![]() |
| Doktor Rusdianto Kabid Kedaruratan dan Logistik pada kantor BPBD Kabupaten Sumbawa. Foto Istimewa |
Sumbawa Besar, (postkotantb.com) — Ancaman bencana hidrometeorologi kian nyata di tengah kerusakan lingkungan yang semakin parah. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Kabid kedaruratan Dan logistik) pada kantor BPBD Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusdianto mengingatkan, bahwa dampak siklon dan fenomena La Nina dapat menimbulkan korban besar jika tidak dimitigasi dan diantisipasi dengan serius.
“Yang mengerikan bila siklon dan La Nina menimpa kita, korbannya akan banyak. Karena lingkungan kita sudah rusak parah,” tegas Dr. Rusdianto dalam pernyataannya.
Menurutnya, salah satu kerentanan utama berada di kawasan daerah aliran sungai (DAS). Ia menegaskan agar tidak ada lagi pihak yang mencoba membangun atau bermukim di bantaran sungai.
“Kalau modelnya seperti itu, jangan ada lagi yang coba-coba dekat dengan daerah aliran sungai. Akan dilibas oleh air. Itu kerentanannya,” ujarnya.
Dr. Rusdianto kepada Awak Media ini pada Rabu (11/02/2026), menyoroti kondisi kapasitas sungai yang sudah tidak mampu lagi menampung debit air saat hujan deras atau intensitasnya tinggi. Sedimentasi yang terus terjadi memperparah kondisi, sehingga banjir menjadi langganan. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir banjir kembali terjadi di sejumlah titik." Sebutnya
“Tadi malam saja kita kena banjir lagi. Beberapa hari lalu juga banjir. Kapasitas sungai tidak bisa menampung, sedimentasi terus terjadi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa dampak bencana bukan hanya kerusakan fisik tetapi juga tekanan psikologis masyarakat terdampak.
“Tingkat stres di lokasi bencana tentu akan naik. Ini yang juga harus kita pikirkan,”
Belajar dari pengalaman daerah lain seperti Sumatera dan Aceh yang dilanda bencana besar, Dr. Rusdianto menilai, bahwa wilayah dengan kondisi hutan yang relatif masih baik saja bisa mengalami dampak besar, apalagi daerah dengan tingkat kerusakan lingkungan yang lebih tinggi atau telah terdegradasi. Terangnya
“Sumatera dan Aceh menjadi pelajaran berharga. Itu pun hutannya masih bagus. Bagaimana dengan kita? Ini yang harus kita evaluasi bersama,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya mitigasi struktural yang terencana dan terukur, termasuk penataan kawasan berbasis daya dukung lingkungan. Kawasan mana yang boleh ditanami, dibangun, dan mana yang harus dilindungi, menurutnya harus menjadi pegangan bersama semua komponen.
“Mitigasi struktural sudah harus ada. Kawasan yang bisa ditanam dan yang tidak, itu harus menjadi pegangan semua pihak. Kita ajak semua komponen untuk berkolaborasi,” ajaknya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ancaman yang dihadapi bukan hanya banjir, tetapi juga potensi bencana gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
“Itu baru banjir, belum kita masuk ke bencana gempa,” sebutnya.
Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan, untuk segera memperkuat langkah mitigasi dan memperbaiki tata kelola lingkungan, demi mencegah dampak bencana yang lebih besar di masa mendatang. Tutupnya. (Jhey)



0Komentar