Lombok Utara, (postkotantb.com)— Suasana khidmat bercampur semarak mewarnai Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Warga Adat Bayan menggelar Pawai Jong Bayan sebagai pembuka rangkaian Hari Maulid Adat Bayan, tradisi sakral tahunan warisan komunitas Wetu Telu Bayan.
Pawai berlangsung sejak pagi. Ribuan warga dari Desa Karang Bajo, Bayan, Loloan, Anyar, Sukadana, hingga Senaru berjalan beriringan menuju Kampu Karang Bajo, pusat kegiatan adat. Mereka mengenakan busana adat lengkap sambil membawa hasil bumi berupa padi, palawija, dan hasil peternakan sebagai wujud syukur atas panen.
Simbol Kebersamaan dan Penghormatan Leluhur
Jong Bayan bukan sekadar arak-arakan. Prosesi ini menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur.
Setibanya di balai adat, rombongan disambut tabuhan gong. Selanjutnya Inan Meniq menerima peserta melalui ritual Sembeq, yaitu pemberian sirih pinang di kening sebagai doa dan restu.
“Setiap detail dalam prosesi adalah bentuk komunikasi adat, baik secara simbolik maupun langsung. Dengan cara itu kami memperkenalkan nilai-nilai kepada tamu, bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan dan simbol,” ujar Rianom, tokoh adat Desa Karang Bajo, di hadapan awak media.
Rangkaian Maulid Adat Bayan 14–15 Rabi’ul Awal
Maulid Adat Bayan digelar selama 2 hari pada tanggal 14–15 Rabi’ul Awal. Usai pawai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan:
- Kayu Aiq: Pengumpulan hasil bumi dari warga yang diserahkan kepada Maq Lokaq atau Inen Gumi untuk disimpan di Kampu
- Menutu: Para perempuan menumbuk padi secara tradisional di lesung panjang _Rantok Beleq_ diiringi musik bambu _tempan
- Menghias Masjid Kuno Bayan: Pemasangan tunggul atau umbul-umbul dari bambu tutul di pojok masjid oleh kaum laki-laki
- Presean dan Meriap: Tradisi memasak bersama dan menyiapkan hidangan dalam Ancak
- Puncak Acara: Zikir, sholawat, dan doa bersama di Masjid Kuno Bayan, dilanjutkan makan bersama
Akulturasi Islam dan Budaya Leluhur
Bagi masyarakat adat Bayan, Maulid Adat bukan hanya ritual keagamaan. Ini adalah identitas kultural yang menjadi bentuk akulturasi harmonis antara ajaran Islam dan budaya leluhur. Nilai yang dijaga: gotong royong, religius, budaya, dan keindahan.
“Menjaga tradisi ini berarti menjaga keseimbangan spiritual dan sosial,” kata warga setempat.
Untuk wisatawan yang hadir, panitia mengimbau agar menghormati aturan adat, termasuk mengenakan busana tradisional.
Perayaan tahun ini kembali menegaskan bahwa Maulid Adat Bayan tetap hidup dan lestari. Pawai Jong Bayan menjadi pembuka yang meriah sekaligus pengingat bagi generasi muda akan pentingnya melestarikan warisan budaya, sembari memaknai kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan semangat syukur dan kebersamaan.
Pewarta: Sabdanom




0Komentar