Lombok Barat, (postkotantb.com) — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, TGH Mukhlis Ibrahim, mengecam keras TV One terkait penggunaan visual dan logo pesantren dalam pemberitaan kasus dugaan pembakaran seorang santri di salah satu ponpes di Kabupaten Lombok Tengah.
Menurut TGH Mukhlis, penggunaan identitas Al-Ishlahuddiny dalam tayangan tersebut adalah kekeliruan serius yang berpotensi menyesatkan publik. Ia menegaskan pesantren yang dipimpinnya sama sekali tidak terkait dengan peristiwa tersebut.
"Kami sangat menyayangkan penggunaan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny dalam pemberitaan itu. Kesalahan seperti ini bukan persoalan sepele karena dapat membentuk opini publik yang keliru dan merugikan nama baik lembaga kami," tegas TGH Mukhlis Ibrahim saat ditemui di kediamannya, Rabu malam, (15/7/2025).
Resahkan Keluarga Besar Al-Ishlahuddiny
Sejak tayangan itu beredar beberapa hari lalu, kata TGH Mukhlis, muncul reaksi keras dari keluarga besar Al-Ishlahuddiny. Mulai dari para tuan guru, alumni, santri, wali santri, hingga ribuan jamaah yang memiliki hubungan emosional dengan pesantren yang sudah berdiri sekitar 80 tahun itu.
"Nama baik lembaga ini dibangun dengan penuh pengorbanan. Kepercayaan masyarakat tidak lahir dalam semalam. Ketika identitas pesantren kami dikaitkan dengan kasus yang sama sekali tidak ada hubungannya, tentu kami merasa sangat dirugikan," ujarnya.
Ia khawatir kekeliruan tersebut menimbulkan keresahan, terutama di kalangan orang tua dan wali santri yang mempercayakan pendidikan anaknya ke Al-Ishlahuddiny.
"Kalau tidak segera diklarifikasi, dikhawatirkan muncul kesalahpahaman yang berujung pada menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan Islam yang selama ini dikenal memiliki rekam jejak baik dalam pembinaan akhlak dan karakter santri," katanya.
NCW NTB: Akurasi Visual Bagian dari Jurnalisme
Direktur NCW NTB, Faturrahman Lord, yang turut berada di lokasi juga menyayangkan kejadian tersebut. Ia menegaskan akurasi visual tidak bisa dipisahkan dari akurasi pemberitaan.
"Kesalahan dalam penggunaan gambar atau logo dapat menimbulkan fitnah, mencemarkan nama baik pihak lain, serta menimbulkan kerugian moral maupun sosial bagi lembaga yang sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa yang diberitakan," ujarnya.
Desak Klarifikasi Terbuka
Atas dasar itu, Ponpes Al-Ishlahuddiny bersama keluarga besar mendesak TV One segera menyampaikan klarifikasi terbuka dan melakukan koreksi terhadap tayangan dimaksud.
"Kami berharap TV One menunjukkan itikad baik dengan meluruskan informasi kepada publik bahwa Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri tidak memiliki hubungan apa pun dengan peristiwa tersebut. Nama baik lembaga yang telah berdiri hampir 80 tahun ini harus dijaga," tegas TGH Mukhlis.
Ia menambahkan, apabila harapan itu tidak diindahkan, pihaknya tidak dapat menjamin tidak akan muncul reaksi lebih lanjut dari keluarga besar Al-Ishlahuddiny, termasuk menempuh jalur pelaporan kepada pihak berwenang.
Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Pulau Lombok. Selama kurang lebih 8 dekade, pesantren ini telah melahirkan ribuan alumni, ratusan tuan guru, ulama, dan tokoh masyarakat. (Ramli Jamak)




0Komentar