Jakarta, (postkotantb.com) - Bakilung, salah satu seni tradisi yang saat ini berkembang di Kabupaten Sumbawa Barat, menghiasi malam ifhtar yang diselenggarakan di rumah Prof Din Syamsudin di Jakarta, Sabtu (21/02/2025), Pukul 20.00 WIB. Tim kesenian tersebut sengaja diundang untuk meramaikan dan menghibur para peserta iftar yang berlangsung pada malam tersebut. 

Tim kesenian yang terdiri dari empat orang tersebut mendendangkan syair lawas dalam bentuk seni bakilung. Dendang khas dengan permainan rebana gitar kilung dan lantunan lawas Sumbawa menggema di ruangan pelaksanaan ifhtar pada malam tersebut.


Para hadirin larut dalam untaian lawas syair yang dinyanyikan oleh Nadia selaku vokalis dalam team Bakelung tersebut. Probdin selaku tuan rumah dan para tamu undangan berjejak kagum dan memberikan respon dalam bentuk tepuk tangan kepada timba kilung yang telah menampilkan salah satu kesenian daerah Sumbawa.

Ilyas yang merupakan salah satu hadirin yang hadir dalam kesempatan tersebut, merasakan adanya kehadiran suasana Sumbawa tempo dulu dalam ruangan ifhtiar tersebut. Di mana lantunan syair pilihanlah kata-kata lawas dan dendang irama khas Sumbawa seakan membawa memori para hadirin yang hadir pada kesempatan tersebut ke kampung halaman.


Ada kerinduan yang hadir dalam benak kami masyarakat Sumbawa maupun Sumba Barat yang ada di rantauan ini dan tentunya kerinduan ini menjadi sebuah pengikat dalam hati kami bahwa walaupun kami berada di jalan Tuhan kami tetap menjadi warga Sumbawa dan Sumbawa Barat yang selalu mencintai daerah kelahiran.


Adapun potongan lawas yang dibawakan pada malam hari itu yaitu : Assalamualaikum
tu samula ke bismillah, salamat gama parana. Sia pesan kami datang, Kalis samawa jakarta, Tutu lampa  ada boat. Boat kita tu samawa, Tokal ke silaturahmi, Belo gama saling beme. Nosoda sama Nan maras, Mara tu ba sai ate, Tu tulang muka Kemas mo. O sarea tu dadara, silamo nulang amgkang ta, panto nyonde tangar untung. O sarea tu taruna, ma tulang rena tu tangar, na sala pang tendri untung. ajan mugita ruate, putih mara kemang menir, pamendi lino mara ai. lamen pendi maris pendi, na beang dua pamiker, sopo lema bakalako. lamin soo mo karante, tu barema lo pinane, nan poo tutu saling sayang. do kaka tabe gamana, ka terlanjur ling tu being, tu saling maaf gamana. o sareaa rama peno, gendras maras ling ano ta, mares gama tu sangada. wassalam tu eneng pamit, roa bue tu bakelong, luk maras kemo barema. (Amry)