Lombok Utara, (postkotantb.com) – Kekhidmatan dan kemeriahan kembali mewarnai pelaksanaan Maulid Adat Bayan. Ribuan warga adat dari 10 desa di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, berkumpul untuk menjaga tradisi leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Kesepuluh desa yang tergabung dalam tradisi ini adalah Desa Sambik Elen, Desa Loloan, Desa Bayan, Desa Anyar, Desa Karang Bajo, Desa Senaru, Desa Sukadana, Desa Baturakit, Desa Andalan, dan Desa Guntung Asri.

Rangkaian Tradisi Penuh Sejarah


Maulid Adat Bayan tahun ini diisi dengan 4 rangkaian utama:

1. Pawai Jong Bayan  
Replika perahu Jong Bayan diarak keliling kampung oleh pemuda adat. Pawai ini mengenang perjalanan para penyebar Islam yang pertama kali datang ke Tanah Bayan.


2. Alu Grantung
Prosesi pemukulan alu secara serentak. Dentuman alu menjadi simbol kekompakan dan persatuan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya.

3. Menutu  
Menutu artinya menumbuk padi. Warga dari seluruh 10 desa mengumpulkan padi, lalu ditumbuk bersama secara gotong royong. Beras hasil tumbukan digunakan untuk selamatan Maulid dan dibagikan kepada masyarakat.


4. Tarung Perisian 
Setelah acara Menutu selesai, pada malam harinya digelar Tarung Perisian. Pertunjukan bela diri tradisional dengan perisai dan tongkat ini dilaksanakan sebagai pengingat sejarah peperangan yang pernah dilakukan oleh nenek moyang. Tarung Perisian bukan untuk kekerasan, melainkan simbol keberanian, kedisiplinan, dan semangat menjaga tanah adat.

Makna di Balik Tradisi


Bagi masyarakat Bayan, Maulid Adat adalah bentuk syukur, silaturahmi antar desa, sekaligus pendidikan sejarah bagi generasi muda. Dari gotong royong Menutu hingga semangat juang dalam Tarung Perisian, semua rangkaian mengandung pesan persatuan dan keteguhan.

Pemerintah Kecamatan Bayan menyampaikan apresiasi karena tradisi ini terus terjaga. Ke depan, Maulid Adat Bayan diharapkan tidak hanya menjadi milik warga Bayan, tapi juga menjadi daya tarik budaya NTB yang dikenal luas.

 


“Dengan lengkapnya rangkaian mulai dari Pawai Jong Bayan sampai Tarung Perisian pada Jumat (28/08/2026), Maulid Adat Bayan menegaskan bahwa masyarakat Bayan tidak hanya menjaga nilai agama, tetapi juga sejarah dan jati diri sebagai masyarakat adat yang tangguh,” ujarnya. (Sabdanom)