Oleh Muhammad Yamin, SE., M.Si


Setahun kepemimpinan Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, menjadi fase yang menarik untuk dicermati. Ia hadir bukan dari rahim birokrasi, juga bukan dari jalur politisi struktural, melainkan dari dunia usaha—khususnya industri tambang di PT Newmont Nusa Tenggara, dengan posisi terakhir sebagai Senior Manager External. Latar belakang ini memberi warna tersendiri dalam gaya kepemimpinannya: cepat, terukur, dan berorientasi hasil.

Dalam satu tahun perjalanan pemerintahannya, terdapat tiga fondasi utama yang menjadi ruh kebijakan dan gerak pembangunan di Sumbawa.
Pertama, penguatan nilai spiritual melalui kebijakan Sholat Subuh berjamaah. Ini bukan sekadar program keagamaan, tetapi menjadi simbol disiplin, kebersamaan, dan energi awal dalam membangun daerah.

Kedua, silaturahmi yang intensif dengan berbagai tokoh Sumbawa—baik di daerah, di Mataram, maupun di Jakarta. Relasi ini menjadi modal sosial yang kuat dalam membuka akses dan peluang bagi daerah.
Ketiga, etos kerja berbasis keikhlasan, yakni menjadikan pekerjaan sebagai bentuk ibadah. Nilai ini tercermin dari ritme kerja yang konsisten dan penuh dedikasi.

Meski terlihat sederhana, ketiga hal tersebut justru memunculkan efek resonansi yang besar. Dalam waktu singkat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa mampu menarik berbagai program strategis dari pusat. Di antaranya pembangunan infrastruktur seperti jalan lingkar selatan, serta program sosial-ekonomi seperti investasi industri unggas senilai Rp1,3 triliun, hilirisasi komoditas udang dan garam, hingga 12 Program Strategis Daerah dengan nilai lebih dari Rp154 miliar.

Yang menarik, arah pembangunan yang ditempuh tidak semata mengejar pertumbuhan, tetapi mengusung konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development)—menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Sumbawa mulai menata masa depan tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Di sektor ekonomi, fondasi jangka panjang mulai dibangun. Diversifikasi menjadi kunci. Jika sebelumnya bertumpu pada pertanian jagung dan peternakan sapi, kini mulai merambah sektor perikanan, UMKM, koperasi, dan industri kreatif.

Salah satu contoh nyata adalah geliat ekonomi di kawasan Lapangan Pahlawan setiap malam minggu melalui program Car Free Night (CFN). Aktivitas ini tidak hanya menghidupkan UMKM, tetapi juga menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat sekitar—dari parkir, penyewaan fasilitas, hingga perputaran uang yang signifikan. CFN bahkan berpotensi menjadi legacy penting dalam sejarah sosial-ekonomi Sumbawa.

Di bidang sosial, berbagai program mulai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat: pendidikan melalui Kartu Sumbawa Pintar, program siswa bergizi, hingga peningkatan layanan kesehatan dan pelatihan kompetensi di BLK.

Sementara itu, di sektor lingkungan, Bupati mengambil langkah progresif. Ia turun langsung dalam gerakan penanaman pohon, mengeluarkan larangan penanaman jagung di kawasan hutan dan perhutanan sosial, serta membentuk satgas pengamanan hutan. Pendekatan ini menunjukkan kombinasi antara aksi lapangan dan penguatan regulasi.
Lalu pertanyaannya: bagaimana dalam waktu singkat begitu banyak program bisa lahir?

Jawabannya mungkin tidak sepenuhnya teknokratis. Ada dimensi nilai yang bekerja. Spirit Subuh, silaturahmi, dan keikhlasan menjadi energi yang menggerakkan. Sebuah keyakinan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh keberkahan dalam setiap langkah.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, pagi hari adalah waktu yang penuh keberkahan untuk memulai usaha dan ikhtiar. Dalam konteks ini, kepemimpinan Syarafuddin Jarot seolah tidak pernah “tidur setelah subuh”—terus bergerak, bekerja, dan membangun.

Setahun mungkin masih awal. Namun arah sudah terlihat. Pondasi telah diletakkan. Tinggal bagaimana konsistensi dan keberlanjutan dijaga, agar Sumbawa benar-benar melompat lebih jauh di masa mendatang. (**)