Tiga Penggerak Wisata Lombok Tengah Masuk 50 Kandidat Terbaik Pejuang Pariwisata 2026
Tampak 3 wakil Lombok Tengah yang masuk 50 kandidat terbaik Pejuang Pariwisata 2026, Foto Istimewa



Lombok Tengah,  (postkotantb.com) — Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menyambut baik masuknya tiga penggerak pariwisata daerah dalam daftar 50 Kandidat Terbaik Pejuang Pariwisata atau Local Hero in Tourism 2026.

Daftar tersebut merupakan bagian dari Wonderful Indonesia Award 2026 yang dipublikasikan oleh Kementerian Pariwisata RI. Dalam publikasi tersebut, program ini mengangkat tema “50 Penggerak, 50 Kisah, Satu Indonesia” dan menjaring kandidat dari berbagai daerah melalui proses open recruitment.

Tiga nama dari Kabupaten Lombok Tengah yang tercatat dalam daftar tersebut yakni:

40. Sri Trisnadewi, Desa Lantan, Lombok Tengah
Sri Trisnadewi dinilai sebagai sosok yang mengembangkan ekowisata berbasis kehidupan masyarakat di Desa Lantan. Melalui Pokdarwis Solah, berbagai pengalaman wisata seperti kopi tradisional, soft trekking, eco pounding, hingga Be Lantaner dikembangkan sebagai ruang keterlibatan wisatawan dalam kehidupan desa.

Gerakan tersebut turut mendorong ekonomi lokal melalui UMKM, homestay, pemuda, dan kelompok perempuan. Desa Lantan juga diperkuat melalui praktik ramah lingkungan dan inovasi seperti Pojok Digital Gumi Lantan.

41. Tantowi Surahman, Desa Wisata Adat Sasak Ende, Lombok Tengah
Tantowi Surahman tercatat sebagai penggerak pariwisata berbasis masyarakat di Desa Wisata Adat Sasak Ende. Ia mendorong pengembangan wisata yang tetap berpijak pada identitas budaya Sasak.

Di tengah geliat kawasan pariwisata Mandalika, Desa Sasak Ende hadir sebagai ruang pembelajaran budaya melalui pelibatan warga sebagai pemandu, pelaku seni, penggerak UMKM, serta penjaga tata ruang adat seperti Bale Tani dan Bale Alang.

44. Usman, Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah
Usman dari Desa Wisata Bonjeruk dinilai berhasil menggerakkan pariwisata berbasis masyarakat melalui pendidikan, budaya, dan ekonomi desa. Sejak kembali ke Bonjeruk pada 2017, ia membangun gerakan bersama pemuda melalui Pokdarwis dan Bonjeruk Learning Center.

Dari fondasi tersebut, Bonjeruk berkembang menjadi ekosistem wisata yang menyatukan ekonomi, budaya, pendidikan, dan lingkungan. Pertumbuhan UMKM, homestay, kuliner lokal, Pasar Bambu, hingga Eco Green Restaurant menjadi bagian dari penguatan kemandirian desa.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menilai capaian ini menjadi bukti bahwa kekuatan pariwisata daerah tidak hanya bertumpu pada destinasi besar, tetapi juga pada peran masyarakat, desa wisata, pelaku UMKM, pemuda, dan komunitas lokal.

Masuknya tiga penggerak wisata tersebut juga memperkuat posisi Lombok Tengah sebagai daerah yang memiliki keragaman potensi pariwisata, mulai dari ekowisata, wisata budaya, wisata edukasi, hingga pariwisata berbasis komunitas.

Pemkab Lombok Tengah menyampaikan apresiasi kepada para penggerak wisata yang telah membawa nama daerah dalam ajang nasional tersebut. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi desa wisata lain untuk terus berinovasi, menjaga identitas lokal, dan menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Irs)