa melalui kerjasama dengan Red Doors. Seluruh perlengkapan fasilitas hotel dan urusan reservasi di handle Red Dors," ungkapnya.

Kemudian Jurusan Tata Busana dengan produk uniknya berupa seragam praktik bermotif Sasambo. Pihaknya menargetkan, produk ini dapat dipasarkan minimal di lingkungan sekolah. Sebaliknya, Kata Imam, Sistem ini tidak untuk mencetak laba (profit oriented).

Hasil dari penjualan produk dihargakan di bawah standar pasar dan akan dikelola kembali untuk kebutuhan bahan baku dan operasional praktik siswa, melalui unit produksi.

"Kami membimbing siswa mulai dari tahapan penyeleksian bahan baku, hingga ke tahap kemampuan siswa memasarkan produk yang dihasilkan. Sehingga ketika lulus dari sekolah, siswa kami profesional mendirikan usaha mandiri," tegasnya.

Dijelaskan, pihaknya memilih sistem integrasi bukan tanpa alasan. Rilnya, sebagian besar alumni sekolah kejuruan menyandang status pengangguran. Hal tersebut didasari oleh jumlah siswa yang tidak sesuai dengan pangsa pasar.

"Sistem perekrutan siswa tidak disesuaikan dengan analisis kebutuhan industri. Sekolah hanya menerima siswa yang banyak, tapi setelah tamat, nasibnya tergantung tuhan yang Maha Esa," singgung Pria yang dikenal ramah ini.

Selain itu, lanjut dia, salah satu syarat dan ketentuan perusahaan dalam membuka lowongan, harus memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun. Syarat ini menutup peluang alumni sekolah kejuruan yang notabene baru lulus sekola (First Graduated).

Sebaliknya, dorongan pemerintah terhadap penerimaan siswa lulusan SMK di dunia industri nihil. Pasalnya, belum ada aturan yang menegaskan agar setiap perusahaan yang berinvestasi di NTB, diberikan syarat untuk menerima kerja para alumni siswa SMK, sesuai dengan jurusannya. Seperti keberadaan KEK Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah.

"Sampai saat ini, siswa dari sekolah kami yang lulusan 2020, belum ada satupun yang bekerja di kawasan mandalika. Terus ada bertanya, bisa nggak buat kelas industri? Emangnya enak buat kelas industri, nggak mudah. Memang banyak inovasi di SMK seperti kawin masal dengan industri. Tapi itu belum sampai rekruitmen," keluhnya.

Karenanya, Imam berharap Pemerintah setempat lebih memperhatikan nasib alumni sekolah kejuruan. Salah satunya dengan melakukan penekanan terhadap perusahaan. Terutama yang ingin berinvestasi di NTB, dengan mengeluarkan peraturan daerah.

"Jika masih seperti ini kondisinya, maka SMK di NTB akan terus ketinggalan dengan dunia industri," tandasnya.(RIN)