Doktor Nujumuddin Pakar Lingkungan Asal Gerantung Lombok Tengah.FOTO:Lalu M.Irsyadi PKN (GJI-NTB)
Lombok Tengah (postkotantb.com) - Menyinggung maraknya pohon-pohon dipinggir jalan yang kerap tumbang dan acap kali timbulkan korban lakalantas. Pakar lingkungan asal Lombok Tengah Dr. Nujumuddin sampaikan saran dan masukan kepada pihak terkait.
Terhadap pohon besar yang sudah terlanjur tertanam, menurutnya, hal yang paling utama adalah dilakukan pemangkasan rutin dibarengi pengawasan intensif secara berkala. Sarannya.
"Cukup rutin dipangkas bagian kanopi pohon jangan juga dibabat habis," cetus Dr. Nujum, kamis (27/4/2023).
Berhubung persoalan inti pada perakaran dengan wadah atau media terbatas. Maka yang perlu diperhatikan adalah perkembangan kanopi atau mahkota daun yang terus tumbuh rimbun, meninggi, melebar dan memanjang. Pasti akan semakin berat bebannya di atas.
"Harus dihitung atau diprediksi perbandingan dari perakaran yang sedikit dengan berapa kwintal jumlah berat yang di atas untuk mengatur penampang angin, metode ini yang tidak pernah dilakukan," ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, barulah bagian yang dipotong dipilih sesuai kebutuhan, apakah cabang yang menjulur ke dalam jalan untuk hindari kendaraan tidak terhalang atau yang keluar jalan atau yang menjulang ke atas.
Mengenai waktu pemangkasan yang tepat dari sisi ilmu klimatologi, sebaiknya dilakukan sesuai keberadaan angin atau mengacu pada perkembangan cuaca dimusim reguler. Biasanya angin terjadi di awal tahun bulan Januari. Maka pemangkasan sebaiknya di bulan Desember.
"Jika musim ekstrem seperti lalina yang tidak bisa diprediksi, yaa sesering mungkin dipantau, " terangnya.
Menarik ke belakang, berbicara faktor mendasar kenapa banyak pohon bertumbangan di pinggir jalan. Dr.Nujum mengurai beberapa penyebab utama bisa dilihat dari sisi yang pertama yakni ciri perakaran pohonnya.
"Jenis perakaran pohon dipinggir jalan umumnya gunakan bibit jadi atau pokulan atau stump atau akar yang dipotong bukan berakar pancar bersumber dari biji yang ditajuk langsung," paparnya.
Sehingga, jelas Doktor, pertumbuhan akar hanya mengarah ke dua sisi yang diapit badan jalan atau aspal dan parit.
Kedua, jenis pohon yang ditanam merupakan pohon hutan atau pohon besar. Tidak sesuai dengan wadah atau medianya. Akhirnya bisa merusak jalan dan trotoar. Hal demikian seharusnya tidak boleh terjadi terlebih ditanam di Bandara, jalan by pas, atau jalan kota dipusat Pemerintahan.
Ditanya jenis pohon apa yang layak ditanam, Pensiunan Dinas Kehutanan tersebut, mengambil contoh ciri tanaman yang pas cukup ambil sampel di depan Mall Epicentrum Mataram yang sekarang. Itu saja yang diadopsi, bukan tanam pohon hutan trembesi.
" Dulu, saat proyek jalan by pass BIL ini kalau ndak salah ada program percepatan tumbuh makanya ditanam jenis pohon hutan trembesi, untuk segera mengganti atau merekondisi pohon-pohon yang dibabat setelah bangun jalan, saya sayangkan pakar lingkungan tidak dilibatkan kala itu," sesalnya.
Tanaman lain yang bagus juga, versi Pria yang bermukim di Gerantung itu yaitu pohon berakar serabut seperti palem berukuran standar. Bukan yang tinggi kayak di depan SMA 1 Praya itu salah, harus ditebang itu karena bahaya nanti rapuh dan roboh bisa ancam keselamatan berkendara.
" Saya selalu bersikap terbuka untuk diberdayakan dan seringkali tawarkan diri untuk memberi pencerahan melalui persentase, bimtek, atau workshop lah di kalangan OPD Pemerintahan tapi tidak direspon, semoga melalui tulisan semacam di media ini mereka bisa berfikir, supaya tidak berbuat setelah terjadi, melainkan bersikap sebelum kejadian (preventife), itu lebih baik demi kebaikan semua," tandasnya. (Irs)


0Komentar