Lombok Utara, (postkotantb.com)– Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) menggelar kegiatan Diskusi Evaluatif bersama seluruh jajaran stakeholder Landscape Santong pada Ahad (28/06/2026) atau bertepatan dengan 13 Muharram 1448 H. Pertemuan strategis yang berlangsung di Gedung Pusat Evakuasi Masyarakat (PEM) Desa Santong Mulia ini bertujuan untuk menakar capaian, dinamika, serta keberlanjutan program yang telah berjalan selama satu tahun terakhir.

Kegiatan ini dihadiri oleh elemen pemangku kepentingan yang komprehensif, meliputi:

1.Pemerintah Desa (Pemdes): Sesait, Santong Mulia, Pendua, Kayangan, Santong, Gumantar, Pansor, dan Dangiang.

2.Pengelola dan Kelembagaan Lokal: Pengelola PEM, TSBD Santong Mulia, Pamdes/Pokmair.

3.Sektor Kehutanan dan Pertanian: Kelompok Tani Hutan (KTH).

4.Sektor Kebencanaan dan Pengairan: Pokja Peringatan Dini, Pengamat Pengairan, serta Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).


Acara diawali dengan sambutan hangat dari Direktur YSI, Ibu Yulia Rina Wijaya. Di hadapan puluhan peserta yang hadir, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi dan sinergi yang ditunjukkan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah desa di Landscape Santong.

Dalam arahannya, Ibu Yulia menekankan pentingnya ruang evaluasi seperti ini untuk memastikan bahwa setiap intervensi program yang dibawa oleh YSI benar-benar memberikan dampak nyata, simultan, dan mandiri bagi kesejahteraan serta ketangguhan masyarakat setempat.

Memasuki agenda inti, evaluasi komprehensif mengenai program kegiatan YSI selama satu tahun terakhir dipaparkan langsung oleh Bapak Andreas Subiyono selaku Konsultan Yayasan SHEEP Indonesia.

Dalam paparannya, Bapak Andreas menggarisbawahi tiga poin esensial yang menjadi pilar utama dalam evaluasi program bersama stakeholder, yaitu:

1.Rasa (Aspek Emosional dan Kedekatan).Menilai sejauh mana program ini membangun ikatan, kepedulian, dan rasa kepemilikan (sense of belonging) dari masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan ketangguhan wilayahnya.

2.Pikir (Aspek Mindset dan Strategi). Melihat perubahan pola pikir stakeholder dalam merespons tantangan lokal, mulai dari tata kelola air, mitigasi bencana, hingga pengelolaan hutan secara lestari dan kolaboratif.

3.Pengetahuan (Aspek Kapasitas dan Edukasi). Mengukur transfer ilmu dan peningkatan kapasitas teknis yang telah diserap oleh kelompok-kelompok lokal—seperti Pokja Peringatan Dini dan P3A—selama pendampingan satu tahun ke belakang.


Diskusi berjalan interaktif dengan adanya tanggapan, masukan, dan testimoni langsung dari para kepala desa serta ketua kelompok tani/pengairan. Melalui momentum evaluasi ini, diharapkan jejaring kolaborasi di Landscape Santong semakin solid dan mampu mereplikasi sistem pengelolaan kawasan secara mandiri di masa yang akan datang.

Pewarta: @ng Jaharuddin