Ragam Cerita Sukses Selama Bergelut di Usaha Sampah
Mataram (postkotantb.com)- Program Zero Waste bertajuk 'Pilah Sampah' yang digagas Pemerintah Provinsi NTB, memberikan makna tersendiri bagi Lurah Mataram Timur, Sri Sulistiowati.
Semenjak mengelola sampah yang terpilah, dirinya kini sudah memiliki dua lokasi pemilahan Sampah. Yaitu, Rumpil Inges dan Kabarumpil Inges.
Kini, dirinya mampu menyulap sampah plastik (Ecobricks) menjadi bahan untuk Sofa cantik. Sedangkan Sampah organik diarahkan ke tong Komposer.
"Usaha pengelolaan sampah ini, berawal dari rasa kepedulian saya," ungkap Lurah ini, di sela-sela Gebyar Pilah Sampah, di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur NTB, Jumat (10/02/2023).
Upaya mengelola sampah ini dilaksanakan, semenjak dirinya menjabat sebagai Lurah Mataram Barat Tahun 2020 silam. Diakui Sri, kendala yang dihadapi, terletak pada pola pikir masyarakat kala itu.
Dibutuhkan kesabaran serta upaya sosialisasi secara bertahap, untuk merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat, sehingga tidak lagi membuang sampah sembarangan.
Tidak hanya itu. Demi mendorong semangat warga kelurahan, pihaknyarela mengeluarkan biaya. Per satu botol air mineral berukuran besar, berisikan sampah plastik yang sudah dipotong-potong, akan dibayar Rp. 3 ribu.
"Masyarakat kami memang agak manja. Hari ini mereka pilah sampah, sebulan lagi berhenti. Harus terus-menerus, mereka punya rasa malu. Jadi minimal, mereka tidak membuang sampah ke mana-mana," imbuhnya.
Khusus sofa yang dibuat dari sampah plastik, memiliki nilai rupiah. saat ini saja, banyak pihak yang berminat untuk membeli. Karena jumlahnya masih kurang, sementara ini disimpan untuk menjadi barang koleksi.
"Kalau sudah cukup, kami akan memamerkan hasil sampah plastik dari warga kami," ujarnya optimis.
Terpisah, Founder Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah (Gelisah), Lailatul Ulfa, juga memiliki kisah tersendiri, selama bergelut di usaha pengelolaan sampah terpilah.
"Kami mengelola sampah pas lagi marak Pandemi Korona. Waktu itu, kami mengolah ember plastik bekas menjadi tempat cuci tangan," ungkapnya.
Tidak sampai disitu. Kata Ulfa, komunitasnya juga mencoba menciptakan produk berupa bross dari tutup botol. Produk yang satu ini pun dilirik Dinas Perdagangan Provinsi NTB.
"Alhamdulillah saat itu, dinas memesan 1000 biji bross. Jadi kami bisa survaif dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi. Saat itu ombset kami mencapai Rp. 10 Juta dalam 3 bulan pengerjaan," bebernya.
Usahanya tersebut pun mengalami perkembangan dan saat ini, pihaknya sudah merilis produk baru, berupa tas unik. Produk ini dipasarkan melalui berbagai aplikasi media online. Untuk design model tasnya, akan dibuat sesuai keinginan pemesan. Dengan catatan, harus menunggu selama 10 hari.
"Tapi kalau jumlah sampai 1000 buah, dibutuhkan waktu 1 sampai dengan 3 bulan," terangnya dengan bangga.
Sebaliknya, kata Ulfa, manajemen penerimaan sampah yang diterapkan komunitas, berbeda dengan Bank Sampah pada umumnya. Semisal untuk sampah botol. Per lima botol, akan ditukarkan dengan 1 buah tas ramah lingkungan.
"Kebetulan kami ready 1000 buah tas ramah lingkungan. Kebetulan kami juga sudah punya gudang untuk menampung sampah yang bersih. Jadi kalau ada yang pesan, kami sudah siap," jelasnya.(RIN)


0Komentar