
Pakar Lingkungan Pesisir Dr. C.HM. Nujumuddin, M.Si. Foto Istimewa
Lombok Tengah, (postkotantb.com) - Pakar Lingkungan Pesisir Dr.C. HM. Nujumuddin, M.Si. menyoroti penyelenggaraan Sangkep Warige yang dinilai tidak esensial.
Menurutnya, penyelenggaraan Sangkep Warige yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Lombok tengah dan pihak terkait hanya habis-habiskan waktu, tenaga, pikiran, anggaran,dan timbulkan kesimpangsiuran di masyarakat.
Sebab,dengan tanpa sangkep warige sekalipun.Waktu dan tanggalnya sudah jelas dan pasti.
"Ndak perlu lah ada sangkep warige, habisin energi, waktu dan tanggal keluarnya nyale sudah jelas dan pasti kok,jangan bikin simpangsiur ditengah masyarakat, "cetusnya.
Dijelaskan,penangkapan cacing karang (Nyale) biasanya dilakukan pada saat tertentu, seperti saat bulan purnama atau saat air laut surut. Di beberapa Daerah, penangkapan Nyale juga terkait dengan tradisi dan budaya lokal.
Lebih detail, Doktor Nujum menjelaskan, jika mengacu pada warige yang diterbitkannya. Untuk tahun 2026, penangkapan cacing karang (Bau Nyale) akan terjadi pada sabtu dan hari minggu bertepatan dengan tanggal 7 dan 8 Februari 2026 mendatang.
Sederhananya,dalam mengetahui waktu Bau Nyale yang tepat dan akurat.Dapat ditetapkan menggunakan rumus: Nt/F = P + 5 h dan Np/M = P + 5 h.
Keterangannya : Nt (Nyale tunggak), Np (Nyale poto) F (Februari), M (Maret), P (Purnama) dan 5 h (lima hari). Nyale tunggak artinya penangkapan yang dilakukan pada bulan Februari sedangkan Nyale poto yang dilakukan di bulan Maret pada tahun yang sama. Jadi untuk tahun ke X bisa kita tentukan nama hari dan tanggal penangkapan Nyale itu.Dengan demikian tidak perlu dilakukan Sangkap Warige yang menyerupai sidang isbat datangnya bulan Ramadhan (bulan berpuasa).
"Sebelum dilakukan Sangkep Warige hari kamis tanggal 4 Desember 2026 yang dilakukan di KEK Mandalika, saya kirimkan jadwal hari Bau Nyale kepada petinggi ITDC bahwa penangkapan Nyale yang akan datang jatuh pada hari minggu.Akan tetapi penangkapan Bau Nyale yang ditradisikan campur tangan Pemda,maka diadakan selama 2 hari yaitu hari sabtu dan hari minggu," katanya.
Apalagi lagi berbicara esensial,kok tidak terpikirkan oleh peserta Sangkep Warige tentang ekologi hewan karang ini. Penangkapan cacing karang sebagai aset wisata bersifat urgent,perlu upaya pelestarian yang kongkrit. Karena ada kekhawatiran keberadaan cacing ini mengalami degradasi pengaruh modernitas.
Cacing karang atau Eunice viridis adalah nama ilmiah untuk cacing karang atau Nyale, hewan laut yang termasuk dalam filum Annelida dan kelas Polychaeta.
Terjadi perubahan tanggal Bau Nyale pada tahun 2025 yaitu 5 hari sebelum tanggal yang ditetapkan oleh Sangkep Warige. Ini berarti biota air ini lama kelamaan akan terancam punah di pantai Seger.
"Aktifitas pariwisata yang semakin masif di wilayah pantai Mandalika bisa mengancam keberadaan dan keberlangsungan nyale,"terangnya.
Sebagai langkah antisipatif,perlu dilakukan penelitian dengan pengambilan sampel air laut saat ini untuk menguji kualitas dengan parameter fisika dan kimia.
Biasanya untuk parameter fisika bisa dilakukan secara in-situ sedangkan parameter kimianya dilakukan secara ex-situ yaitu laboratorium.
Pria yang punya jam terbang padat menjadi Narasumber keliling Indonesia itu menyatakan,Eunice viridis atau Nyale dapat dibudidayakan.Namun masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Beberapa upaya budidaya Nyale telah dilakukan di beberapa Negara, termasuk Indonesia,namun masih menghadapi tantangan seperti kesulitan dalam memelihara dan menginduksi reproduksi.
"Saya menekankan,yang paling penting sekarang kita pikirkan ekologinya,bukan ingin panen saja ambil praktisnya,kalau punah,mau tangkap apalagi,maka mari kita jaga bersama sebelum terlambat," tandasnya.
Pewarta: Lalu Irsyadi
Doktor Nujum Sebut Sangkep Warige Selalu Bahas Panen Nyale, Namun Mengabaikan Ekologi
Redaksi PostKotaNTB
Font size:
12px
Baca juga:

0Komentar