Lombok Utara, (postkotantb.com) - Forum Komunikasi Organisasi Masyarakat Sipil Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim berbasis Lanskap (Fokmas) sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Set Up Demplot" pada Sabtu (07/02/2026) atau 19 Sya'ban 1447 H.
Kegiatan yang dipusatkan di lokasi sumber mata air KP SPAMS/PAMDES Santong Mulia, Duren Telaga Santong ini, fokus pada pengelolaan kawasan berbasis lanskap guna mengurangi risiko bencana dan kerentanan lingkungan di wilayah tersebut.
Aksi penghijauan ini menjadi potret nyata kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Kayangan, KPH Rinjani, Pemerintah Desa Santong Mulia, Desa Santong, dan perwakilan Pemdes Sesait, Babinmaspol Desa Santong, TSBD Desa, serta pengelola Pamdes dan Pokmair dari Desa Santong Mulia, Sesait, Pendua, dan Santong.Yayasan Sheep Indonesia (YSI), GPA Santong, PMR SMAN 1 Kayangan, serta delegasi dari BUS, ABQ, Maraqit, Al Muttaky Santong, dan PKM Santong.
Camat Kayangan, Siti Rukaiyah, memberikan apresiasi tinggi sebelum memimpin rombongan menuju lokasi penanaman. Beliau menekankan pentingnya menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.
"Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi. Semoga apa yang kita tanam hari ini dapat bermanfaat sebagai penopang air yang dikonsumsi oleh warga Santong Mulia khususnya, dan masyarakat Kecamatan Kayangan pada umumnya," ujar Siti Rukaiyah.
Beliau juga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada YSI yang telah mendukung penuh penyediaan bibit pohon untuk ditanam di kawasan kritis mata air tersebut.
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah konkret dalam mitigasi bencana kekeringan dan kerusakan ekosistem. Dengan pendekatan berbasis lanskap, Fokmas berharap area tangkapan air di Duren Telaga Santong dapat kembali pulih dan berfungsi optimal secara berkelanjutan.
Perwakilan dari KPH Rinjani yang turut hadir dalam aksi tersebut juga memberikan penekanan dari sisi teknis kehutanan dan konservasi. Beliau menyampaikan bahwa menjaga hulu bukan sekadar menanam, tapi memastikan keberlanjutan fungsi hutan sebagai penyimpan cadangan air alami (akuifer).
"Kami dari KPH Rinjani sangat mengapresiasi kolaborasi Fokmas dan YSI. Kawasan Santong ini adalah benteng hijau kita. Jika hutan di bagian hulu ini rusak, maka debit mata air di bawahnya pasti akan mengecil. Menjaga pohon berarti menjaga nyawa mata air kita," tegas perwakilan KPH Rinjani.
Ditempat yang sama, Mauri Azhar dari Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) menekankan bahwa aksi penanaman ini adalah bagian dari strategi besar dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim.
"Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam bibit hari ini, tapi tentang bagaimana kita mengelola bentang alam secara terintegrasi. YSI berkomitmen terus mendukung upaya-upaya masyarakat sipil dalam melindungi sumber daya air yang menjadi hak dasar warga. Kami berharap demplot ini menjadi contoh nyata pengelolaan lingkungan yang partisipatif," ujar Mauri Azhar.
Ketua KKM Lokok Bilok Desa Santong Mulia, Misyadin, yang hadir mendampingi para pengelola air, menyampaikan harapan besarnya terhadap dampak jangka panjang dari penanaman pohon ini. Sebagai garda depan pengelola air bersih bagi warga, ia menekankan pentingnya ketersediaan debit air yang stabil.
"Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai di penanaman saja, tapi ada perawatan bersama. Dengan pulihnya vegetasi di sekitar mata air ini, kami berharap debit air tetap terjaga sehingga kebutuhan air bersih bagi warga, khususnya di wilayah Lokok Bilok dan sekitarnya, tidak lagi terancam saat musim kemarau," tegas Misyadin.
Aksi yang berlangsung khidmat pada 19 Sya'ban 1447 H ini ditutup dengan penanaman simbolis di titik-titik rawan kawasan mata air. Seluruh peserta membawa semangat yang sama sesuai slogan kegiatan: "Air, Peduli Sekarang atau Merugi Nanti". (@ng)







0Komentar