Sambut 2022, Warga Binaan LPP Mataram Harus Berbenah

Kepala LPP Kelas III Mataram, Dewi Andriani, bersama jajaranya, menjalankan Salat secara berjamaah bersama warga binaan di Aula LPP Mataram, Kota Mataram, Jumat (31/12/2021).

Mataram (postkotantb.com)- Jelang akhir 2021, menyambut 2022, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas III Mataram, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kumham) NTB, mengisinya kegiatan Salat berjamaah dan Tausiah di Aula LPP Mataram, Jumat (31/12/2021).

Kegiatan agamis ini mengundang tokoh agama dari yayasan Al-Aziziah, Kapek, Gunungsari, Lombok Barat (Lobar), Ust. Muamar dan diikuti oleh seluruh warga binaan di lapas tersebut.

"Sesuai arahan Kementerian, lapas dan bapas tidak dibenarkan merayakan tahun baru dengan euforia di malam hari. Jadi kami mengisi momentum tahun baru dengan salat dan Doa bersama sekaligus tausyah," ungkap Kepala LPP Mataram, Dewi Andriani di sela-sela kegiatannya.

Diakui, kegiatan ini menjadi momentum merefleksi seluruh kegiatan selama kurun waktu satu tahun, khususnya terhadap warga binaannya agar senantiasa membenahi diri masing-masing. Sehingga menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Karena, hal tersebut menjadi pertimbangan Lapas Perempuan untuk mendapatkan hak remisi. Seperti di Hari Raya Natal yang jatuh pada Tanggal 25 Desember 2021 kemarin. Dimana Sebanyak tiga warga binaan yang beragama Nasrani di lapas ini, mendapatkan hadiah remisi dari satunya-satunya Lapas Perempuan di Provinsi NTB ini.

Dewi menegaskan, jika warga binaan ingin mendapatkan haknya, Syaratnya adalah berkelakuan baik agar dapat diusulkan untuk mendapatkan remisi di setiap hari besar keagamaan.

"Harapan kami di tahun baru Masehi 2022, seluruh warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sehingga ketika pulang ke rumah masing-masing mereka bisa lebih baik lagi," harapnya.


KENDALA SELAMA 2021


Tidak hanya dibina secara spritual, LPP Mataram memiliki sejumlah program bimbingan keahlian usaha dalam rangka menjadikan para kaum hawa di dalam lapas dapat menjadi wirausaha. Antara lain tata boga, menjahit, menenun, merajut boneka serta tas wanita dan membuat aksesoris pengait masker.

Dari sekian banyak kegiatan, warga binaan di lapas ini sukses memproduksi sejumlah barang yang cukup laris di pasarkan. Salah satunya gantungan masker. "Masker memang cukup banyak peminatnya. Kami biasanya memasarkan produk warga binaan melalui media sosial," imbuh Dewi

Kendati demikian, keluh Dewi, nilai yang dihasilkan, belum memenuhi target Lapas perempuan. Hal demikian disebabkan kendala Pandemi Virus Korona. Dimana berdampak terhadap peningkatan daya daya beli masyarakat.

Dengan menggandeng pihak ketiga, Ke depan pihaknya optimis serta komitmen akan berupaya semaksimal mungkin agar pembelian setiap produk dari warga binaanya meningkat.

"Tahun depan, Kami juga targetkan di bidang menjahit dan bordir agar warga binaan kami memiliki keahlian dan hasil penjualan menjadi premi untuk warga binaan dan PNBP untuk Negara," jelasnya.(RIN)