Terkait dugaan calon siswa SMAN 1 Praba diikat sebelum diterima secara resmi jadi Siswa
Loteng, (postkotantb.com) - Terkait dugaan langkah antisipasi terjadinya kekurangan siswa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), tahun Pelajaran 2021 2022, di SMAN 1 Praya Barat Lombok Tengah (Loteng).
Siswa yang mendaftar, saat pendaftaran masih masuk dalam tahap pra PPDB atau penitipan, sebab pendaftaran untuk SMA dibuka terhitung tanggal 13 Juni atau hari ini.
Pasalnya diduga pihak sekolah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengikat siswa dengan cara mengarahkan siswa untuk membeli baju di salah satu penjual baju dan kain di Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Loteng.
Kuat dugaan hal tersebut dilakukan, guna mengikat siswa, ketika ada siswa yang mendaftar di dua sekolah, sehingga untuk mengikat siswa agar memilih SMAN 1 Praya Barat, dilakukan dengan cara, saat pra PPDB atau penitipan, siswa tersebut langsung diminta untuk beli kain dan baju sekolah, di salah satu penjual yang sudah ditunjuk pihak sekolah.
Atas persoalan tersebut, saat ini memasuki babak baru, pasalnya pengakuan dari sejumlah Wali murid berbeda dengan pengakuan Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Praya Barat, sedangkan pengakuan pedagang baju dan kain nyaris sama dengan pengakuan Kasek setempat.
Salah seorang Wali murid inisial D mengaku, ketika anaknya mendaftarkan diri di SMAN 1 Praya Barat Loteng, pekan lalu.
Di hari yang sama anaknya langsung pulang dan meminta uang untuk membeli kelengkapan sekolah, seperti baju olahraga, almamater, baju taqwa, dan kain warna pramuka dan abu putih.
"Saya meyakini kalau itu perintah dari sekolah, sehingga anak saya pulang ambil uang sebanyak Rp 1.325 .000, 00 untuk membeli seragam sekolah, setelah itu langsung saya berikan dan anaknya langsung balik ke sekolah," bebernya, Senin (13/6/22).
Selang beberapa jam, anaknya pun pulang dengan membawa seragam sekolah. "Kalau tidak salah sudah satu minggu lalu pak anak saya mendaftar dan langsung bawa seragam sekolah pulang," akunya.
Ditanya dimanakah anaknya di kasih baju, Wali murud paruh baya ini mengaku, karena anaknya mendaftar ke sekolah, jelas yang memberikan anaknya pasti pihak sekolah atau bisa saja pihak sekolah telah menentukan tempat untuk ambil.
Kenapa pihaknya mengatakan demikian, sebab sudah jelas baju yang dibawa anaknya satu komplit, artinya ada baju olahraga, ada almamater, ada kerudung, ada baju taqwa dan ada kain warna abu putih dan pramuka. "Pokoknya satu komplit kebutuhan sekolah," Cetusnya.
Atas hal tersebut, pihaknya berfikir padahal PPDB belum dibuka, namun kok bisa anaknya positif diterima dan itu dibuktikan dengan di suruh membayar seragam sekolah. "Sekalipun anak saya tidak berpendidikan, namun tau aturan kapan PPDB dibuka dan anaknya mendaftar sebelum PPDB tapi sudah kita bayar baju," dengan nada heran sedikit bingung
Sementara itu melalui saluran Telepon Sapar selaku penjual baju seragam dan kain seragam warna abu putih dan Pramuka mengaku, bisnis menjual baju seragam sekolah dan kebutuhan dan seragam lainnya, sudah ia geluti sejak tahun 1999.
Dan sejumlah sekolah termasuk SMAN 1 Praya Barat, sejak dulu sering pesan baju di tempatnya dan sampai sekarang.
"Dari dulu kami langganan dan bukan hanya SMAN 1 Praya Barat saja, namun sejumlah sekolah juga banyak yang mesan di kami," Akunya.
Sedangkan terkait adanya isu SMAN 1 Praya Barat diharuskan beli seragam di sini, baginya itu tidak benar, sebab tidak ada kerjasama atau surat dari pihak sekolah untuk diarahkan beli seragam ditempatnya.
Namun, pihaknya yang bersurat ke sejumlah sekolah termasuk SMAN 1 Praya Barat, bahwasanya pihaknya menyiapkan baju kebutuhan sekolah.
"Karena kemajuan zaman dan banyaknya para penjual seragam sekolah, sehingga Kami yang bersurat sebelumnya ke sekolah dan alhamdulillah tidak sedikit siswa pesan seragam di kami, termasuk SMAN 1 Praya Barat," tegasnya.
Seragam yang di pesan meliputi, almamater, baju olahraga, baju taqwa, kerudung, kain putih abu dan pramuka dan itu sudah disiapkan sebelumnya.
"Melihat kebutuhan di pasar, semua jenis seragam sekolah kita sudah siapkan, persoalan ada yang pesan dan tidak itu resiko kami dan yang jelas khusus baju olahraga dan logo di kerudung sudah kita buat juga sesuai logo sekolah di mana pernah ia bersurat, dan khusus SMAN 1 Praya Barat, untuk seragam siswi Rp 1.325.000,00 sedangkan untuk siswa Rp 1.250,.000 00" katanya.
Sementara itu kasek SMAN 1 Praya Barat Khairil Anwar, membantah pernah memerintahkan calon Siswa untuk beli seragam di salah satu penjual.
"Saya tidak pernah memerintahkan anak anak untuk beli seragam di satu pedagang, kalau memberikan gambaran penjual yang sudah menawarkan, itu saya tak nafikan dan tidak pernah memerintahkan ke salah satu penjual, dan kami bebaskan beli di manapun," timpalnya.
Kenapa itu ia lakukan, sebab haram bagi SMAN 1 Praya Barat untuk memberatkan calon siswa. "Yang terpenting bagi kami adalah, bersyukur mereka mau sekolah dan itu kita berikan keleluasaan di manapun mau beli seragam," ungkapnya.
Selanjutnya persoalan ada yang tidak sama kualitas kain yang mereka beli, baginya itu tidak masalah yang terpenting warna seragam itu mirip sama dengan temannya, selama siswa tersebut tidak risih dengan temannya. "Beda beda sedikit tidak apa, yang penting mereka nyaman memakainya, termasuk baju taqwa untuk hari Jum'at Sabtu, malah ada yang tak seragam asalkan baju yang di pakainya itu masuk katagori baju taqwa," Ujarnya. (Ap)


0Komentar