Lombok Utara, (postkotantb.com) -  Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara hari ini, Jum’at, 7 November 2025 M/16 Jumadil Awal 1447 H, menggelar kegiatan Imtaq (Iman dan Takwa) Tingkat Kabupaten di Masjid Agung Baiturrahim Tanjung. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat fondasi spiritual dan integritas Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemda KLU.

Imtaq dihadiri oleh seluruh ASN, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) lingkup Sekretariat Daerah (Setda) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ASN dari tiga kecamatan bagian barat, yakni Pemenang, Tanjung, dan Gangga.


Kegiatan dimulai tepat pukul 08.30 WITA dan dipandu oleh Plt. Sekretaris BKD, Ustaz Suardi. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Durat Yaasiin secara berjamaah, dilanjutkan dengan lantunan Qalam Ilahi oleh Ustaz Amrul Hadi, S.Pd.I.

Dalam kata pengantarnya, Ustaz Suardi menjelaskan, bahwa program Imtaq ini dilaksanakan rutin oleh Pemda. Untuk efisiensi dan jangkauan, Imtaq dibagi menjadi dua zona. Zona barat (Setda, OPD, serta Kecamatan Pemenang, Tanjung, dan Gangga) dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahim Tanjung, sedangkan dua kecamatan di wilayah timur (Kayangan dan Bayan) akan melaksanakannya di kecamatan masing-masing.

“Pada kesempatan ini, kami sampaikan himbauan dan harapan agar kegiatan ini dapat menjadi sarana pencerahan bagi seluruh pegawai dalam menjalankan tugas,” ujar Ustaz Suardi.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian tauṣiyah (nasihat agama) oleh Ustaz Dr. H. M. Zaki Abdillah, Lc., MA. Beliau membawakan tema sentral mengenai Amanah.


Ustaz Zaki Abdillah membahas Fiqih tentang Amanah secara mendetail dan rinci, merujuk pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadis. Amanah, secara umum, diartikan sebagai menerima perintah dan meninggalkan larangan (merujuk pada QS. Al-Ahzab).

Lebih lanjut, beliau merinci bahwa amanah dalam diri manusia terbagi dua kondisi, yaitu adanya sifat Zalim dan sifat Jahil, kecuali bagi individu yang diberikan Taufiq (pertolongan) oleh Allah SWT. Beliau juga memaparkan tiga kategori khusus Amanah yakni amanah yang terjadi karena adanya transaksi, Amanah karena Menjaga Rahasia Orang Lain dan Amanah karena tanggung jawab dalam Jabatan (seperti yang diemban oleh para ASN).

Dalam pemaparan selanjutnya, Ustaz Dr. H. M. Zaki Abdillah mengupas tuntas tema Amanah dengan merujuk pada dalil-dalil kuat dari Al-Qur'an dan Hadis.

Disebutkannya bahwa Amanah dalam makna yang paling luas dan mendasar, mencakup seluruh kehidupan manusia sebagai hamba Allah. Amanah secara umum adalah menerima perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT.

Amanah ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, di mana Allah SWT menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan dan takut. Akhirnya, manusia yang bersedia memikulnya. "Amanah ini melibatkan seluruh tanggung jawab yang diemban manusia dalam hidupnya,"ujarnya, seraya menegaskan bahwa secara umum, semua yang dijaga oleh manusia (termasuk diri, waktu, harta, dan anggota tubuh) adalah amanat dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan.

Secara khusus, Ustaz Zaki Abdillah menguraikan tiga bentuk spesifik dari Amanah yang sering dihadapi manusia dalam interaksi sosial dan profesional, diantaranya Amanah (Titipan) yakni Amanah yang timbul karena adanya transaksi, perjanjian, atau penyerahan fisik dari satu pihak ke pihak lain. Ini termasuk menjaga titipan harta, barang, atau uang milik orang lain. Merujuk pada kewajiban mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Kemudian, Amanah Menjaga Rahasia    Kewajiban untuk menyimpan rapat rahasia atau aib orang lain yang dipercayakan kepada kita, atau yang kita ketahui tanpa sengaja. Melanggar amanah ini termasuk ke dalam perbuatan yang merusak persaudaraan.    Termasuk menjaga rahasia rumah tangga, rahasia klien, atau rahasia profesional.

Terakhir, Amanah dalam JabatanTanggung jawab yang diemban oleh seseorang dalam posisi kekuasaan atau tugas profesional (khususnya bagi ASN, P3K, dan PTT). Menjalankan tugas dengan jujur, adil, dan profesional adalah bentuk menjaga amanah ini.Konteks pelayanan publik dan kepemimpinan.

Ustaz Zaki juga membahas dimensi spiritual manusia yang memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalankan Amanah. Beliau mengutip QS. Al-Ahzab (ayat di mana manusia menerima amanah) untuk menjelaskan kondisi internal manusia:

Dalam dirinya, manusia memiliki dua sifat yang berpotensi menghalangi pelaksanaan amanah, yaitu:

- Sifat Zalim: Berbuat aniaya atau melanggar hak orang lain dan hak Allah.

- Sifat Jahil: Bodoh, tidak mengetahui, atau mengabaikan konsekuensi dari amanah yang diemban.

Kondisi zalim dan jahil ini dikecualikan bagi manusia yang diberikan Taufiq oleh Allah SWT. Taufiq adalah pertolongan dan bimbingan dari Allah yang memungkinkan seseorang untuk berbuat baik dan benar, termasuk dalam menjalankan amanah.


Uraian beliau diakhiri dengan menekankan pentingnya amanah bagi para pemimpin dan pihak yang memiliki kewenangan, dengan merujuk pada: QS. An-Nisa Ayat 58: Ayat ini sering digunakan sebagai landasan Fiqih Siyasah (politik/pemerintahan) yang mewajibkan para pemegang kekuasaan untuk menunaikan amanah kepada yang berhak serta menetapkan hukum dengan adil.

Dengan demikian, tauṣiyah ini memberikan kerangka teologis dan praktis bagi seluruh ASN di Lombok Utara untuk menilai kembali integritas dan tanggung jawab mereka dalam melayani masyarakat. 

Pewarta: Jaharuddin.S.Sos