Lombok Utara, (postkotantb.com)-  Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Gondang ke-126, Pemerintah Desa Gondang melaksanakan prosesi adat “Mentabeq” pada hari ini, Ahad, 1 Februari 2026. Ritual ziarah makam leluhur ini dipusatkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kubur Empas, Dusun Gondang Timur.

Ritual Mentabeq atau bermakna "memohon izin" merupakan tradisi sakral untuk menghormati para leluhur yang telah meletakkan fondasi peradaban di Desa Gondang. Lokasi Kubur Empas dipilih karena merupakan situs pemakaman tertua yang menyimpan jejak sejarah penting, mulai dari makam tokoh penyiar agama Islam legendaris, Titik Kemendur, hingga pemimpin desa pertama yang dikenal sebagai Pemusungan Amaq Langgia.


Berdasarkan penelusuran sejarah, kawasan Kubur Empas dahulu merupakan pemukiman penduduk yang dinamakan Telok Borok. Di tempat ini pula pernah berdiri masjid tua peninggalan peradaban Islam Wetu Telu. Seiring waktu, pusat kegiatan berpindah ke Dusun Karang Bedil dan Karang Anyar (Gubug Jero), yang kemudian melahirkan Masjid Adat Al Muawwanah serta pusat pemerintahan desa yang kini menjadi kantor Desa Gondang.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Kepala Desa Gondang, Supriadi, beserta perangkat desa, BPD, TP PKK, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para kadang waris leluhur. Turut hadir anggota DPRD KLU Dapil Gangga, M. Indra Darmaji, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar leluhur yang dimakamkan di tempat tersebut.

Juru kunci makam, Amiq Nasir, memandu jalannya prosesi ziarah sekaligus memberikan uraian sejarah mengenai kiprah Titik Kemendur dalam menyebarkan ajaran Islam di masa lampau. 


Dalam suasana yang hening di bawah rindangnya pepohonan TPU Kubur Empas, Amiq Nasir  mengisahkan sosok Titik Kemendur dengan penuh haru. Beliau memaparkan bahwa Titik Kemendur bukan sekadar nama, melainkan simbol keteguhan dalam menyebarkan ajaran Islam di masa transisi peradaban kuno menuju tatanan masyarakat yang lebih religius.

Menurut penuturan Amiq Nasir, Titik Kemendur dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya. Beliau mampu merangkul warga Telok Borok (sebutan kuno wilayah Gondang) tanpa menghapus kearifan lokal yang ada, namun mengisinya dengan nilai-nilai tauhid.

Kiprah beliau sangat erat kaitannya dengan keberadaan masjid tua yang pernah berdiri di sekitar lokasi Kubur Empas. Di sanalah Ia membina jamaah Islam Jejawean, yang menjadi embrio bagi masyarakat religius di Dusun Karang Bedil dan Karang Anyar saat ini.

Amiq Nasir juga menegaskan, bahwa penunjukan dirinya sebagai juru kunci sekaligus merupakan amanah sebagai kadang waris (keturunan) untuk memastikan bahwa jejak sejarah Titik Kemendur tidak hanya menjadi dongeng, melainkan teladan bagi Bajang-Bajang (pemuda) Desa Gondang dalam menjaga moralitas dan spiritualitas.


"Amiq Nasir adalah kompas yang mengarahkan kita menuju jalan yang terang. Melalui Mentabeq ini, kita tidak hanya menziarahi jasadnya, tapi juga menziarahi semangat juangnya," ujar Amiq Nasir di hadapan para hadirin.

Suasana sakral semakin terasa saat seluruh peserta melantunkan doa bersama yang dilanjutkan dengan pembacaan Serakalan atau Al-Berzanji.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Gondang, Supriadi, menekankan pentingnya menghargai akar sejarah.

"Kegiatan Mentabeq ini adalah wujud syukur dan penghormatan agar rangkaian perayaan HUT desa membawa berkah. Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kita menghargai akar agar pohon kehidupan di desa ini tetap tumbuh kokoh," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Bapak M. Indra Darmaji juga memberikan apresiasi atas upaya pemerintah desa dalam melestarikan nilai-nilai luhur yang menyatukan masyarakat.

Sebagai bagian dari kadang waris leluhur yang dimakamkan di Kubur Empas, M. Indra Darmaji menyampaikan sambutan yang menyentuh sisi emosional, sekaligus tanggung jawab legislatif dalam pelestarian budaya.


Dalam penyampaiannya Ia menekankan beberapa poin utama, yang pertama, beliau menyatakan bahwa menghadiri acara Mentabeq ini merupakan bentuk kepulangan kepada akar keluarga dan sejarah. "Kita berdiri di sini karena perjuangan para leluhur di masa lalu. Sebagai generasi penerus, sudah kewajiban kita untuk memastikan nama-nama besar seperti Titik Kemendur dan Amaq Langgia tetap hidup dalam ingatan kolektif warga Gondang," ungkapnya.

Kedua, beliau berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan yang berpihak pada pelestarian situs-situs bersejarah di Kabupaten Lombok Utara, khususnya di Desa Gondang, agar jejak peradaban seperti eks-masjid tua dan makam keramat ini dapat dipugar dan dijaga dengan layak. 

Dan yang ketiga, M. Indra Darmaji mengapresiasi sinergi antara Pemdes dan tokoh adat. Beliau berharap agar semangat gotong royong yang diwariskan sejak zaman Pemusungan Amaq Langgia tetap menjadi ruh dalam pembangunan Desa Gondang menuju desa yang mandiri dan sejahtera.


Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan penuh rasa kekeluargaan. Momentum ini menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya persatuan sebagaimana tema HUT Desa tahun ini: “Menjaga Warisan Leluhur Menuju Desa Sejahtera”. Dengan selesainya ritual Mentabeq, Desa Gondang kini siap menyambut hari jadinya yang ke-126 pada  Senin 2 Februari 2026.(@ng)