Breaking News

Mandalika Art Community Gelar Pameran Bertajuk: Resonansi, Pertautan Getran Ide Dalam Ruang Komunal

 


Mataram, (postkotantb.com) - 
Memilih tema "Resonansi" pameran kali ini, berupaya menangkap pertautan getar visual yang muncul dari pertemuan ragam ide dan gagasan para seniman. Pameran ini bukan hanya merepresentasikan metafora visual, tetapi sebagai konsep yang menggambarkan bagaimana pengalaman, yang kadang bisa retak, atau justru penuh harmoni menggetarkan diri para seniman hingga menjelma menjadi karya visual. 

Sasih Gunalan sebagai kurator dalam pameran ini menerangkan "gerak-gerak resonansi hadir sebgai sebuah getaran yang lahir dari keterhubungan yang menautkan antara manusia dengan alam, ingatan masa lalu dan masa kini tubuh dan emosinya, serta dengan denyut masyarakat yang terus berubah". 

Tia sofiana menghadirkan sebuah karya dengan judul "maaf dan terimakasih".
Lukisan ini dibuat diatas kardus, media yang biasa digunakan untuk membawa, menumpuk, mengirim dan menyimpan hal-hal yang dianggap perlu, sekaligus menyingkirkan hal-hal yang dianggap selesai. Kardus di pilih sebagai simbul ruang transit, tidak permanen, namun cukup kuat menahan beban. 

Dalam keterangannya, Tia Sofiana menjelaskan "Figur anak-anak yang berdiri rapi dengan gestur jempol 'oke' menghadirkan ironi visual, tubuh kecil terlihat tenang, patuh dan meyakinkan seolah semua berjalan baik-baik saja, dalam ketenangan itu tersimpan pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya menanggung beban dan seberapa matang keputusan yang dibungkus rapi dihadapan publik" pada Selasa (23/12/2025).


Kardus ini menampung banyak hal seperti: gambar, beban, harapan, dan mungkin juga janji atau niat baik, ia tampak sederhana, sebagaimana pesan-pesan seringkali disederhanakan sebelum sampai ke tangan penerimanya. 

Perupa lain, Dery Firmansyah memajang karya berjudul Embrio. Menggambarkan dua sejoli dalam balutan kostum hewan: ikan dan burung, yang merepresentasikan perbedaan keduanya baik dalam habitat, latar belakang dan pemikiran, keduanya mengikat ijab dalam koitus dan melahirkan mahluk baru; kedua warna dominan merah dan biru menegaskan feminim, maskulin dalam dunia perkembangbiakan. 

Sementara itu, Bambang Prasetya menampilkan "the last fruit", menggambarkan induk kera bercucuran air mata mendekap bayinya, menggugah kita akan deforestasi dan pembalakan ugal-ugalan membabat habis ekosistem satwa-satwa langka di Indonesia terkhusus Aceh dan Sumatra. (nata)

0 Komentar

Posting Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close