Kepala SMKN 2 Mataram, H Munawar.

Mataram (postkotantb.com) - Dua Siswa SMKN 2 Mataram, masing-masing atas nama Syaddad Khairi dan Yori Rizki Akbar, rencananya akan di kirim ke Surabaya, Jawa Timur. Pengiriman siswa ini, disebabkan prestasinya meraih Juara 1 Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Provinsi NTB di Lombok Timur pekan kemarin.

"Jadi ada enam siswa yang kami kirim menjadi peserta LKS. Dari enam ini, dua siswa juara 1 dan dan satu lainnya juara 3," ungkap Kepala SMKN 2 Mataram, H Munawar di ruang kerjanya, Selasa (13/06).

Sebelum ikut LKS tingkat provinsi, ulas Munawar, kedua siswa itu sempat ikut seleksi masing-masing ketua jurusan, bersama dengan siswa lainnya. Setelah dinilai, keduanya pun lulus bersama delapan siswa. Proses seleksi tidak sampai di situ saja.

"Ketua jurusan ini kembali melaksanakan uji ke sepuluh siswa tadi dan yang lolos enam siswa termasuk mereka berdua. Keenam siswa ini lah yang kami ikutkan dalam pembinaan khusus selama tiga bulanan. Itu sampai nginep dan kami biayai," ulasnya.

Begitu juga dengan magang ke Surabaya. Pengiriman kedua siswa itu yang semata-mata untuk mematangkan persiapan dalam rangka menghadaopi LKS tingkat Nasional. "Nggak cukup dengan bimbingan guru lokal. Kalau magang ke luar daerah perkembangannya akan berbeda," imbuhnya.

Ditanya soal perkembangan Pra PPDB di SMKN 2 Mataram, Munawar menyebutkan, bahwa animo masyarakat terhadap sekolah meningkat. Saat ini jumlah peserta yang ikut tes fisik saja, sebanyak 1200 orang. Dari Jumlah ini, sekitar 450 orang melalui jalur online.

"Kalau yang akan kami terima sebagai siswa, jumlahnya 448 orang untuk enam jurusan. Dan jumlah itu untuk mengisi 14 kelas," rincinya.

Meski demikian, pihaknya masih menghadapi kendala berupa kurang jumlah guru produktif (Guru Jurusan). Keberadaan guru P3K menurutnya tidak sebanding dengan kebutuhan guru di sekolah.

"Memang bukan kami saja, tapi SMK lain juga kurang. Kalaupun ada P3K masih belum tercukupi. Karena yang dulu- dulu tidak pernah diimbangi, program P3K ini kan baru tahun ketiga. Seandainya ditutup dari dulu maka guru produktif tidak langka," tutupnya.(RIN)