Tim BKKBN Pusat RI, Provinsi NTB, Kabupaten Lombok tengah, Lurah Prapen dan lainnya usai kegiatan, Jum'at (13/10/2023). Foto Ist/postkotantb.com/ Lalu Irsyadi


Lombok Tengah (postkotantb.com) - Guna memastikan perkembangan upaya atasi stunting secara faktual di lapangan.BKKBN RI terjun langsung ke objek locus penanganan stunting dengan mengintervensi langsung melalui kontribusi pemberian bantuan telur bagi belasan keluarga beresiko stunting di Kelurahan Prapen Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah, Jum'at (13/10/2023 ).
 

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Lombok Tengah, mengulas adanya program Balai Kencana yang berjalan lancar. Diantara kegiatannya juga mengambil peran untuk atasi stunting. Yang mana terdapat pembentukan 25 Desa/Kelurahan locus stunting di Lombok Tengah.

" Program dikuatkan pula oleh keberadaan pendamping keluarga yang berjumlah 2.391 orang, tergabung dalam 797 tim," Ujarnya.


Diharapkan dengan upaya sentuhan spesifik maupun sensitif melalui penganggaran khusus gotong royong atasi stunting dari Pemda. Program pemberian bantuan telur secara rutin selama 3 bulan yang sudah berjalan 2 bulanan, mampu berdampak signifikan terhadap penurunan angka stunting. Ditargetkan 2023-2024 di bawah standar Nasional 14 persen.

Wahidah Paheng, S.Sos., M.Si, selaku Plh. Deputi ADPIN BKKBN RI, sangat mengepresiasi kinerja BKKBN Loteng. Kehadiran semua unsur dari Pusat hingga Daerah di Prapen menunjukkan kekompakan dan kolaborasi yang solid, semoga dengan gerakan cepat tepat bisa atasi stunting.

"Saya salut, semua orang tua sudah faham apa itu stunting, tinggal tindak lanjutnya saja bagaimana ibu-ibu telaten berikan kebutuhan gizi anak baik itu protein telur, daging, ikan dan lainnya," imbuhnya.

Masa emas anak, tambahnya, berada diusia 2 tahun atau 1000 hari pertama. Sangat krusial menentukan pertumbuhan anak selanjutnya. Jika sukses memelihara diusia emas itu, maka insyaAllah pertumbuhannya lancar jadi bibit generasi unggul di masa depan.

" Orang tua harus siaga sejak dalam kandungan, kesehatan ibu dan anaknya, di 2 tahun fokus saja berikan ASI baru makanan tambahan secara bertahap, jangan kasik yang instan, buatkan saja secara mandiri dengan bahan alami disekitar kita," urainya.

Dr. Lalu Makripuddin,  M.Si, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB menerangkan upaya penurunan angka stunting di NTB harus progresif. Tidak boleh kontradiktif apalagi status NTB sudah setingkat internasional dengan adanya gelaran Moto GP dan lainnya.

" Kedepan kita harus persiapkan generasi SDM berkualitas untuk hadapi arus global ke Daerah kita, tidak boleh lagi kita dengar ada yang stunting," ucapnya.

Pihaknya juga memanfaatkan momentum Moto GP untuk advokasi steckholder terkait agar peduli stunting dengan kampanyekan penawaran jadi Bapak asuh stunting lewat stand atau pameran dilokasi sekitar sirkuit Mandalika.

" NTB berada di posisi 4 angka stunting tertinggi di Indonesia, semua pihak harus koordinatif," harapnya.

Ditanya soal kasus stunting yang tidak pandang warga pedesaan atau perkotaan. Lalu Makrip lebih menilai faktor utama disebabkan kesalahan pola asuh. Bukan semata-mata kekurangan makanan atau sebab lainnya. Ada banyak makanan bergizi disekitar lingkungan kita, seperti ikan, sayuran,buah-buahan, tapi mungkin kebanyakan agak malas menyajikan. Lebih terbuai dengan gaya hidup praktis sebagai kebiasaan baru masyarakat modern kekinian.

" Hal yang terkadang dianggap remeh seperti bapak-bapak merokok didekat ibu dan anak juga salah satu sebabnya loh, belum lagi pernikahan dini kurang literasi cara pelihara kandungan dan merawat anak," bebernya.

Selain pemberian telur, 4.500-an tim pendamping keluarga se NTB juga telah dikerahkan. Digencarkan juga program Dashat (Dapur Sehat) oleh ibu-ibu PKK agar dapat mengolah makanan tradisonal sehat yang disenangi anak-anak.


Lalu Makrip berpesan agar semua orang tua perhatikan kesehatan anak. Jangan ambil praktisnya saja, dengan gampang berikan siap saji.

" Jangan malas buatkan makanan bergizi, ketimbang nanti susah pas masa pertumbuhannya, anak fisiknya lemah, mudah sakit, tidak cerdas, dan SDM nya kurang, kan repot," tekannya.

Lalu Iman Zuhri,SE Lurah Prapen sangat berterimakasih dan bersyukur atas kedatangan tim BKKBN sebagai bentuk kepedulian Pemerintah baik tingkat Kabupaten Lombok tengah, Provinsi hingga Pusat untuk membantu mengurangi maupun bisa zero stunting di Kelurahan Prapen.


Mengenai angka stunting di Prapen sendiri menurut data dari puskesmas, sebelumnya tercatat sekitar 19 persen bulan agustus setelah program PMT berjalan kini turun menjadi 13 persen dibulan September.

"Kunjungan BKKBN akan menambah semangat kami baik kader dan warga masyarakat untuk semakin peķa dan peduli sama-sama atasi stunting," Tandasnya. (Irs)