Lombok Utara, (postkotantb.com)– Dalam upaya memperkuat mitigasi dan koordinasi penanganan bencana di tingkat kecamatan hingga desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar Sosialisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Camat Gangga bertempat di Aula Kantor Camat Gangga pada Selasa, 30 Desember 2025 M atau bertepatan dengan 10 Rajab 1447 H.


Acara tersebut dihadiri oleh jajaran penting, di antaranya Camat Gangga, Mahzan Zohdi, SP., didampingi Sekcam Gangga, serta pihak penyelenggara dari BPBD KLU yang sekaligus bertindak sebagai narasumber. Turut hadir Kasi Trantib dan Kasi Pemerintahan Kecamatan Gangga, para Kepala Desa, Sekretaris Desa (Sekdes), Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas Desa, hingga Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) dari seluruh desa se-Kecamatan Gangga.

Dalam sambutannya sebelum membuka acara secara resmi, Camat Gangga, Mahzan Zohdi, SP., menekankan pentingnya penguasaan teknologi informasi dalam manajemen bencana modern. Menurutnya, keberadaan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) akan sangat membantu percepatan laporan dan akurasi data di lapangan.


"Kehadiran sistem informasi ini bukan sekadar mengikuti tren digitalisasi, melainkan kebutuhan mendesak agar kita bisa bertindak cepat dan tepat saat terjadi situasi darurat. Saya berharap seluruh peserta mengikuti sosialisasi ini dengan serius," ujar Mahzan.

Lebih lanjut, Mahzan menitipkan harapan besar kepada para Kepala Desa dan anggota TSBD sebagai garda terdepan di masyarakat. Beliau berharap sistem ini tidak hanya dipahami di level teori, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam struktur kerja di desa.

Sosialisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) yang berlangsung di Aula Kantor Camat Gangga, tersebut, menghadirkan narasumber ahli dari BPBD Kabupaten Lombok Utara (KLU), Fauzal Iswandi, ST.


Dalam pemaparannya, Fauzal mengupas tuntas latar belakang di balik pengembangan dan sosialisasi sistem ini. Ia menekankan bahwa inovasi digital ini lahir dari pembelajaran berharga atas peristiwa besar yang pernah menimpa daerah tersebut.

Fauzal menyampaikan bahwa salah satu alasan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah kompleksitas penanganan bencana yang dialami saat gempa dahsyat berkekuatan 7,0 SR pada Ahad, 5 Agustus 2018 silam. Peristiwa tersebut telah memporak-porandakan Bumi Lombok, di mana Kabupaten Lombok Utara menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling parah.

"Kita semua ingat bagaimana kompleksnya situasi saat Agustus 2018. Pengelolaan data yang manual saat itu membuat koordinasi menjadi sangat menantang. SIK ini hadir agar manajemen data bencana kita jauh lebih terintegrasi, transparan, dan cepat," jelas Fauzal di hadapan para Kepala Desa dan anggota TSBD se-Kecamatan Gangga.

Menurut Fauzal, BPBD KLU berkomitmen untuk meminimalisir risiko melalui sistem yang lebih terukur. Adapun tujuan utama dari sosialisasi ini meliputi:

1.Integrasi Data: Menyatukan informasi dari tingkat desa hingga kabupaten dalam satu platform.

2.Akurasi Informasi: Memastikan laporan kerusakan dan logistik tidak tumpang tindih.

3.Respons Cepat: Mempersingkat rantai birokrasi pelaporan saat status darurat ditetapkan.

Dengan adanya pemaparan dari narasumber teknis ini, diharapkan para peserta—terutama para Sekretaris Desa dan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD)—memiliki gambaran jelas bahwa sistem ini bukan sekadar aplikasi, melainkan instrumen penyelamatan nyawa dan harta benda melalui data yang akurat.

Sesi diskusi dalam sosialisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) di Aula Kantor Camat Gangga berlangsung interaktif. Dipandu langsung oleh narasumber BPBD KLU, Fauzal Iswandi, ST., sejumlah peserta menyampaikan aspirasi strategis mulai dari kebutuhan alat peringatan dini hingga dukungan anggaran untuk relawan.

Kepala Desa Rempek Darussalam, Muliadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif BPBD KLU. Namun, ia menekankan bahwa sistem informasi harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur fisik di lapangan.

"Kami mengusulkan agar BPBD memasang alat tanda peringatan dini (Early Warning System) di titik-titik strategis atau pemukiman warga yang masuk zona rawan bencana," tegas Muliadi. Selain itu, ia berharap adanya Bimbingan Teknis (Bintek) yang intensif bagi Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) mengenai tupoksi kebencanaan agar kapasitas personel semakin mumpuni.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Genggelang, Almaududi, berbagi praktik baik yang telah dijalankan di desanya. Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2020, Pemerintah Desa Genggelang telah mengalokasikan anggaran khusus untuk operasional TSBD dalam menanggulangi bencana di wilayahnya.

Di sisi lain, Ardi, seorang relawan asal Desa Bentek, menyarankan agar seluruh desa memberikan dukungan anggaran yang serupa. Menurutnya, pemberdayaan TSBD sangat bergantung pada dukungan pendanaan agar mereka memiliki bekal ilmu dan kesiapan saat menjalankan tugas darurat yang bisa terjadi sewaktu-waktu.


Menanggapi aspirasi tersebut, Kasi Trantib Kecamatan Gangga, Edy Sopyan, bersama Sekcam Gangga, Nursim, memberikan penguatan bagi para peserta. Pihak kecamatan berkomitmen untuk mengawal keberadaan TSBD agar lebih maksimal, baik dari sisi peran maupun regulasi anggaran.

"Ke depan, terkait keberadaan TSBD dan dukungan anggarannya, kami akan membangun komunikasi dan koordinasi yang lebih intensif dengan pihak pemerintah desa serta instansi terkait lainnya. Kita ingin memastikan relawan kita di tingkat bawah memiliki payung koordinasi yang jelas," pungkas Sekcam Nursim meyakinkan para peserta.

Usai sesi diskusi yang dinamis, kegiatan dilanjutkan dengan demo aplikasi SIK. Para peserta dipandu langsung untuk melihat cara kerja sistem informasi tersebut agar siap diimplementasikan di tingkat desa masing-masing.


Kegiatan yang berlangsung khidmat dan produktif ini diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi antara pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga jajaran di tingkat desa dalam mewujudkan Kecamatan Gangga yang tangguh bencana.

Pewarta: Jaharuddin.S.Soa