Lombok Utara, (postkotantb.com) -  Organisasi Santri Intra Madrasah (OSIM) Pondok Pesantren Nurul Islam Kayangan menggelar serangkaian perlombaan kreatif, yaitu Lomba Cipta Puisi dan Lomba Paduan Suara antar kelas, dalam rangka memeriahkan dan menyambut Hari Guru Nasional ke-31 tahun 2025.

Kegiatan yang berpusat di halaman pondok pesantren pada Sabtu, 22 November 2025 M/01 Jumadil Akhir 1447 H, ini disambut antusias oleh seluruh santri, dewan guru, dan civitas akademika Ponpes Nurul Islam.


Ketua Panitia Pelaksana Intan Lestari, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIM mengungkapkan, maksud dan tujuan dilaksanakannya perlombaan tersebut secara lugas di hadapan seluruh hadirin.

Intan Lestari menjelaskan bahwa lomba tersebut dirancang khusus sebagai bentuk implementasi dan penjiwaan terhadap tema Hari Guru Nasional ke-31 tahun 2025 yang diusung oleh pemerintah.

"Lomba Cipta Puisi dan Paduan Suara ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wujud nyata apresiasi kami. Maksud dan tujuan utama kami adalah untuk menumbuhkan semangat refleksi dan penghormatan kepada guru, yang sejalan dengan tema besar Hari Guru Nasional tahun ini. Kami ingin para santri dapat menuangkan rasa terima kasih dan menunjukkan bahwa kami siap menjadi generasi penerus yang berkarakter, berkat bimbingan para guru," ujar Intan Lestari.


Setelah menyampaikan tujuan acara yang kontekstual dengan tema peringatan tahun ini, Intan Lestari langsung membacakan salah satu puisi hasil karyanya di hadapan seluruh civitas akademika dan dewan guru, yang menambah khidmat suasana pagi itu.

Sementara itu, ditempat yang sama, Pembina OSIM Ustaz Najamudin, S.Pd., turut angkat bicara terkait pemilihan, fokus pada mata lomba Cipta Puisi dan Paduan Suara antar kelas yang digelar oleh OSIM pada momen Hari Guru tahun ini.

Ustaz Najamudin menjelaskan bahwa pemilihan dua mata lomba tersebut memiliki filosofi yang mendalam dan relevan dengan pendidikan karakter.

"Kami sengaja memilih Puisi dan Paduan Suara. Lomba Cipta Puisi melatih santri untuk memiliki kepekaan rasa, kemampuan literasi, dan keindahan berekspresi secara personal. Mereka didorong untuk merangkai kata-kata terbaik sebagai bentuk syukur atas didikan guru," jelas Ustaz Najamudin.

"Sedangkan Lomba Paduan Suara melatih kekompakan, disiplin, dan harmonisasi antar kelas. Ini mengajarkan bahwa dalam mencapai keindahan—seperti halnya mencapai cita-cita—diperlukan kerjasama dan kesatuan, sama seperti peran guru yang selalu mendisiplinkan dan menyatukan kami dalam satu tujuan ilmu," tambahnya.

Beliau berharap, melalui kegiatan seni dan sastra ini, nilai-nilai pengabdian guru dapat meresap lebih dalam di hati para santri, melengkapi pendidikan spiritual dan intelektual yang sudah mereka terima di pondok pesantren.

Terkait dengan inisiatif kegiatan yang digagas oleh para santri tersebut, Pimpinan Yayasan Ponpes Nurul Islam Kayangan Ust.Sumawadi memberikan respons yang sangat positif dan apresiasi tinggi.

"Kami dari pihak Yayasan menyambut baik dan sangat mengapresiasi semangat serta kreativitas OSIM. Kegiatan ini adalah cara yang luar biasa bagi santri untuk berinteraksi dan menginternalisasi makna Hari Guru secara mendalam, tidak hanya sekadar formalitas," tutur Pimpinan Yayasan.

Beliau menambahkan, bahwa Lomba Cipta Puisi dan Paduan Suara merupakan cara elegan bagi santri untuk mengekspresikan rasa terima kasih yang terkadang sulit diucapkan dengan kata-kata biasa. Pimpinan Yayasan juga berharap, kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus menumbuhkan kecintaan santri terhadap guru dan dunia literasi.

Merespons kegiatan yang dipersembahkan oleh para santri tersebut, salah seorang tenaga pengajar senior yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sesait, Ustaz Susianto, M.Pd., yang telah mengabdikan diri selama 18 tahun di Ponpes Nurul Islam Kayangan, turut angkat bicara.

Ustaz Susianto mengungkapkan rasa haru dan bangganya melihat inisiatif kreatif dari para santri.

"Kami, para guru, merasa terharu sekaligus bangga melihat betapa santri-santri kami memiliki kepedulian yang tinggi untuk merayakan Hari Guru ini dengan cara yang sangat berkesan dan artistik," ungkap Ustaz Susianto.


"Perlombaan ini seolah menjadi oase yang menyegarkan bagi kami. Setelah belasan tahun mengabdi, menyaksikan mereka mengekspresikan rasa terima kasih melalui puisi dan lagu, itu adalah hadiah yang nilainya jauh melampaui materi. Sebagai seorang pendidik sekaligus Kepala Desa Sesait, saya melihat ini sebagai cerminan keberhasilan pendidikan karakter yang akan membawa dampak positif bagi kemajuan masyarakat di Sesait dan sekitarnya. Ini membuktikan bahwa didikan dan nilai-nilai yang kami tanamkan telah membuahkan etika dan karakter yang baik," tutupnya dengan senyum bangga kepada seluruh santri.

Perlombaan ini dijadwalkan akan mencapai puncaknya pada 25 November 2025, bertepatan dengan Hari Guru Nasional, dengan pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan. 

Pewarta: Jaharuddin.S.Sos