Kongres Ke III APTS-IPI, Rektor UMMAT: Petani Harus Berevolusi!

Rektor UMMAT, Dr. H. Arsyad Abdul Gani M. Pd, berfoto bersama para peserta Kongres Ke III APTS-IPI di Auditorium UMMAT, Senin (6/12).

POSTKOTANTB, Mataram- Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta-Ilmu Pertanian Indonesia (APTS-IPI), kembali menyelenggarakan Kongres Ke III APTS-IPI dan Seminar Nasional di Gedung Auditorium Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Senin (6/12).

Kongres yang digelar secara offline dan online, Turut dihadiri Wakil Menteri Pertanian, Ir. Harvick Hasnul Qolbi, Gubernur NTB diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distambun) NTB, serta 187 anggota APTS-IPI se Indonesia.

Dengan tema, peran Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Pertanian dalam menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM), Unggul dan Kompetitif, melalui pengembangan Food Estate dan Agrowisata menuju Ketahanan Pangan.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian (Fapertan) UMMAT, Budi Wiryono, SP, M. Si, menyampaikan apresiasi atas ditunjuknya UMMAT sebagai tuan rumah penyelenggaraan kongres tersebut. Menurutnya, acara ini menjadi momentum untuk meningkatkan grade intitusi baik di level nasional maupun internasional.

Dia menyebut, saat ini, Fapertan UMMAT telah mengantongi penilaian akreditasi  dari BAN PT untuk dua program studi (Prodi). Yaitu, Teknik Pertanian dan Teknologi Pertanian.

"Selain itu, berbagai prestasi telah ditorehkan kedua Prodi yang memperoleh hibah program kompetisi kampus merdeka (PKKM) dari Dikti, Dosen yang memperoleh hibah pengabdian dan prestasi lainnya," bebernya.

Sebaliknya, dalam rangka membangun Fapertan yang Islami, unggul dan Berdaya saing di kawasan Indonesia Timur ke depan, UMMAT tentu perlu membangun kemitraan  dengan berbagai pihak. Termasuk para dekan pertanian Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tergabung di dalam APTS-IPI.

"Melalui Kongres ke III ini, dapat memperoleh banyak pengetahuan, wawasan untuk pengembangan diri dan institusi, serta berkontribusi besar bagi pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Rektor UMMAT, Dr. H. Arsyad Abdul Gani M. Pd., menilai, Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dalam momentum revolusi Industri 4.0, khususnya di sektor pertanian. Sektor ini diharapkan berkembang dengan melibatkan teknologi yang sudah tersedia.

"Petani kita harus mampu berevolusi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Karena dengan teknologi, petani diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil produksi dan dapat menarik anak-anak muda agar mau terjun ke sektor pertanian. UMMAT hadir menjawab berbagai tantangan di sektor pertanian," imbuhnya.

"Dengan menyiapkan generasi muda yang berdaya saing dengan bekal ilmu pengetahuan yang telah ditempa menjadi sarjana, akan mampu untuk mengakselerasikan pengembangan industri manufaktur nasional agar lebih bersaing secara global di era digital," tegasnya.

Sedangkan, Ketua APTS-IPI, Prof. Dr. Ir. David Hermawan, MP, IPM berharap, melalui Kongres dan seminar nasional dapat menjadi arahan serta kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian.

Khususnya terhadap ketersediaan pangan nasional. Sehingga dapat melahirkan gagasan baru Food Estate, di bidang pertanian, khususnya Tourism Place.

"Bahkan kami tertarik Pak Rektor untuk membawa investor ke NTB. Kebetulan sudah dibahas bersama pak Sekda. Jadi dibutuhkan 200 sampai 500 hektare lahan untuk Kota Baru," bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, H. Irawan, SS, Msc, mengatakan, Sektor pertanian menduduki peringkat pertama di bandingkan sektor lainnya di NTB. Sehingga sektor ini memiliki peran utama bagi PDRB.

Kendati KEK Mandalika merupakan pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan itu membutuhkan penopang dari pertumbuhan dari sektor lain. Salah satunya Food Estate.

"Mandalika akan membutuhkan makanan olahan, hasil peternakan dan hasil perikanan dan itu akan disediakan oleh Sub pusat pertumbuhan lainnya yang ada di NTB," ujarnya.

Sehingga Pemerintah berupaya menerbitkan kebijakan strategis terhadap sektor pertanian, khususnya dalam meningkatkan SDM. Terutama sistem kolaborasi dalam bingkai pentahelik bidang pertanian dalam rangka mendukung Food Estate.

"Secara garis besar, Kegiatan kongres dan seminar hari ini, tidak hanya berguna secara akademik, namun hasil dari acara ini akan menjadi rekomendasi kedepannya dalam rangka merumuskan kebijakan yang lebih efektif. Sehingga food estate menjadi penopang utama sektor pertanian di NTB," tutupnya.(RIN)