Lombok Utara, (postkotantb.com) — Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat adat Bayan di Lombok Utara masih kokoh memegang teguh kearifan lokal. Konsep kosmologi mereka menjadi bukti bahwa menjaga alam, manusia, dan nilai spiritual bisa berjalan beriringan.

Dalam pandangan masyarakat Bayan, kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Ada 3 unsur besar yang saling terhubung: *metakosmos* sebagai dunia ketuhanan, *makrokosmos* sebagai alam semesta, dan *mikrokosmos* sebagai diri manusia. Ketiganya diyakini harus selaras agar kehidupan berjalan seimbang.

Agama dan Budaya, Satu Tarikan Napas
Bagi warga Bayan, agama khususnya Islam diposisikan sebagai wahyu ilahi yang menjadi pedoman utama. Sementara budaya adalah wujud nyata dari "cipta, rasa, dan karsa" manusia. 

"Agama dan adat tidak bisa dipisahkan. Keduanya sama-sama menjaga agar manusia tetap hormat kepada Tuhan dan alam," ujar salah satu tokoh adat Bayan.

Keyakinan bahwa manusia dan alam adalah ciptaan Tuhan membuat mereka menempatkan lingkungan sebagai sesuatu yang harus dimuliakan, bukan dieksploitasi. Nilai ini diwariskan turun-temurun melalui aturan adat.

Awik-Awik: Hukum Adat Penjaga Hutan
Wujud paling nyata dari kearifan itu adalah keberadaan hutan adat yang dilindungi dengan sistem awik-awikatau aturan adat.

Beberapa poin penting dalam awik-awik hutan adat Bayan:
- Dilarang: menebang pohon sembarangan, membakar hutan, berburu, berkebun, dan segala aktivitas yang merusak lingkungan serta kesakralan kawasan.
- Diperbolehkan: kegiatan adat, penelitian, dan pariwisata. Tapi wajib mendapat izin dari tokoh adat.
- Wajib dilakukan: menanam kembali pohon, menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah di dalam hutan.


Pelanggaran tidak main-main. Sanksinya berlapis, mulai dari peringatan lisan hingga pengucilan dari wilayah adat. Proses penjatuhan sanksi dilakukan lewat mekanisme adat gundem yang melibatkan lembaga adat. Tujuannya jelas: menegakkan keadilan dan memberi efek jera agar harmoni tetap terjaga.

Konsep kosmologi Bayan ini dinilai relevan sebagai jawaban atas krisis ekologi saat ini. Alih-alih menaklukkan alam, masyarakat Bayan memilih hidup berdampingan dan menjaganya.

"Ini bukan sekadar warisan budaya. Ini adalah model pembangunan berkelanjutan yang lahir dari nilai spiritual," kata seorang pegiat lingkungan di Lombok Utara.

Dengan demikian, pembelajaran dari masyarakat Bayan bisa menjadi inspirasi bagi kebijakan pelestarian lingkungan, baik di tingkat daerah maupun nasional. @ng)