Breaking News

Penghuni Bebekeq Diperkirakan ada Sejak Zaman Prasejarah (2),

 

Oleh: Sarjono S.I.Kom, M.Sos (Sekretaris Paguyuban Adat Leluhur Bebekeq)

Jejak Geologis




SALAH
satu faktor yang dapat dijadikan kompas mengetahui kehidupan masa lampau adalah adanya berbagai peninggalan, termasuk jejak geologis yang dapat diamati pada bentangan alam. Lokasi Bebekeq, Gangga dan lokasi sekitarnya merupakan wilayah yang subur dan ditumbuhi hutan belantara. Nenek moyang orang Bebekeq pada awalnya hidup nomaden (berpindah-pindah) dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengumpulkan bahan makanan dari hewan dan tumbuhan hingga menemukan hutan belantara yang kini disebut hutan (gawah) Bebekeq.

Pada tahap selanjutnya nenek moyang orang Bebekeq bermukim (bertempat tinggal) secara berkelompok di gawah Bebekeq. Hidupnya sudah teratur dan membentuk pola-pola kepemimpinan di tempat tinggalnya. Klasifikasi pemukiman masyarakat Sasak zaman prasejarah terdiri dari pemukiman di daerah pantai dan pemukiman di daerah pedalaman. Berdasarkan klasifikasi ini, kuat dugaan nenek moyang orang Bebekeq bermukim di daerah pedalaman (hutan) mengambil bahan makanan dari hutan maupun sungai-sungai (kali-kali/erat) yang ada di dalam hutan. Alat-alat berburu masyarakat masa lampau seperti tombak, jaring, dan kodong yang digunakan untuk menangkap udang dan lindung (ikan tuna). Jenis alat-alat berburu tersebut saat ini disimpan di Museum NTB.

Dari kacamata sejarah sosial budaya, pemberian nama bagi suatu daerah sebagai hal yang lumrah manakala ditinjau dari perwujudan kondisi lokal dari tatanan kehidupan sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat. Melegalkan nama sebuah lokalitas kadang-kadang merupakan cerminan dari sifat dan karakteristik penduduk yang berdomisili di tempat tersebut. Termasuk pemberian nama Bebekeq (Selelos saat ini) yang terkesan dalam pikiran sebagian kalangan, bahwa nama Bebekeq berimbas pada sikap, sifat, dan karakter penduduknya.

Karakteristik, watak, dan sifat-sifat individu dapat dibuktikan dari kehidupan mereka sehari-hari terutama bisa dinilai dari nada bicara ketika berkomunikasi antarsesama. Sifat-sifat ini juga ditunjukkan oleh masyarakat Sasak keturunan leluhur Bebekeq saat ini dalam mempertahankan dan menegakkan kebenaran kendati persoalan-persoalan yang mereka hadapi pada derajat biasa. Lensa kehidupan yang dimotivasi oleh sikap konsisten mereka dalam mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai sesuatu yang mesti dirawat. Selain itu, lingkungan geografis juga dominan mempengaruhi tata kehidupan mereka seperti letak wilayahnya berada di dataran tinggi dan diapit oleh perbukitan dengan lanskap iklim dan cuaca yang panas pada musim kemarau dan sangat dingin pada musim penghujan bila dibandingkan dengan pulau-pulau yang lain, pulau Bali dan lain-lain. Faktor-faktor ini setidaknya dapat mengkonstruk tertanamnya sifat dan sikap masyarakat setempat yang tegas dalam menyikapi pelbagai aspek kehidupan komunal yang guyub dan bersahaja.

Sistem Kepercayaan

Berdasarkan cerita sejumlah tokoh setempat, kehidupan menetap komunitas masyarakat masa lampau menimbulkan ikatan antara manusia dengan alam sekitarnya. Ikatan ini bahkan masih tetap berlangsung hingga sekarang. Maka, nenek moyang orang Bebekeq dan orang Sasak percaya bahwa setiap benda memiliki roh.

Bukti nenek moyang orang Bebekeq percaya adanya roh-roh nenek moyang yaitu adanya makam-makam yang dianggap kramat yang terletak sebelah barat gubuk Selelos. Di samping itu mereka percaya bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib yang berada di dalam kawasan hutan Bebekeq. Setiap tahun mereka melakukan ritual-ritual adat seperti praktek ritual wetu telu. Ada pula benda-benda pusaka yang dianggap suci dan keramat, sehingga mereka pun kerap merayakan ritual-ritual ngaponin.

Sejurus dinamika zaman, pengaruh dari luar pun masuk dan berbaur dengan kepercayaan lokal sehingga terjadi integrasi dengan pengaruh luar tersebut menimbulkan sinkretisme dalam ajaran kepercayaan yang telah dianut sebelumnya. Sinkretisme memuncul sistem kepercayaan kala itu, dikenal dengan "Boda", suatu anasir dari kepercayaan, seperti unsur animisme, bahwa segala sesuatu mempunyai roh. Kemudian dinamisme, bahwa setiap makhluk memiliki kekuatan gaib. Pengaruh sinkretisme dalam kepercayaan Boda bertahan hingga pertengahan abad ke-20, dengan masih mempercayai adanya kekuatan makhluk supernatural, antara lain.
Pertama, Bebodo', sebangsa hantu yang berkeliaran bila magrib tiba atau senja kala (senekala). Pada saat-saat ini orang tua melarang anak-anaknya bermain. Kedua, Bakek, disebut pula bakek berak, makhluk sebangsa hantu jahat kerap membuat manusia sakit. Biasanya tempat tinggalnya di hutan, batu-batu besar dan pohon-pohon kayu yang rindang. Ketiga, Bebaik (sejenis makhluk halus yang kecil) dan tidak semua orang dapat melihatnya.
Keempat, Selak. Makhluk ini sebenarnya bukan makhluk halus melainkan manusia biasa. Seseorang dapat menjadi sela disebabkan memiliki ilmu sejenis sihir. Oleh sebab itu, ia dapat menjadi sesuatu sesuai kehendaknya. Ada juga orang selak oleh karena keturunan. Dikenal pula Selak Bunga yang hidup di angkasa dan selalu mencari musuh di malam hari. (bersambung) - (@ng)

0 Komentar

Posting Komentar
DISCLAIMER: POST KOTA NTB menggunakan iklan pihak ketiga ADSTERRA. Kami tidak bisa sepenuhnya mengatur tayangan iklan. Jika muncul tayangan iklan yang dianggap melanggar ketentuan, harap hubungi kami untuk kami tindaklanjuti.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close